Sukses

Lifestyle

Melihat Realitas Pandemi COVID-19 yang Terjadi di India dari Lansia Penerima Donor Jantung

Fimela.com, Jakarta Di tahun 2018, saat usianya 69 tahun, Viney Kirpal menjalani transplantasi jantung, intervensi bedah berisiko yang menyelamatkan hidupnya. Viney tinggal di India dan sejak lonjakan COVID-19 terbaru membanjiri negara tersebut, ia sering bertanya-tanya kepada diri sendiri, "Apa ia selamat untuk mati karena penyakit pandemi ini?"

Sejak tahun lalu, Viney hidup seperti seorang pertapa. Ia adalah seorang perempuan lajang, tanpa pasangan atau keluarga dekat.

Selama 15 bulan, Viney belum pernah melihat saudara perempuan, saudara laki-laki, pasangan, atau anak-anak mereka. Bahkan melakukan panggilan video tidak terasa sama seperti duduk dengan mereka, menurut Viney.

Ia membeli bahan makanan secara online, pengantar meninggalkan barang di depan pintu, ia memakai masker dan pelindung wajah sebelum keluar rumah, Viney terlalu takut terkena COVID-19. Dengan adanya pandemi atau tidak, sebagai penerima transplantasi organ padat atau SOT, Viney memakai masker di luar ruangan, menghindari keramaian, dan menjaga jarak pergaulan dengan orang lain.

Penerima SOT mudah terinfeksi. Setiap tahun, Viney menerima vaksin flu, tapi ia masih terserang flu dan batuk, setidaknya dua kali.

Saat ini, Viney dalam pengobatan untuk menjaga kekebalannya yang rendah dan untuk mencegah tubuhnya menolak jantung donor. Ketika COVID-19 pertama kali menyerang kotanya Pune, tahun lalu, Viney benar-benar menutup pintu apartemennya dan tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke sana.

Viney terbiasa sendirian, ia tidak pernah merasa kesepian sebelumnya. Sebaliknya, Viney menyukai kesendirian dan menikmati duduk, membaca, dan menulis, tapi sekarang tidak lagi, ia merasa sedih dan takut karena ia harus terus tinggal di dalam rumah.

 

 

Viney mengalami kecemasan berlebihan karena kondisinya dan lonjakan kasus COVID-19 di India

Lonjakan kasus yang kedua, Viney semakin cemas. Gelombang baru COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya telah membuat semua orang hancur dan terpana.

Sekitar 250.000 infeksi dan 4.000 kematian dilaporkan setiap hari, walaupun angka sebenarnya mungkin lebih tinggi. Ini adalah statistik yang mengkhawatirkan dan membuat Viney panik.

Lebih dari 300.000 orang telah meninggal di India karena COVID-19, sejak tahun 2020. Banyak dari orang dewasa yang tetap tinggal di rumah, mematuhi semua protokol kesehatan, berusaha sebaik mungkin untuk menghindari infeksi, namun tidak sedikit yang masih berkeliaran di tengah pandemi.

Viney melihat banyak anak muda yang terlalu percaya diri, lelah dengan pembatasan dan para pemimpin politik yang sembrono mengabaikan tindakan pencegahan, serta mengadakan rapat umum pemilihan besar-besaran selama berminggu-minggu. Bagi para pemimpin ini, mendapatkan kekuasaan lebih penting daripada rakyat yang terinfeksi.

Viney semakin cemas karena ia tidak dapat mengunjungi pusat perawatan kesehatan untuk pemeriksaan rutin bulanannya. Dengan jutaan pasien COVID-19 yang dilarikan ke pusat kesehatan dan rumah sakit setiap hari dan banyak yang ditolak karena kekurangan kamar, dengan laporan tentang orang-orang yang terengah-engah dan sekarat tanpa oksigen dan ventilator, siapa memang yang bisa tetap normal secara mental?

Varian baru sangat mudah menular. Gelombang ini menyerang seluruh populasi tidak seperti gelombang pertama, yang merenggut nyawa sebagian besar lansia.

Di Delhi, ibu kota India, sepupu Viney dan keluarga mereka terinfeksi virus Corona. Hampir setiap keluarga di Delhi kehilangan satu atau lebih anggota karena pandemi dan ini menurut Viney, memilukan.

Situasi kritis di India karena lonjakan kasus COVID-19

Tidak ada tempat kremasi yang tersisa untuk membuang jenazah, tidak ada tempat pemakaman untuk mengistirahatkan jenazah. Gambar-gambar di televisi tentang kantong jenazah yang dibuang begitu saja di tempat parkir sebuah rumah sakit dan ratusan mayat membengkak mengapung di sungai Gangga, membuat Viney menangis, ia tidak bisa tidur di malam hari.

Denyut jantungnya melonjak hingga 190 detak per menit yang tidak normal, ketika detak jantungnya yang normal adalah antara 90 dan 110. Ia merasa lemah dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, ada perasaan tidak berdaya yang tumbuh dalam dirinya, Viney membayangkan akhirnya sudah dekat.

Kesulitannya bertambah saat Viney membaca penelitian baru tentang penerima SOT yang lebih tua mungkin tidak dapat menghasilkan antibodi yang cukup untuk melawan COVID-19, bahkan setelah vaksinasi. Perlu dicatat bahwa para ilmuwan mengeluarkan penerima SOT dari uji klinis dalam urgensi menemukan vaksin untuk mayoritas yang lebih sehat.

Bahkan saat ini, sepertinya tidak ada yang terlalu tertarik mencari vaksin untuk penerima SOT. Selama penguncian di Pune antara pertengahan bulan April dan pertengahan Mei, polisi mengumpulkan denda sebesar 1,785 juta rupee dari sekitar 350.000 orang yang melanggar protokol COVID-19 di depan umum.

Setiap orang memiliki pilihan untuk tetap terlindungi, tapi beberapa tidak pernah bisa memahami keuntungan mereka. Jutaan orang lainnya, seperti dokter, pekerja perawatan kesehatan, dan penyedia layanan penting tidak punya pilihan, mereka harus merawat pasien yang terinfeksi.

Viney juga punya pilihan, pilihan untuk tinggal di dalam rumah. Pikiran itu sangat meredakan ketakutan dan kecemasan sosial yang dirasakannya.

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
4 Fakta Soal Deteksi Dini COVID-19 ala Thailand dengan Keringat Ketiak
Artikel Selanjutnya
Pakar: Menyentuh Buah dan Sayuran di Pasar Bisa Sebabkan Penyebaran COVID-19