Sukses

Parenting

5 Cara Cerdas Memilih Mainan Sesuai Umur Anak

Fimela.com, Jakarta Memberikan mainan untuk anak bukan hanya sekadar mengalihkan perhatian saat rewel atau menangis. Melainkan mainan juga bisa dijadikan sebagai media pembelajaran untuk stimulasi tumbuh kembang anak.

Menurut psikolog anak Vicki Panacciona, Phd, bermain sangat penting dalam perkembangan sosial, mental, fisik, dan emosional anak-anak. Sehingga mainan harus diberikan berdasarkan usia anak yang merangsang dan juga aman.

Sebagai orangtua, penting untuk mengetahui bagaimana memilih mainan yang tepat bagi anak sesuai dengan usianya. Seperti dilansir dari WebMD pada Rabu (24/6/2020) orangtua bisa mengikuti tips berikut ini untuk memilih mainan sesuai dengan usianya.

1. Mainan yang sederhana

Mainan yang memiliki fungsi terlalu banyak membuat anak justru tidak menggunakan daya imajinasinya. Boneka yang berbicara atau bernyanyi mengarahkan anak untuk menekan tombol-tombol tertentu. Ketika mainan terlalu spesifik akan membatasi kemampuan anak untuk menggunaan imajinasinya. Mainan terbaik seringkali merupakan mainan yang paling sederhana, seperti balok, yang memungkinkan anak-anak menjadi kreatif, dan spontan.

2. Batasi video game

Hidup di zaman modern justru membuat orangtua harus berpikir bagaimana cara menjaga anaknya jauh dari jangkauan gagdet. Penelitian menunjukkan bahwa mainan elektronik menimbulkan kemungkinan bahaya bagi kesehatan dan perkembangan anak-anak. Termasuk kehilangan pendengaran akibat pengeras suara, kenaikan berat badan karena tidak aktif saat bermain, dan keterlambatan bahasa. Dalam beberapa kasus, mainan elektronik juga berdampak pada kesulitan anak untuk fokus akan sesuatu, seperti buku atau mainan yang tidak bergerak.

 

3. Jangan terjebak pada maianan yang disebut edukatif

Sebagai orangtua juga harus cerdas agar tidak mudah tertipu dengan label mainan edukatif. Banyak mainan yang mengklaim dirinya adalah maianan pendidikan. Padahal mainan pendidikan sesungguhnya bukan merupakan gadget yang mencolok, melainkan permainan yang membangun pemikir kreatif selama beberapa dekade.

4. Hanya menyediakan beberapa mainan dalam satu waktu, sisanya simpan

Banyak anak-anak dibanjiri oleh mainan yanng beragam. Panacione menyebut, anak yang diberi mainan terlalu banyak juga akan membuat anak terlalu cepat menerima dan kesulitan untuk fokus. Sangat disarankan agar orangtua memutar mainan masuk dan keluar dari kotak maianan. Memperkenalkan kembali mainan setelah beberapa minggu. Jika ada beberapa mainan yang memiliki jenis yang sama, biarkan anak mengeksplorasi sepenuhnya sebelum diperkenalkan dengan mainan lain.

 

5. Mengenal jenis mainan berdasarkan usia anak

Anak-anak menikmati mainan yang dapat dikuasi dan tepat untuk tahap perkembangan khusus. Berikut ada beberapa saran jenis mainan yang sesuai dengan usia anak.

  • 0-6 bulan: lebih terpesona dengan gerakan, suara, dan visual hitam putih yang sederhana. Bekerja pada koordinasi mata, tangan, meraih, dan menggenggam. Orangtua bisa memberikan mainan, seperti mainan kerincingan, kotak-kotak yang menciptakan fitur suara, dan apapun yang dapat dipegang, usap, tarik, tendang, diperas, atau dikocok.
  • 6-8 bulan: di usia ini, anak sudah dapat memegang mainan kecil. Mereka belajar tentang sebab dan akibat dan akan mengulangi kegiatan berulang untuk menguasainya. Mereka juga suka memindahkan mainan dari tangan satu ke tangan lainnya serta masuk dan keluar dari wadah.
  • 8-18 bulan: Ini menjadi usia di mana anak mulai bereksperimen dengan ukuran, bentuk, dan ruang. Mainan yang sesuai pun melipti mainan dorong/tarik, balok, cincin di tiang, dan penyortir bentuk.-18-24 bulan: balita mulai menikmati bermain 'pura-pura'. Sehingga ini menjadi saat yang tepat untuk memperkenalkan pakaian, boneka, peralatan dapur, dan mobil mainan.
  • 2-4 tahun: anak-anak belajar banyak tentang sosialisasi selama tahun-tahun prasekolah dan terus melakukan banyak permainan 'pura-pura'. Perkebunan mini atau rumah-rumahan memungkinkan mereka melatih imajinasi. Sementara krayon, cat jari, dan mainan tanah liat membantu mengembangkan kreativitasnya. Anak-anak juga mendapatkan keuntungan besar dalam ketrampilan motorik halus dan kasar. Sehingga orangtua bisa memperkenalkan puzzle, lego, balok, an mainan konstruksi lainnya.

Simak video berikut ini

#changemaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Persiapan Mengirim Anak Kembali ke Sekolah di Era New Normal
Artikel Selanjutnya
Kapan Anak Bisa Memilih Sekolah Sendiri? Berikut Jawaban Psikolog