Sukses

Lifestyle

Meski Raga Tak Lagi di Dunia, Cinta dan Ajaran Papa Abadi dalam Jiwa

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Luh Manik Sinta Nareswari

Meskipun sudah hampir setengah windu berpulang, terkadang rasa rindu pada Papa masih sangat sebegitunya bergejolak dalam dada. Cinta pertama hampir kebanyakan seorang anak perempuan, tidak lain dan tidak bukan, ayahnya.

Hingga kini, masih ada titik kosong di jiwa yang tidak akan pernah terisi kembali, bagian dalam diri yang ikut pergi ketika sosoknya tidak lagi ada di dunia untuk selamanya. Titik yang akan selalu mampu membuat jantung berhenti berdetak sejenak, kondisi hati seketika berantakan, kepala seakan meledak, dan pipi yang banjir dengan air mata ketika mencoba untuk menengok kembali masa lalu dan segalanya tentang Papa. Duka dan rasa kehilangan mendalam akan terus menjadi bagian dari diriku, sahabat yang tidak pernah pergi dari sisi.

Ketika berbicara tentang sosok mendang Papa, meski tidak akan pernah menjadi topik yang mudah dan tanpa air mata, aku selalu bersemangat. Karena tidak akan habis beribu halaman untuk kuceritakan segala kisah tentang aku, Papa, dan hubungan kami sebagai ayah dan anak perempuannya dalam dua kali dasawarsa kesempatan yang diberikan semesta.

Dua dekade bukanlah waktu yang singkat, namun bukan juga waktu yang cukup lama, karena jika saja aku punya sesuatu yang dapat aku tukarkan dengan waktu, tentu aku akan meminta tambahan untuk menghabiskan waktu lebih panjang lagi dengan Papa. Tetapi angan hanyalah angan, jika kita berbicara tentang kematian.

Hingga bulan Desember 2017 lalu sebelum Papa pergi dan tidak kembali, begitu banyak hal yang dapat aku jadikan pedoman dalam kehidupan, semua ajaran yang diberikan serta cinta, kasih dan harapan yang bahkan hingga detik ini masih dapat dirasakan. Beliau adalah sosok guru dalam hidup, seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang pertama dalam hidupku. Tidak hanya karena memang keluarga kami memiliki latar belakang pengajar, dan beliau menghabiskan cukup banyak waktu dalam hidupnya untuk mengabdi pada pengetahuan, tetapi juga atas segala ilmu dan ajaran yang diturunkan sejak aku masih belia.

 

Rindu dan Terima Kasih untuk Papa

Pengetahuan bukanlah satu-satunya ilmu yang diajarkan Papa sedari aku masih balita, ada ilmu dan hal yang menurut beliau jauh lebih penting untuk diterapkan dalam hidup. Salah satunya tentang kejujuran.

Papa kerap kali mendukungku untuk bersikap jujur untuk hal sekecil apa pun. Sehingga aku tumbuh menjadi sosok yang sama sekali tidak mahir dalam berbohong, jika hidung Pinokio memanjang ketika ia berbohong, maka tanpa hidung yang bertambah panjang pun orang-orang mampu mengetahui ketika aku sedang tidak jujur.

Menjadi orang yang jujur di masa sekarang ini tidaklah mudah, ketika dunia berputar di sekitar kita penuh dengan kebohongan, untuk tetap berada pada jalan yang sebenarnya dan tidak bertumpu pada kemampuan bersilat lidah. Semua orang bisa menjadi jujur, tetapi untuk terbiasa, terkadang butuh usaha lebih dan hal tersebut sudah Papa tanamkan pada anak-anaknya. Terdengar sederhana mungkin, tetapi bagiku luar biasa, tidak hanya memiliki peran pada dunia karir yang kujalani saat ini juga pada hubunganku dengan manusia lainnya.

Kejujuran menjadi salah satu fondasi utama dan terkuat bagi hubunganku dengan manusia lainnya, termasuk mengenai romansa. Berawal dari cinta pertama seorang anak perempuan, yang pada umumnya merupakan ayahnya. Begitu juga denganku. Patah hati pertamaku, dan terbesarku. Tentu saja ketika aku kehilangan Papa di kala itu.

Selama aku hidup, baru di tahun aku menginjak umur 22 akhirnya aku memulai suatu hubungan romantik dengan seseorang. Tidak jarang teman-teman menyebutku sebagai seorang yang amat pemilih, dan berucap entah kapan aku akan memiliki kekasih. Bagaimana tidak, jika selama ini aku selalu menjadi seorang putri raja bagi Papa, yang menjadi standarku ketika memilih sosok pasangan.

Papa tidak mengajarkanku bagaimana cara memilih orang yang tepat, melainkan beliau selalu menunjukkan bagaimana cara kita untuk menjadi orang yang tepat. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa jodoh adalah cerminan diri, hal tersebut memacuku untuk terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sehingga pada waktu yang tepat ketika semesta mempertemukan dengan belahan jiwa maka aku setidaknya sudah siap.

Hingga aku menuliskan ini, sudah hampir 3 tahun aku bersama dengan seseorang yang tidak hanya memberikanku kasih sayang dan cinta, tetapi mampu membuatku lebih bahagia dan mau melewati rintangan hidup bersama. Hubungan yang menurutku cukup sehat dan terbuka, juga berlandaskan kejujuran seperti yang selalu ditanamkan oleh Papa. Dia tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Papa, kehadirannya dalam hidup juga tidak akan mengisi titik yang hilang dalam jiwa semenjak Papa tiada, terlepas dari semua itu, dia mampu menghadirkan kembali tawa yang sempat hilang dan memperlakukanku bak seorang ratu. Sama seperti dahulu, ketika Papa masih di sisiku.

Bulan depan tepat memasuki tahun keempat perjalanan Papa ke Surga. Bersama dengan tulisan ini, biarlah aku sedikit melepaskan kerinduan sembari mengungkapkan rasa terima kasih, dari relung paling dalam di hati. Meskipun sekarang raga Papa tidak lagi ada di dunia, tetapi cinta, kasih beserta semua ajaran Papa akan terus abadi dalam jiwa. Mengalir dalam darah, menyebar dalam kebaikan, menggebu dalam semangat, dan terus bersama dalam asa. Selamanya.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Rindu Anak Perempuan kepada Ayahnya, Rindu Terdalam yang Pernah Ada
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories Surat untuk Ayah