Anjuran Dokter, 3 Cara Ini Mampu Menjaga Imunitas Keluarga di Tengah Pandemi Virus Corona

Anisha Saktian Putri diperbarui 11 Mei 2020, 20:30 WIB

ringkasan

  • Hidup sehat artinya makan teratur, mengonsumsi nutrisi yang baik, jangan begadang, tidak merokok, dan lainnya
  • Nutrisi sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga jangan sampai kekurangan nutrisi.

Fimela.com, Jakarta Di musim pandemi virus corona, seluruh anggota keluarga tetap waspada terhadap penularan penyakit. Terlebih lagi ketika berpuasa seperti saat ini, kita tetap harus meningkatkan daya tahan tubuh agar tubuh tetap sehat.

Dokter Spesialis Paru Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) , mengatakan hidup sehat artinya makan teratur, mengonsumsi nutrisi yang baik, jangan begadang, tidak merokok, dan lainnya. Virus corona ini harus dilawan dengan imunitas yang baik dan nutrisi yang baik itu akan meningkatkan sistem imun.

"Puasa sebenarnya tidak terlalu berefek pada ketahanan tubuh atau sistem imun karena, orang tetap makan dan minum. Perbedaannya adalah pada waktu makan dan minumnya. Dalam bulan puasa orang tidak bisa makan sepanjang waktu, namun hanya bisa makan di malam hari, sejak saat buka puasa sampai dengan saat sahur. Oleh karena itu, upaya pencegahan pada masa covid-19 termasuk di bulan Ramadan ini sampai post pandemi tidak berbeda, yaitu antara lain, dengan social distancing, phisical distancing, pakai masker, cuci tangan, kemudian hidup bersih dan sehat," ujarnya dalam siaran pers Curcuma Plus.

Tak hanya itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, khususnya untuk anak-anak. Apa saja? Berikut penjelasannya.

1. Nutrisi

Nutrisi sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga jangan sampai kekurangan nutrisi. "Kalau vitamin biasanya kita dapat dari sayur dan buah-buahan," kata Dr. Erlina.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

2. Multivitamin

bearinmind c) Shutterstock

dr. Elina juga mengatakan terkadang anak-anak tidak suka makan sayur. Nah, mungkin ada baiknya diberikan juga multivitamin atau suplemen.

Hal serupa pun disampaikan Dr. Inggrid Tania, M.Si, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) ketika memang kebutuhannya mengharuskan perlu suplemen, maka konsumsilah suplemen itu sesuai dengan kebutuhan. Ketika kita harus konsumsi setiap hari, kita bisa mengonsumsinya setiap hari, tetapi tetap dibarengi dengan upaya lain yang mampu menjaga dan meningkatkan sistem imun, seperti minum air putih cukup, istirahat cukup, dan sebagainya.

Artinya, mengonsumsi suplemen itu bukan satu-satunya, tetapi sebagai salah satu upaya. Ia memberikan contoh curcumin yang terkandung dalam temulawak. Khasiatnya, yakni sebagai zat bioaktif memiliki sifat-sifat misalnya, antioksidan, anti inflamasi, imunomodulator. Sifat-sifat itu bermanfaat pada berbagai kondisi kesehatan maupun kondisi yang patologis. Termasuk saat pandemi ini. Penelitian-penelitian yang sudah ada juga menunjukkan bahwa Curcumin memiliki sifat anti virus.

"Selain orang dewasa, pemberian cucurmin juga bisa diberikan pada anak-anak. Campuran curcumin atau esktrak temulawak di dalam multivitamin, bersifat sinergis. Artinya, selain ada sifat immunomodulator, Curcumin memberikan manfaat lain bagi anak-anak, misalnya, memperbaiki nafsu makan, dan bisa membantu pertumbuhan juga," ujar Dr. Inggrid Tania.

Hal penting lainnya adalah hampir tidak ada kontra indikasi konsumsi cucurmin, pada anak-anak. Perbedaan pada anak-anak dan dewasa hanyalah di dosisnya saja.

DR. Raphael Aswin Susilowidodo, M.Si, VP Research and Development SOHO Global Health menganjurkan masyarakat untuk menggunakan temulawak yang telah diekstrak. Penggunaan temulawak yang telah diekstrak menurut DR Aswin lebih efektif menjaga kesehatan tubuh karena kadar curcuminnya lebih terukur sehingga sesuai dengan kebutuhan tubuh.

"Untuk mendapatkan ekstrak curcumin 20 mg diperlukan 7500 mg temulawak segar, sehingga produk Curcuma FCT sangat simple dan nyaman digunakan pasien tanpa harus repot membuat rebusan,” ungkap DR. Aswin.

3 dari 3 halaman

3. Mengatur aktivitas anak

Buku cerita anak (Photo by Josh Applegate on Unsplash)

Dokter ahli tumbuh kembang dr. Ahmad Suryawan, SpA (K) mengatakan pada anak, infeksi virus, baik virus Covid-19 maupun yang lain, berisiko terhadap tumbuh kembang anak. Dampak proses infeksi pada tumbuh kembang anak sifatnya jangka panjang. Pada anak dibawah enam tahun, dapat mengganggu tumbuh kembang dasar, yakni kemampuan motorik, kemampuan bicara bahasa, dan kemampuan personal kemandirian. Sementara pada anak usia di atas enam tahun, proses infeksi pada usia awal, dapat mengganggu tumbuh kembangnya dalam aspek perilaku dan kecerdasannya.

"Pada anak-anak, meningkatkan daya tahan tubuh bukan hanya agar mencegah virus itu tidak masuk, tetapi daya tahan tubuh juga harus bisa digunakan untuk menimbulkan energi yang dipakai untuk perkembangan otaknya," kata dokter yang biasa disapa dr. Wawan ini.

Dengan demikian, mengamankan daya tahan tubuh selama masa physical distancing itu, mencakup tiga hal. Pertama, mengatur pola aktivitas fisik tergantung usia. Kedua, mengatur aktivitas tidur. Ketiga, yang paling penting adalah mengatur pola pemberian nutrisi. Ini adalah upaya dasar yang harus dilakukan orangtua selama fase physical distancing atau mandiri di rumah.

 

 

 

#Changemaker