Sukses

Lifestyle

Tinggal Serumah dengan Ibu Mertua, Ada Pelajaran Penting yang Kudapat

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Baiq Cynthia

Kamu tahu, semenjak menikah aku mengalami masa transisi yang besar-besaran. Kadang aku merasa insecure belum bisa menghasilkan suatu karya karena terlalu sibuk dan fokus menjadi istri dan menantu. Ya, aku masih belum mandiri secara finansial. Suamiku juga masih ingin tinggal bersama dengan ibunya. Selain karena faktor ekonomi, ia mengkhawatirkanku jika mengatur segala sesuatu sendiri.

Hal paling tidak bisa dilupakan, aku belum terbiasa dengan ritme rutinitas ibu mertuaku. Beliau sangat pagi sudah beraktivitas dan istirahat malam lebih awal. Sementara aku yang terbiasa begadang, akan kewalahan kalau bangun sebelum ayam berkokok. Kalau aku masih tiduran, khawatir pikiran orang terdekat mengungkapkan menjadi ‘menantu malas’. Who knows? Setiap orang tentu akan menilai berdasarkan apa yang mereka lihat, bukan?

Alih-alih aku bisa santai, rebahan atau sambil mengobrol, setiap hari rutinitas seorang ibu itu tidak ada putus. Belanja, masak, bersih-bersih, nyuci dan tidak ada absennya. Selalu ada keinginan untuk tinggal sendiri, berdua dengan suami. Karena bagi aku ada jadwal tersendiri, tidak harus mencuci setiap hari. Nah, waktu paling penting untuk menulis. Namun, tinggal bareng sama ibu mertua aku sampai sungkan mau melanjutkan hobi menulisku. Aku sendiri hanya mementingkan masalah pribadi.

Tetapi di balik pikiran ibu bermacam-macam. Mulai dari anaknya, masalah menantunya, masalah rumah tangga iparnya. Saudaranya dan rasanya setiap hari banyak orang meminta tolong kepadanya. Luar biasanya ibu tidak pernah sanggup menolak.

Ia kadang masih harus kerepotan mengurus anaknya yang sudah menikah, cucunya yang sakit, tetangga minta tolong bahu-membahu acara nikahan, acara kerja bakti, dll. Namun, ibu selalu tersenyum. Tidak pernah kata marah atau keluhan itu terlontar. Bahkan ia begitu perhatian kepada kami.

Sementara aku? Harusnya lebih kuat lagi. Namun, ketika perut buncit ini memaksaku untuk banyak istirahat, aku tidak bisa apa-apa. Memikirkan kondisi kesehatan dan keadaan janin. Kadang juga ngidam makanan yang tidak ada di desaku.

Well, kadang risih kalau ada tamu dari ibu yang datang. Melihat aku cuma di kamar. Padahal di kamar pun aku sibuk ngotak-ngatik laptop dan cucian sekeluarga yang belum dilipat.

Ketika waktunya aku melahirkan, ibu mertua yang paling khawatir. Ia pun paling waspada soal kehamilanku. Memberikan makanan kesukaan, membelikan perlengkapan saat lahiran tiba. Mulai dari kasur, selimut bayi, pakaian bayi, dll. Padahal aku ingin membeli sendiri, apa daya suami masih memiliki gaji pas-pasan.

Kadang aku malu dengan diri ini yang belum bisa membalas jasanya yang terlalu banyak. Ketika anak memasuki usia setahun, aku mulai membuka usaha jualan makanan secara online. Lumayan yang pesan. Tetapi ibu tidak mau menerima sebagian hasil penjualan makanan dariku. Ia bilang melihat pesanan yang banyak sudah merasa senang.

Ia tersenyum padaku, ibu itu kuat banget. Kok bisa ya? Masih bisa tersenyum walaupun masalah bertubi-tubi menghampirinya. Mulai dari masalah keluarga inti, anaknya yang masih sekolah (yang bungsu) bahkan masalah dari kerabat suaminya. Ia mendukung untuk menyelesaikan masalah saudara suaminya.

Pesan Penting dari Ibu Mertua

Ketika kutanya suatu hari, “Mi, jenengan mboten punya masalah?" Ia selalu tersenyum dan tertawa.”

Ia menjawab, “Kata siapa? Banyak dipikirkan. Semua masalah seakan datang-satu persatu. Tapi enggak pernah dibuat ribet.”

“Hmm… terus bagaimana supaya jadi tegar dan enggak mengeluh?”

“Ya dibawa santai saja. Makanya Umi suka keluar dan mencari suasana baru. Agar pikiran tidak kusut. Banyak-banyak ketemu orang baru. Supaya bisa menambah kebahagiaan. Nanti bisa menemukan solusinya sendiri. Ya, kalau di rumah terus maka masalah cuma berputar di situ saja.”

Aku makin bersemangat, bahwa masalah yang kini aku hadapi masih belum selevel ibu mertuaku. Tetapi, ia selalu tersenyum saja dalam kondisi apa pun dan bagaimana pun.

“Karena itu, semakin banyak rintangan yang dihadapi dan kesulitan yang dilalui, maka level kesulitan hidup makin naik. Nanti pada akhirnya bisa memetik hasil bahagia tersendiri,” sahutnya lagi.

Kesulitan itu pasti ada hikmahnya, dan dengan senyum setidaknya hati ini menerima dengan ikhlas permasalahan yang dilalui. Nanti, pasti ketemu jalan keluarnya. Kalau sedih dan cemberut siapa yang akan suka melihatnya?

Be yourself, sekalipun kamu terjatuh. Bangkit perlahan dengan senyuman. Karena senyum itu bisa menghadirkan energi positif. Juga dengan senyum vibrasi positif akan berubah menjadi inner beauty.

Oh iya, ada pesan dari ibu mertuaku. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan, tinggalkan yang sekiranya berat. Kalau sudah tidak sanggup ya jangan dipaksa. Perempuan itu harus lebih kuat 10 kali dari laki-laki. Karena tugas perempuan bukan hanya ngurusi rumah tangga, juga masih harus menjaga dan membimbing anak. Lalu, bisa berkontribusi nyata kepada sekitar. Tanpa keluhan dan kesedihan.

Oleh karena itu penting untuk selalu tersenyum. Selain membuat wajah awet muda juga menumbukan citra lebih dewasa.

#ElevateWomen

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Vertigo adalah Kondisi Sakit Kepala yang Berat, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
Artikel Selanjutnya
BPJS Kesehatan, dari Kenaikan Iuran hingga Lowongan Kerja