Sukses

Lifestyle

Bukan Pengemis atau Tukang Parkir, Belajarlah dari Bapak Tua Ini

Fimela.com, Jakarta Pengemis dan tukang parkir, bisa jadi itu adalah dua profesi yang paling banyak menyita masyarakat Indonesia. Meskipun sudah ada Undang-undang atau larangan soal pengemis dan gelandangan— Pasal 504 dan Pasal 505 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 40 Perda DKI Jakarta 8/2007, namun mereka masih juga menghiasi Ibu Kota Jakarta.

Terkadang kasihan, tapi setelah tahu bahwa banyak pengemis yang hanya berpura-pura sakit, atau bahkan pengemis yang ternyata kaya, pasti bawaannya langsung kesal, kan? Nah, selain pengemis, profesi yang juga suka membuat kesal adalah tukang parkir. Waktu dateng nggak ada, eh, giliran mau pulang tiba-tiba si tukang parkir nongol, sebenarnya apa sih pekerjaan dia?

Nggak heran kalau dua profesi tersebut banyak tidak disukai oleh masyarakat Indonesia. Namun kali ini Bintang.com tidak akan membahas soal pelajaran hidup yang dapat dipetik dari dua profesi tersebut, karena ada sebuah profesi yang nyatanya bekerja lebih nyata, yakni tukang potong rumput keliling.

Cari rezeki yang halal memang susah, tapi bukannya nggak ada sama sekali, mereka yang mau berusaha pasti bisa mendapatkannya, salah satunya adalah bapak tua bernama Rastoni ini. Kisah Pak Rastoni kini tengah viral, usianya 65 tahun, tapi dia masih setia menenteng cangkulnya dan membawanya keliling kota.

“Seneng, lagi-lagi dipertemukan dengan orang hebat, yang gigih menyusuri (literally) jalanan demi menjemput rezekiNya. Nama beliau, Pak Rastoni, umurnya 65 tahun. Gak sengaja ketemu si bapak, Rabu, 28 September, jam 10-an pagi, di depan pasar modern Bintaro. Beliau nenteng cangkul. "Lagi ngider cari kerjaan," kata si bapak,” begitulah cerita tentang Pak Rastoni yang sudah tersebar di dunia maya.

Pak Rastoni bersama handphone baru yang dibelikan oleh seorang netizen untuk mempermudahkan Pak Rastoni dalam menerima panggilan untuk bekerja sebagai tukang potong rumput. (Foto: Facebook/Onetho Khaizan)

Diceritakan bahwa Pak Rastoni tinggal disebuah kontrakan di dekat cluster Permata Bintaro, harga kontrakannya Rp10 ribu per-minggu. Jangan tanya sebesar apa kontakannya, karena tempat tinggal Pak Rastoni hanyalah berupa halaman kecil yang ada disamping sebuah warung, Pak Satroni pun hanya tidur menggunakan meja, dan meja tersebutlah kontrakan Pak Satroni.

Sebenarnya Pak Satroni tidak hidup sendirian, dalam posting-an Facebook Onetho khaizan terlihat dalam perbincangan Pak Satroni bercerita bahwa ia memiliki istri, serta dua orang anak, dan dua orang cucu yang tinggal di Brebes. Ia terpaksa harus tetap bekerja karena harus menafkahi keluarganya di kampung.

Di usianya yang sudah tak lagi muda, ia hanya mampu bekerja sebagai tukang cabut rumput keliling atau pekerjaan apapun yang orang tawarkan kepadanya. Bermodalkan cangkul ia berjalan keliling kota Jakarta, bahkan terkadang ia pernah dua minggu keliling namun tak ada satupun pekerjaan yang menghampirinya.

Tapi, meskipun sulit, ia tetap setia menjalani pekerjaannya, atau lebih tepatnya menjalani pekerjaan yang masih mampu dikerjakannya. Karena sebagai orang tua tentu saja bapak yang satu ini berharap bisa istirahat di rumah dan bermain bersama cucu-cucunya.

Kegigihan Pak Satroni dalam bekerja membuktikan bahwa masih banyak pekerjaan halal yang tidak menyusahkan orang lain yang bisa dilakukan, tinggal sejauh mana kita berusaha dan tak pernah lelah untuk mencarinya. Capek itu pasti, tapi ketika rasa lelah itu datang, maka ingatlah bahwa ada keluarga yang tengah menunggu di rumah, mereka yang menaruh harapannya padamu.

What's On Fimela
Loading