Sukses

Relationship

6 Tanda Perasaan Itu Bukan Cinta tapi Obsesi

Fimela.com, Jakarta Saat membangun sebuah hubungan, seseorang tentu memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan rasa cintanya kepada pasangan. Act of service, physical touch, word of affirmation, dan lain-lain adalah beberapa contoh bentuk ungkapan cinta seseorang kepada pasangannya. Tetapi, beberapa hal dan perilaku dibawah ini adalah bentuk ungkapan cinta yang kurang baik, karena bentuk ungkapan cinta berikut lebih mengarah pada perilaku obsesi, bukan cinta.

Apa saja perilaku tersebut? Simak baik-baik agar kamu dan pasangan memiliki hubungan yang sehat!

Sulit berkonsentrasi dan fokus

1. Seseorang yang memiliki obsesi dengan pasangannya biasanya akan terus memikirkan pasangannya kapan saja dan dimana saja. Mereka mungkin saja merasa hilang, hancur, dan bukan dirinya sendiri saat harus berpisah dengan pasangannya walaupun hanya sementara atau dalam waktu singkat.

2. Saat suasana hati, kebahagiaan, serta identitas seseorang ditentukan atau terbentuk dari orang lain, maka mereka mungkin berada dalam hubungan kodependen. Dalam hubungan tersebut, biasanya terdapat salah satu pasangan yang tidak bisa membuat keputusan karena ia sangat bergantung dengan pasangannya. Pasangan lainnya juga sudah terbiasa membuat keputusan untuk mereka. Hubungan kondependen adalah salah satu dinamika hubungan yang hadir dari obsesi.

3. Seseorang yang terobsesi dengan pasangannya akan merasakan emosi negatif yang ekstrem ketika tidak mendapatkan perhatian dari pasangannya. Emosi negatif yang ekstrem ini biasanya dapat dilihat dari perilaku mengirim pesan sepanjang waktu kepada pasangan atau merasa khawatir ketika pasangan tidak segera merespon dirinya. Mereka juga mungkin merasakan kehampaan saat tidak bisa berkomunikasi pada pasangannya.

Rasa cemburu yang berlebihan

4. Rasa cemburu yang berlebihan biasanya dapat dilihat dari berbagai perilaku, seperti tidak percaya diri atau bahkan menjadi agresif terhadap pasangan. Rasa cemburu yang berlebihan ini biasanya muncul karena mereka tidak mampu untuk menenangkan diri dari berbagai ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui mereka.

5. Rasa cemburu yang berlebihan dapat berujung pada perilaku posesif yang juga berlebihan. Hal tersebut terjadi karena adanya keinginan untuk menjaga dan mengendalikan pasangan agar mereka tetap dekat dan berada dibawah pengawasannya.  Melanggar privasi, mengontrol interaksi sosial, membatasi lingkungan sosial, bahkan mengatur cara berpakaian dan makanan pasangan adalah contoh perilaku posesif yang berlebihan.

6. Saat seseorang sangat membutuhkan pasangannya hingga merasa putus asa jika mereka tidak bisa bersama, maka hal tersebut dapat menjadi sebuah tanda obsesi. Biasanya perilaku ini muncul karena adanya trauma diabaikan oleh orang lain. Sehingga, mereka merasa membutuhkan pasangan secra terus menerus di berbagai situasi dan kondisi. Hal ini tentu dapat berpengaruh buruk pada hubungan karena perilaku ini akan membatasi mobilitas dan aktivitas pasangan.

 

Ditulis oleh: Savitri Anggita Kusuma Wardani

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading