Sukses

Lifestyle

10 Tahun Mengidap Anoreksia, Vanessa Dueck Berhasil Ikut Uji Coba Olimpiade karena Lari

Fimela.com, Jakarta Suatu malam, saat Vanessa Dueck berusia 13 tahun, ayahnya bertanya apakah ia ingin lari. Vanessa belum pernah berlari sebelumnya, tapi ia pikir jika ayahnya bisa melakukannya, maka ia juga bisa.

Sejak saat itu, Vanessa mulai lebih sering lari dengan sang ayah. Ayahnya tidak pernah mempersoalkan waktu, mereka hanya pergi keluar dan menikmatinya.

Ibu Vanessa berkata bahwa ia tidak terkejut bahwa Vanessa suka berlari, karena suatu saat ia pernah membawa Vanessa yang baru berusia 3 tahun dan saudara-saudaranya ke taman yang memiliki lintasan lari, dan Vanessa berlari tanpa henti di sana. Ibunya mengatakan bahwa Vanessa memang dilahirkan untuk berlari.

Sayangnya, di usia 15 tahun, semuanya runtuh. Masa kanak-kanaknya yang polos hilang dan Vanessa mengidap penyakit mental anoreksia saat ia berada di kelas 9.

Selama tahun itu, Vanessa kecanduan olahraga dan tidak makan apapun, kecintaannya pada lari berubah menjadi ritual yang harus dilakukan. Seperti yang sering terjadi pada penyakit anoreksia tanpa perawatan yang tepat, Vanessa mencapai titik di mana tubuhnya tidak bisa berfungsi lagi dengan kapasitas maksimal karena ia kelaparan.

Vanessa mulai memakan apa saja yang terlihat dan dengan cepat memasuki bulimia parah. Ia kesulitan lari lagi karena kadar elektrolitnya akan membuatnya bingung dan sering merasa tertekan.

 

 

Vanessa sempat menjalani rawat inap untuk penyakit mental yang diidapnya

Ia mencoba bergabung dengan kelompok lari untuk menjaga dirinya terhubung dengan dunia, namun tidak berhasil, hingga Vanessa harus menjalani program perawatan inap. Ia ingin pulih dan memandang waktunya di rumah sakit sebagai satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan kembali hidupnya.

Setelah berhasil menyelesaikan program tersebut, Vanessa melanjutkan rekomendasi yang dipandu dengan tepat, yaitu 3 kali makan dan 2 kali snack, tidak ada pengecualian, dan ia tidak boleh berolahraga selama perawatan. Ia ingin berlari dan untuk pertama kalinya dalam satu dekade, ia merasa sehat dan kuat.

Akhirnya, Vanessa berkonsultasi dengan terapisnya dan diizinkan untuk berlari, jadi ia melakukannya. Empat tahun setelahnya, Vanessa menjalani gaya hidup sehat yang kemudian penyakit mentalnya kembali.

Ia kembali mengasingkan diri dan terlibat dalam perilaku yang ia tahu akan menghancurkan hidupnya lagi. Lalu, ia mencoba mengarahkan energinya ke aktivitas yang ia cintai, yaitu lari lebih cepat.

Vanessa belum pernah melakukan latihan kecepatan sebelumnya dan ia menyakinkan diri untuk mencobanya. Ia mencari tahu tentang apa yang diperlukan untuk lolos ke Boston Marathon dan mencobanya.

Ia selalu bangun jam 4 pagi dan berlatih secara rutin, setiap hari selama 4 bulan. Hasilnya, Vanessa mampu mempertahankan kondisi mental yang sehat, karena energinya ditransmisikan untuk berlari di pagi hari, menjaga kesehatan fisik, serta nutrisi yang tepat setiap hari.

Vanessa berhasil mengikuti Boston Marathon dan bermimpi untuk bisa mengikuti Olimpiade

Setelah mencapai tujuannya di Boston Marathon, Vanessa mulai memperhatikan atlet perempuan profesional di bidang maraton. Ia diam-diam mulai bertanya-tanya apakah dirinya memiliki kesempatan untuk ikut uji coba maraton Olimpiade.

Tapi Vanessa menyimpan mimpi ini untuk dirinya sendiri sambil terus berlatih keras. Ia memutuskan untuk tidak mengeluarkan banyak uang ke dalam usahanya, selain untuk membeli sepatu kets, yang harus ia ganti setiap 2 bulan karena jarak tempuh yang jauh.

Saat itu, Vanessa hanya memiliki energi berlebih, kecintaan pada lari, dan rencana pelatihan yang dimodifikasi untuk dirinya sendiri. Vanessa mulai berlatih keras di treadmill di garasinya untuk mendapatkan kecepatan yang tepat dan tanpa musik apapun, guna melatih mentalnya, karena pelari yang mencoba memenuhi syarat untuk uji coba maraton Olimpiade tidak diperbolehkan memainkan musik apapun selama perlombaan.

Setelah 1 tahun, Vanessa menempati posisi kedua dalam lomba lari setengah maraton. Vanessa berencana mencapai waktu kualifikasi untuk uji coba Olimpiade di tahun 2022 dan bersaing di Atlanta dalam maraton di tahun 2024.

Sekarang, lari adalah bagian dari diri Vanessa yang menyelamatkannya dari penyakit mentalnya selama lebih dari satu dekade. Lari menuntunnya untuk menjadi dirinya yang sekarang, ia memang dilahirkan untuk berlari.

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
3 Atlet Olimpiade & Paralimpiade Tokyo 2020 Raih Apresiasi dari Uang Tunai Hingga SmartWatch
Artikel Selanjutnya
Haru, Atlet Polandia Lelang Medali Olimpiade Tokyo demi Selamatkan Bayi