Sukses

Lifestyle

Kisah Haru Perempuan yang Hidup dengan Fobia pada Kehamilan dan Kelahiran

Fimela.com, Jakarta Banyak perempuan melihat pengumuman kehamilan dan dengan lembut mengenang pengalaman mereka sendiri atau merasa iri dengan calon ibu. Banyak perempuan melihat ibu hamil dan memikirkan mimpi yang terwujud.

Banyak perempuan melihat perut hamil dan tertarik padanya, seringkali ingin menyentuhnya. Danielle Steiner bukan salah satu dari perempuan itu.

Danielle melihat pengumuman kehamilan dan mengalami reaksi negatif mendalam terkait dengan teror keguguran, lahir mati, dan penyakit. Ia melihat seorang ibu hamil dan membayangkan rasa sakit tak tertahankan, robekan, pendarahan, dan jeritan.

Ia melihat perut hamil dan instingnya adalah mundur untuk menghindari kemungkinan diajak menyentuhnya. Danielle sangat takut akan kehamilan dan melahirkan.

Yang Danielle bicarakan adalah ketakutan yang parah dan melemahkan. Ia menangis ketika mempertimbangkan kemungkinan untuk hamil.

Ia merasa sakit secara fisik dengan gagasan tentang tubuh yang tumbuh di dalam intinya. Bahkan terlambat satu hari menstruasi dapat memicu serangan paniknya.

Danielle tidak membenci anak-anak. Sebaliknya, ia selalu mencintai anak-anak dan merangkul imajinasi mereka, serta dengan senang hati memainkan karakter apapun yang dibutuhkan untuk permainan mereka.

Ia benar-benar merayakannya dengan teman dan keluarganya ketika mereka mengumumkan bahwa mereka memperbesar keluarga karena Danielle senang melihat mereka sebagai orangtua dan ia suka menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka.

 

 

Danielle mengalami tokofobia, seseorang yang mengalami ketakutan luar biasa pada kehamilan dan kelahiran

Danielle adalah seseorang yang menderita tokofobia. Tokofobia adalah ketakutan akan kehamilan dan persalinan yang sangat ekstrim, sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari dan secara aktif mencegah seseorang untuk hamil.

Ada 2 jenis, yaitu tokofobia primer yang adalah ketakutan akan kehamilan dan persalinan pada perempuan yang belum pernah hamil atau melahirkan, sedangkan tokofobia sekunder terjadi setelah seorang perempuan memiliki anak dan mungkin karena kehamilan atau kelahiran traumatis, mengembangkan ketakutan yang mencakup segalanya untuk hamil lagi. Danielle menderita tokofobia primer, karena ia belum pernah hamil.

Suaminya tahu tentang ketakutan ini ketika ia menikahi Danielle dan mengerti ia tidak akan pernah melahirkan anak-anaknya. Pernikahan mereka selama 8 tahun bertahan kuat dan segalanya berjalan sempurna seperti yang diharapkan.

Suaminya sangat mencintai Danielle dan begitu juga sebaliknya. Tapi tokofobia adalah pasangan ketiga yang selalu ada di kamar tidur mereka.

Ketika secara fisik mereka mengungkapkan cinta mereka, mereka melakukannya dengan menggunakan minimal 2 bentuk pengendalian kelahiran. Kemudian, Danielle harus menunggu sepanjang bulan untuk menstruasi kembali.

Tentu saja, ini sulit untuk sebuah pernikahan. Ia sering dengan lembut mendorong suaminya menjauh karena saat berhubungan seks, ia dipenuhi teror.

Penolakan Danielle untuk berhubungan seks bisa terasa seperti penolakan pribadi kepada suaminya. Apakah Danielle tidak mencintai suaminya? Apa Danielle sudah tidak menganggap suaminya menarik? Atau apakah suaminya melakukan sesuatu yang salah?

Ini semua adalah hal-hal yang harus mereka tangani dengan percakapan yang sulit dan mendalam, mereka alami selama bertahun-tahun saat menangani tokofobianya. Sementara percakapan ini membuat mereka rentan, Danielle juga yakin bahwa ada keintiman yang penting bagi kekuatan dan kelangsungan pernikahan mereka.

Danielle berusaha menghadapi fobia yang ia derita

Ini telah memaksa mereka untuk berkomunikasi secara teratur dan jelas tentang perasaan mereka masing-masing tentang topik tersebut, sebuah praktik yang berguna untuk situasi lain dalam hidup mereka bersama. Ini telah menciptakan hubungan yang sangat jujur dan bermakna.

Perempuan yang memiliki ketakutan luar biasa seperti Danielle biasanya tidak membicarakannya karena orang lain tidak mengerti. Tokofobia yang dialaminya membuatnya sangat malu.

Ia tidak bisa memahami teman-temannya yang sedang hami atau sedang mencoba untuk hamil. Ia tidak dapat mendengar cerita tentang kelahiran mereka yang indah.

Berbagai komentar yang sebenarnya bermaksud baik, justru membuat Danielle tidak dianggap sebagai seorang perempuan. Ia telah merasakan hal ini sepanjang hidupnya.

Lalu, berbekal pengetahuan dan terminologi yang baru ditemukannya, Danielle pergi ke dokter. Di titik itu, Danielle juga mengalami kecemasan umum yang parah, selain ketakutan seumur hidupnya.

Dokternya percaya bahwa obat yang diresepkannya untuk membantu mengatasi kecemasan umum juga akan mengatasi gejala tokofobianya. Namun, bahkan ketika kecemasannya sehari-hari terkendali, ketakutannya akan kehamilan dan persalinan tetap kuat seperti sebelumnya.

Akhirnya, Danielle dan suaminya memutuskan untuk melakukan histerektomi atau vasektomi. Mungkin Danielle akan menjadi seorang ibu suatu hari nanti, namun ia hampir pasti dapat memberi tahu orang lain bahwa ia tidak akan melahirkan anak-anaknya sendiri.

Setelah mengatasi ketakutan sepanjang hidupnya ini, ia perlahan-lahan belajar bahwa meskipun itu adalah bagian besar dari dirinya, itu bukanlah identitasnya secara keseluruhan. Ia tidak kurang dari seorang perempuan, karena perempuan seharusnya tidak didasarkan pada kemampuan melahirkan anak, terlepas dari alasan fisik, mental, keuangan atau pribadi yang tidak menginginkan anak kandung.

Menjadi seorang perempuan bagi Danielle lebih dari sekedar biologi. Bagaimana menurutmu, Sahabat FIMELA?

#Elevate Women

Loading
Artikel Selanjutnya
Tips Bisnis Ala Pengusaha Sukses Asal Kota Blitar
Artikel Selanjutnya
Ada Eks Member GFriend, Ini 4 Artis Andalan Sublime Artist Agency