Editor Says: Antara Perselingkuhan, Kekerasan dan Depresi

Regina Novanda diperbarui 26 Mei 2018, 13:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Belakangan, publik dikejutkan oleh sebuah video yang menunjukkan seorang ibu di Kalimantan Timur tega melukai anaknya. Sang anak yang diketahui masih balita itu terlihat dipenuhi darah di wajahnya. Ia pun terus mendapat cacian dari ibundanya yang tengah tersulut emosi.

Usut punya usut, sang ibu tega menyiksa anaknya karena perangai suaminya. Ya, wanita tersebut kabarnya telah diselingkuhi oleh sang suami. Entah apa yang menjadi alasannya, ia kemudian mengunggah video penganiayaan pada anaknya di media sosial hingga kini menjadi viral.

What's On Fimela
Ilustrasi Kekerasan Pada Anak (iStock Photo)

Sungguh sangat disayangkan. Sang ibu yang tak diketahui namanya itu pun kabarnya telah dibawa ke aparat berwajib. Namun, tak ada penahanan. Wanita tersebut hanya diminta wajib lapor atas perbuatan teganya menyiksa buah hati.

Video wanita menyiksa anak balita tersebut kini sudah disaksikan jutaan pasang mata. Tak sedikit yang mengecam aksi wanita tersebut. Kalimat cacian dan umpatan pun kini mengarah ke wanita yang berdomisili di Berau tersebut.

Ada yang mengecam, ada pula yang mencoba bersikap netral. Belajar dari pengalaman, mereka yang pernah mengecap penyiksaan sewaktu dini itu mencoba melihat kondisi dalam video tersebut dari sudut pandang berbeda. Tak menghakimi, mereka mencoba menelaah tentang perselingkuhan yang dialami sang ibu.

2 dari 4 halaman

Tentang perselingkuhan

Ilustrasi Selingkuh, Pelakor (iStockphoto)

Hati wanita mana yang tak rapuh melihat perselingkuhan suami. Apalagi jika perselingkuhan itu melibatkan orang sekitar. Sungguh sakit, bukan?

Seorang teman pernah berkata, 'Perselingkuhan adalah dosa terberat dalam sebuah hubungan'. Awalnya saya tak begitu setuju. Bagi saya, masih ada pintu maaf untuk pasangan. Toh Tuhan juga Maha Pemaaf, bukan? Tapi... jika perselingkuhan itu sudah terjadi berkali-kali, apakah masih bisa termaafkan?

Sebaik-baiknya kamu menyimpan rahasia, pasti akan terbongkar juga. Itulah yang dialami sama cewek yang tega menyelingkuhi pacarnya ini. (Ilustrasi: msecnd.net)

Semua tergantung pribadi masing-masing. Bagi saya, perselingkuhan terjadi karena dua pihak membukakan pintu untuk sekedar singgah. Jika persinggahan itu membuat nyaman, maka hati lain lah yang harus dikorbankan.

'Siap jatuh cinta maka siap untuk patah hati'. Ya, tapi kalau kamu sudah berani berkomitmen pada istrimu untuk sehidup semati, mengapa tidak mencoba setia? Janji yang kamu ucapkan bukan hanya di antara kalian berdua saja, tapi juga keluarga serta Tuhan.

3 dari 4 halaman

Tentang kekerasan

Ilustrasi kekerasan (iStockPhoto)

Kekerasan pada anak sejatinya tak akan pernah dibenarkan. Apapun alasannya, anak tak selayaknya menjadi tempat menumpahkan amarah akan beban hidup. Terlebih, jika anak tersebut masih di bawah umur, tentunya akan menimbulkan trauma dan bekas luka yang amat dalam.

Ibu memang selayaknya malaikat tanpa sayap. Namun, sebagai manusia biasa, setiap ibu di dunia ini pasti memiliki kekurangan. Bagi mereka yang tega melakukan kekerasan pada anak, mungkin belum cukup pandai dalam menahan ego. Rasa marah yang amat besar bisa saja membuat seorang ibu gelap mata pada anak-anaknya hingga jadi korban kekerasan.

Jauh di lubuk hati seorang ibu, mereka tentu merasa bersalah pada anaknya setelah melakukan kekerasan. Kekerasan yang dilakukan bisa jadi hanya bentuk 'mencari perhatian' atau luapan amarah setelah diselingkuhi oleh suami.

4 dari 4 halaman

Tentang Depresi

Jangan pernah sepelekan masalah depresi. (Ilustrasi: saintluxx.com)

Depresi menjadi hal yang tak dapat begitu saja disepelekan. Setiap orang tentunya memiliki tingkat depresi yang berbeda-beda. Dari kasus ibu dari Kalimantan Timur yang tega menyiksa anaknya itu kita bisa belajar, bahwa perselingkuhan bisa menyebabkan seorang wanita melakukan kekerasan meski pada anak kandungnya sendiri, hingga paling parah depresi.

Menurut saya, menghakimi orang yang tengah depresi tak ubahnya seperti mengubah susunan kapas saat angin kencang. Bukan disalahkan, seseorang yang menderita depresi semestinya dirangkul. Semua masalah tentunya bisa diselesaikan, walau terkadang harus ada air mata dan amarah yang dilalui.

Ilustrasi Foto Ibu dan Anak Perempuan (iStockphoto)

Sebagai anak, kita sudah selayaknya memuliakan orangtua. Ketika orangtua depresi nasib rumah tangga, anak yang sudah cukup usia sebaiknya merangkul mereka. Jikalau mereka pernah melakukan kekerasan, memaklumi dan memaafkan menjadi jalan terbaik.

Mungkin akan banyak yang tak sependapat, tapi bagi saya orangtua adalah segalanya yang ada di bumi. Tanpa mereka, kita tak akan pernah ada di dunia ini. Rasa sakit yang diderita seorang ibu saat mengandung hingga melahirkan, mungkin tak akan bisa terganti oleh apapun yang kamu punya sekarang. Berbakti pada orangtua, dan memaafkanlah kesalahannya. Mohon maaf jika ada salah kata dari tulisan ini.

 

Regina Novanda,

 

Editor Celeb Bintang.com