Jam Memulai Kerja Terlalu Pagi Bisa Memicu Depresi, Really?

Fimela diperbarui 08 Okt 2017, 09:00 WIB

Jam berapa kamu bangun pagi? Apa yang kamu lakukan setelah bangun? Beribadah, membuat sarapan, membaca buku atau novel kesukaan, mendengarkan musik, membersihkan rumah atau sekedar bersantai sebelum memulai aktivitas. Atau, selepas bangun kamu justru langsung mandi dan cepat-cepat berangkat kerja lantas menyelesaikan pekerjaan kamu?

Dikutip dari laman indiatimes.com, memulai pekerjaan di waktu yang terlalu pagi apalagi selepas tidur bisa meningkatkan risiko depresi. Para ilmuwan di Oxford University menyebutkan bahwa bekerja di bawah pukul 10 pagi lebih rentan membuat pikiran kacau, stres dan depresi. Terlebih lagi, ketika pekerjaan ini berakhir di waktu yang sangat sore hingga malam.

Para ahli menemukan bahwa bekerja terlalu pagi di depan komputer atau sejenisnya rentan menyebabkan kelelahan fisik maupun psikis. Ini juga rentan meningkatkan risiko sakit kepala dan menyiksa diri sendiri.

Paul Kelly, seorang ilmuwan mengatakan, "Banyak perusahaan meminta karyawannya mulai bekerja di bawah jam 10 pagi. Padahal ini bisa meningkatkan risiko stres dan depresi pada karyawan. Sebenarnya tubuh dirancang telah memiliki keteraturannya sendiri. Keteraturan atau jam internal ini bisa terganggu ketika dibuat bekerja terlalu pagi. Jika jam kerja tubuh ini terganggu, maka ini akan mengganggu kesehatan tubuh secara keseluruhan."

Kelly menyarankan agar adanya perubahan jam kerja di masyarakat. Menurutnya, memulai jam kerja selepas jam 10 pagi akan lebih baik jika dibandingkan memulai kerja di bawah jam 10. Penelitian yang dilakukannya pada siswa SMA reguler di Monkseaton Inggris ditemukan bahwa siswa yang mulai belajar jam 10 pagi mengalami peningkatan produktivitas sebanyak 19 persen.

Kalau menurut kamu, jam berapa kira-kira jam ideal untuk memulai kerja atau belajar? Tentunya kita punya pandangan sendiri-sendiri mengenai hal ini.

(vem/mim)