Sukses

Lifestyle

Gen Z Terjepit Gaji Bulanan: 7 Kebiasaan Uang Buruk dan Cara Memutusnya

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, gaji besar ternyata bukan jaminan finansial yang sehat. Survei Bank of America yang dipublikasikan Reuters mencatat 42% individu Gen Z mengaku hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck). Bahkan di kelompok berpenghasilan tinggi, angkanya masih mencapai 29%.

Di balik unggahan glamor di media sosial, banyak anak muda yang sebenarnya berjuang keras menjaga arus kas hingga gajian berikutnya. Gen Z—mereka yang lahir pada 1997–2012—menghadapi tantangan khas era digital: kemudahan bertransaksi, tekanan tren yang cepat berubah, dan banjir informasi finansial yang belum tentu kredibel. Artikel ini mengurai tujuh kebiasaan finansial yang kerap menjegal, lengkap dengan langkah praktis untuk membantu memutus siklusnya.

Gambaran Besar: Gen Z dan Fenomena Hidup dari Gaji ke Gaji

Data Bank of America yang dilaporkan Reuters menunjukkan paradoks yang mengkhawatirkan: porsi besar Gen Z masih bergantung pada gaji bulanan meski sebagian sudah berpendapatan tinggi. Kondisi ini membuat stabilitas jangka panjang mudah terganggu, terutama ketika muncul kebutuhan mendadak.

Salah satu pemicunya adalah inflasi gaya hidup yang terdorong oleh FOMO (fear of missing out). Melihat teman mengunggah perjalanan, mobil baru, jam tangan bermerek, atau kuliner mahal bisa memicu dorongan untuk menaikkan standar belanja otomatis setiap kali penghasilan meningkat. Ingat, media sosial adalah highlight reel potongan momen terbaik bukan keseluruhan realitas hidup seseorang.

Untuk meredam tekanan ini, bedakan dengan tegas kebutuhan dan keinginan sebelum bertransaksi. Tetapkan batas anggaran untuk hiburan dan gaya hidup, fokus pada tujuan finansial jangka panjang, serta lakukan digital detox secara berkala agar tidak terus terseret arus tren.

Transaksi Sekejap, Utang Menumpuk: BNPL dan Doom Spending

Ledakan aplikasi belanja online seperti Shopee dan TikTok Shop, ditambah program cicilan untuk ponsel serta elektronik, melahirkan kebiasaan baru yang berisiko. Pakar keuangan Beth Kobliner menekankan bahwa model "Beli Sekarang, Bayar Nanti" atau Buy Now, Pay Later (BNPL) menjadi jebakan yang tak terlihat. Membayar uang muka kecil membuat konsumen kehilangan rasa sedang mengeluarkan uang, sehingga transaksi impulsif terasa “ringan”.

Angkanya pun jelas: 59% anak muda telah menggunakan BNPL, dan 57% di antaranya sempat terlambat membayar karena salah kelola cicilan. Cara mengatasinya, batasi BNPL hanya untuk kebutuhan mendesak dan terencana. Hitung total biaya (bukan sekadar cicilan per bulan), pegang aturan sederhana—jika tidak mampu bayar tunai, tunda pembelian—serta catat semua kewajiban agar tidak menumpuk.

Doom spending juga marak: belanja berlebihan sebagai pelarian dari stres atau ketidakpastian ekonomi. Fenomena yang menguat pascapandemi ini memberi kepuasan sesaat namun merusak kesehatan finansial jangka panjang. Bangun kesadaran dengan mencatat seluruh pengeluaran, kurangi penggunaan kartu kredit dan beralih ke uang tunai atau debit, latih mindfulness untuk mengelola emosi, dan cari bantuan profesional jika perilaku belanja sudah sulit dikendalikan.

Ilmu yang Keliru: Investasi vs Judi dan Pengaruh Influencer

Survei majalah Fortune mengungkap 25% anak muda menganggap perjudian online dan pasar prediksi sebagai bentuk investasi serius. Sekitar setengah responden memiliki atau pernah memiliki mata uang kripto, pasar yang dikenal sangat volatil. Kurangnya pemahaman dasar yang dipadukan keinginan cepat kaya membuat sebagian orang menyamakan investasi dengan spekulasi.

Solusinya adalah kembali ke dasar: pahami diversifikasi, profil risiko, dan horizon waktu investasi. Mulai dengan nominal kecil sambil memperdalam ilmu, jauhi skema “cepat kaya” yang tidak realistis, dan ingat bahwa investasi yang sehat berorientasi jangka panjang—bukan tebak-tebakan harian. Pertimbangkan konsultasi dengan perencana keuangan bersertifikat, bukan sekadar mengikuti saran influencer.

Di sisi lain, 79% anak muda menerima nasihat keuangan dari platform video pendek. Fortune mengingatkan, banyak akun berpengikut besar tidak benar-benar memahami keuangan pribadi. Konten sensasional, janji imbal hasil besar, atau kiat instan sering dibuat untuk menarik perhatian—bahkan bisa menjerumuskan ke modus penipuan. Selalu verifikasi kredibilitas sumber, rujuk informasi dari lembaga resmi seperti OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau BI (Bank Indonesia), dan pegang prinsip: jika tawaran terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan, biasanya itu penipuan.

Pondasi yang Sering Diabaikan: Dana Darurat, Anggaran, dan Tujuan

Kesalahan mendasar yang kerap terjadi adalah mengabaikan dana darurat. Banyak anak muda berani masuk saham, kripto, atau aset digital lain, sementara saldo tabungan nyaris nol. Bank of America mencatat, ketiadaan jaring pengaman tunai membuat kelompok ini sangat rentan ketika terjadi hal tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau darurat keluarga.

Bangun dana darurat minimal setara 3–6 bulan pengeluaran rutin. Praktikkan menyisihkan 5–10% gaji secara otomatis ke rekening terpisah setiap bulan sebagai prioritas, lalu disiplin untuk tidak menggunakannya sebagai modal investasi. Ingat, uang untuk dana darurat tidak boleh dipertaruhkan di instrumen berisiko.

Banyak Gen Z merasa “lumayan tahu” arus kas, namun tidak pernah menuliskan atau memonitor secara konkret. Dampaknya, gaji habis sebelum akhir bulan. Mulailah dari anggaran sederhana metode 50/30/20—50% kebutuhan pokok, 30% keinginan/hiburan, 20% tabungan dan investasi—catat pemasukan dan pengeluaran selama sebulan, lalu evaluasi. Tetapkan tujuan SMART (Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, Berbatas Waktu) dan gunakan aplikasi keuangan untuk memantau progres.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading