Sukses

Lifestyle

Ini Ramadan ke-29 sejak Hijrahku Memutuskan untuk Berjilbab

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Muharni Albari

Bersyukur kepada Allah ketika masih diberi kesempatan bertemu Ramadan yang mulia di tahun ini. Di saat usia telah memasuki kepala empat. Alhamdulillah meski Ramadan 2 tahun belakangan ini lebih banyak beraktivitas ibadah di rumah karena pandemi, ternyata tidak mengurangi semangat untuk istiqomah beribadah. Malah lebih fokus, karena tidak banyak aktivitas luar yang kadang menguras waktu, membuat komitmen diri untuk melakukan ibadah unggulan seperti khatam tilawah kadang tergeser bahkan ambyar hanya sekadar obsesi tanpa aksi.

Jadi teringat momen Ramadan 29 tahun lalu, saat itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Sekolahku adalah salah satu SMA negeri favorit di kotaku tapi cita rasanya seperti pondok pesantren. Itu menurut penilaian masyarakat saat itu. Bagaimana tidak? Karena di era awal tahun 90an di sekolahku banyak bermunculan siswi berjilbab, padahal jilbab masih dilarang saat itu. Hal ini karena sejak 2 tahun sebelum aku jadi siswa di sana sudah ada program pesantren kilat yang diadakan oleh kakak-kakak di Rohis SMA selain program kajian rutin pekanan tentunya. Dua program ini wajib diikuti seluruh murid yang muslim kelas 1. Nah, jadilah pasca pesantren kilat itu momen hijrahnya sebagian kami.

Sama seperti kebanyakan remaja, jujur saja sebenarnya awal-awal aku malas banget ikutan peskil ini. Mengingat satu pekan harus menginap di sekolah. Acaranya menurutku pastilah monoton seputar ngaji, salat, dan ceramah saja. Tapi karena wajib dan berimbas pada nilai agama di rapor jadilah aku dan kawan-kawan mengikuti program tersebut.              

Hari pertama banyak dari kami yang mengeluh bosan tapi kakak-kakak kelas sebagai mentor dengan telaten mendampingi kami. Hari kedua kegiatan lebih variatif dan puncaknya di hari terakhir di mana ada pementasan seni dan kreasi masing-masing kelompok serta malam muhasabah. Saat terakhir inilah banyak dari kami menangis dan mulai menyadari hakikat hidup, Islam yang menentramkan dan Ramadan yang menjadi pengingat diri.

Mendapat Hidayah

Hari pertama masuk sekolah setelah mengikuti peskil, dalam rasa ragu aku memutuskan coba-coba untuk menggunakan jilbab ke sekolah. Satu pekan saat peskil membuat aku mulai terbiasa menutup aurat dan mulai merasa tidak nyaman ketika tidak memakainya saat ke luar rumah.

Akhirnya aku bilang ke mama kalau aku mau pakai jilbab ke sekolah. Mama bilang, "Terserah kamu, selama Ramadan saja ya?" Aku bilang belum tahu. Tapi sepertinya beliau tidak terlalu mempermasalahkan karena beberapa temanku yang sering main ke rumah pakai jilbab dan mereka begitu sopan pada mama. Di sekolah aku bilang ke teman sebangku kalau aku hanya ingin pakai jilbab selama Ramadan saja dulu.

Saat istirahat pertama, banyak teman-temanku yang merasa terkejut melihatku. Sebagian mengapresiasi penampilanku dan mendoakan agar aku istiqomah. Meskipun ada juga yang sebagian menyayangkan keputusanku. Meraka adalah teman-temanku di tim vokal grup sekolah. Dan berita hijrahku pun sampai ke kakak-kakak mentor jadilah semua juga menghampiri dan memberi selamat serta mendoakan. Saat pulang aku jadi berpikir kalau aku tak mungkin lagi sekadar coba-coba dengan jilbabku karena semua sudah tahu perubahan penampilanku.

Besok aku harus pakai jilbab terus ke sekolah. Ya Allah, aku harus putuskan sekarang. Aku teringat pesan mentorku berbuatlah sesuatu kebaikan itu karena keikhlasan kepada Allah bukan karena terpaksa atau karena penilaian manusia. Jika kita melakukan karena Allah kita akan senantiasa istiqomah dan merasa mudah melakukannya. Hal tersebut jadi bernilai pahala dan rida Allah. Akhirnya dengan meluruskan niat, bismillah mulai saat itu aku mantap berjilbab rapi.

Setiap waktu senantiasa menguatkan komitmen untuk istiqomah hijrah dalam kebaikan dan kebenaran. Hari ini, di sepuluh hari terakhir Ramadan, aku kembali diingatkan akan waktu yang akan berlalu. Ramadan yang akan meninggalkan diri kita. Entah apakah kita bisa bertemu lagi dengan Ramadan di tahun yang akan datang.

Saat kupandangi wajahku di cermin, tanpa bisa kutahan gerimis membasahi mataku. Jilbab yang kupakai pertama di masa putih abu-abu, semoga tetap terus terbalut rapi kukenakan hingga saat masa hidupku berakhir, dan semoga semakin baik pula akhlakku kepada Rabb dan makhlukNya.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Sebagai Hari Kemenangan, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Idul Fitri
Artikel Selanjutnya
5 Cara Mengolah Sisa Makanan Lebaran jadi Masakan Lezat