Sukses

Relationship

Saat Cinta Tak Bisa Dimiliki, Hanya Kenangan yang Disimpan di Hati  

Fimela.com, Jakarta Apa arti cinta pertama untukmu? Apa pengalaman cinta pertama yang tak terlupakan dalam hidupmu? Masing-masing dari kita punya sudut pandang dan cerita tersendiri terkait cinta pertama, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My First Love: Berbagi Kisah Manis tentang Cinta Pertama berikut ini.

***

Oleh: Septiana N.

Cinta pertama, aku bukanlah orang yang percaya akan cinta. Semakin ke sini aku semakin yakin bahwa cinta itu hanya membuang buang waktu dan energi. Para sahabatku, mereka selalu menangis karena cinta. Mencintai pria yang hanya menyakiti perasaan bukankah toxic relationship namanya?

Oleh karena itu, aku putuskan untuk tidak terlalu peduli dengan cinta. Apa itu cinta? Aku tak peduli dengan kata cinta. Belajar dan lebih mencintai diri sendiri itulah lebih logis dan realistis. Tapi apa yang terjadi? Ketidakpedulianku akan cinta tiba tiba saja buyar sejak ada dia. Aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi dia berhasil membuatku penasaran. Bagaimana sebenarnya cinta?

 

Menjalin Hubungan dengan Cinta Pertama

Singkat cerita, aku berpacaran dengan dia tanpa rasa cinta tapi rasa penasaran akan cinta. Kurang lebih setengah tahun berlalu. Hari itu ternyata tidak buruk.

Kami mulai mengenal satu sama lain semakin dalam. Dan kami menemukan beberapa hal yang sama-sama kami sukai. Musik salah satunya.

Jika berbicara tentang musik obrolan kami tak akan pernah habis rasanya. Selalu ada saja yang kami bahas. Tapi di suatu hari dia mengungkapkan apa yang membuatnya mengganjal, ya... dia merasa sedih karena aku terus menyembunyikannnya, bahkan dari sahabatku sendiri.

Awalnya aku bisa mengatasi itu, lagi pula kini aku mulai mencintainya. Tak ada salahnya jika aku memberitahu pada dua sahabatku. Tapi perlahan, dia mulai menjadi pacar yang overprotektif. Dan aku tak nyaman akan hal itu. Ditambah lagi tugas sekolah yang menumpuk, aku sangat frustrasi dan tanpa berpikir panjang kemudian mengakhiri hubungan secara sepihak.

Saat itu dia masih berusaha untuk membuat aku tetap tinggal, namun tekadku sudah bulat. Pikirku ini adalah jalan terbaik. Ternyata tidak, itu hanya kalimat gegabah yang kini hanya aku sesali.

Waktu terus berlalu dan aku sadar bahwa aku masih mencintainya. Dan aku harap penyesalan ini bisa ku erbaiki. Tak lama, aku kembali menghubunginya.

Aku secara langsung mengatakan apa maksud dan tujuanku menghubunginya. Tak peduli itu membuatku terlihat rendah atau tidak baginya. Yang terpenting adalah cintaku untuknya yang harus kuperjuangkan.

Tapi malangnya, takdir tak berpihak padaku. Ternyata dia sedang dekat dengan seorang perempuan, teman sekelasnya. "Andai kamu bilang sebelum aku tembak dia, aku mau banget balikan sama kamu. Meski aku masih cinta sama kamu, aku nggak tega kalau harus menyakiti perasaan dia," itu yang dia ucapkan, sakit tapi memang semua adalah salahku sendiri.

 

Meningggalkannya tapi Tak Bisa Melupakannya

Aku yang melepaskannya, mencampakkannya. Dan di saat dia terluka, perempuan itu yang hadir dalam hidupnya meskipun itu lewat campur tangan sahabatnya yang tak mau melihat dia larut dalam kegalauan.

Aku masih mencintainya, tapi aku juga tidak bisa egois. Perempuan itu juga punya hati. Dan jika aku berada di posisinya, tentu aku akan merasa sakit. Jadi aku berusaha untuk ikhlas saja. Tapi dia malah berkata bahwa aku dan dia masih bisa berteman.

Sesuatu yang sulit, dari pacaran menjadi teman. Tapi entah kenapa saat itu aku merasa tak keberatan. Kami masih berkomunikasi baik dan itu membuatku semakin berharap dengannya. Tapi aku sadar, itu tidak benar. Dan akan ada hati yang terluka jika aku masih sedekat itu dengannya. Meski hanya sekadar saling bertanya kabar, saling menyemangati. Yang namanya komunikasi ya tetap berkomunikasi.

Tak ingin membuat hal ini semakin rumit, akhirnya aku mulai berusaha untuk move on darinya dengan mencari orang sebagai pelarian. Jahat memang, tapi itu yang bisa aku lakukan agar bisa melupakannya.

Tapi anehnya, setiap kali aku berpacaran dan lagi-lagi putus. Bukan pria yang baru putus denganku yang aku pikirkan. Tapi dia, dia cinta pertamaku yang pernah aku campakkan.

Tahun demi tahun berlalu, kini aku sudah memiliki seseorang. Tapi jujur, namanya masih ada. Meski ruang hatiku sudah terisi dengan orang baru, tetap saja dia adalah cinta pertama yang sangat sulit untuk kulupakan. Dan aku tidak bisa memungkiri itu. Cinta yang tak bisa kumiliki lagi sebesar apa pun aku menginginkannya.

Cinta tak harus memiliki bukan? Lalu aku akan mencintainya dengan kenangan. Dan kuharap dia akan bahagia dengan siapa pun dia sekarang, begitu juga aku dengan orang yang saat ini sedang bersamaku.

Ya, semoga saja.

 

#WomenforWomen

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading