Sukses

Lifestyle

Perlahan Tapi Pasti, Diet Tak Perlu Tergesa-gesa untuk Tubuh Ideal dan Bebas Obesitas

Fimela.com, Jakarta Diet menjadi salah satu cara menurunkan berat badan untuk mencegah obesitas. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, 1 dari 3 orang dewasa Indonesia mengalami obesitas, dan 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas .

dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes., Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI mengatakan obesitas di Indonesia melonjak dengan mengkhawatirkan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 juga menunjukkan bahwa tren masalah berat badan pada orang dewasa Indonesia telah mengalami peningkatan hampir dua kali lipat.

"Kita harus benar-benar menekan tren peningkatan obesitas ini,“ ujar dr. Cut dalam diskusi Media bersama Novo Nordisk: Jangan Anggap Remeh Obesitas, si Penyakit Kronis Serius’.

Namun, ketika memutuskan untuk melakukan diet sebaiknya tidak perlu terburu-buru atau ingin menurunkan berat badan secara drastis dengan menerapakan diet ketat.

Ketua umum Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) DR. dr. Nurpudji Taslim. Sp.KG.(K), MPH., menyarankan, diet yang sehat sebaiknya dilakukan dengan defisit kalori maksimal 1.000 dalam seminggu.

"Seminggu itu disarankan hanya 500 sampai 1.000 kalori perminggu. Atau menurunkan 3-4 jilo dalam sebulan," ujar dr. Nurpudji.

dr. Nurpudji juga mengatakan penurunan badan secara perlahan lebih aman dan akan stabil, biasanya jika turun cepat, naiknya pun akan cepat.

"Menurunkan 10 persen dari berat badan, misalnya dari 80 jadi 72, itu sudah bisa menurunkan 30 persen dari parameter yang ada. Misalnya HDL sudah turun, kolesterol sudah turun. Lebih baik stabil, secara perlahan-lahan dia akan kembali ke arah normal," tambahnya.

Sindrom yoyo

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD., mengatakan diet dengan turun berat badan secara drastis juga berisiko menyebabkan sindrom yoyo.

"Kalau penurunan berat badan yang terlalu cepat itu terjadi sindrom yoyo. Jadi kalau terlalu cepat, naiknya lagi jadi lebih cepat bahkan lebih banyak. Jadi kita anjurkan penurunan berat badan gradual tapi tetap dipertahankan penurunan berat badannya sesuai dengan yang diinginkan," ungkapnya.

Jika sudah ada bakat gemuk atau genetik dari orang tua, dr. Nurpudji menyarankan mengontrol gaya hidup dengan konsumsi makanan sehat seperti tidak mengonsumsi tinggi garam. Jika tidak dikontrol, berat badan akan meningkat cepat hingga obesitas.

"Kedua orang tua gemuk, 80 persen pasti anak akan gemuk, jika salah satu orang tua gemuk 40 persen anak akan gemuk. Jika sudah tau ada genetik gemuk, baiknya menerapkan gaya hidup sehat," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, dr. Fahad Jameel, Medical Director Novo Nordisk Indonesia mengatakan, obesitas merupakan penyakit kronis serius yang harus menjadi prioritas utama kesehatan masyarakat, mengingat hubungannya dengan banyak penyakit serius lainnya dan beban sosial ekonomi yang besar.

"Sebagai perusahaan kesehatan global terkemuka, Novo Nordisk berkomitmen untuk menjadikan obesitas sebuah prioritas kesehatan. Changing Obesity™ adalah komitmen jangka panjang kami bersama dengan berbagai rekan kami, untuk meningkatkan kehidupan para penderita obesitas dengan mengubah bagaimana sektor kesehatan di dunia melihat, mencegah, dan menangani obesitas," ungkapnya.

 

 

#elevate women

Loading