3 Fakta Ranomi Kromowidjojo, Atlet Renang Belanda Keturunan Jawa di Olimpiade Tokyo 2020

Fimela Reporter diperbarui 02 Agu 2021, 17:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Ranomi Kromowidjojo, atlet renang yang ikut andil dalam Olimpiade Tokyo 2020 menjadi sorotan banyak orang, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Ranomi mengikuti olimpiade untuk mewakili Belanda. Namun, nama belakangnya yang menunjukkan bahwa ia keturunan Indonesia menjadi perhatian.

Lahir pada 20 Agustus 1990 di Sauwerd, Groningen, Belanda, Ranomi Kromowidjojo ternyata berdarah campuran Belanda-Suriname dari Jawa Indonesia. Dilansir dari liputan6.com, diketahui bahwa nenek moyang atlet renang yang mengikuti Olimpiade Tokyo 2020 ini berasal dari tanah Jawa. Nenek moyang Ranomi datang ke Suriname dan bekerja sebagai pekerja perkebunan pada abad ke-19.

Setelah Suriname merdeka pada tahun 1975, ayah Ranomi memutuskan untuk kembali ke Belanda. Hal ini merupakan permulaan dari karir cemerlang Ranomi Kromowidjojo dalam dunia olahraga sebagai atlet renang sampai mengikuti Olimpiade Tokyo 2020.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Mulai menyukai renang di usia tiga tahun

Menjadi atlet renang berprestasi, Ranomi memulai karirnya karena kegemarannya terhadap olahraga renang (Instagram/swimswamitaly).

Perempuan berusia 31 tahun ini, memulai karir dalam dunia olahraga karena kegemarannya terhadap olahraga renang. Bakatnya ia temukan pada usia tiga tahun ketika berlibur ke Spanyol dengan keluarganya.

Hobi Ranomi ini membuatnya kemudian memutuskan untuk terjun menjadi atlet renang. Hal ini membawa Ranomi kepada kesuksesan di mana ia dapat menjadi perenang kelas dunia dan berhasil meraih juara di berbagai ajang bergengsi.

Tidak hanya berfokus pada renang khusus pada gaya bebas, ia juga sering ikut dalam kejuaraan gaya lain seperti kupu-kupu dan punggung. Ranomi memegang rekor dunia renang gaya bebas 50 meter wanita sampai saat ini.

Keahlian Ranomi membawanya kepada beberapa kemenangan seperti tiga medali emas pada olimpiade di Beijing 2008 dan London 2012. Ia juga sempat mengikuti Olimpiade Rio 2016 di Brasil, tetapi tidak berhasil membawa pulang medali.

Meskipun belum berhasil mendapatkan medali pada Olimpiade Tokyo 2020, Ranomi masih tetap menjadi andalan Belanda di beberapa nomor lainnya. Tidak hanya fokus dalam dunia olahraga renang, Ranomi juga pernah berkuliah di Notenboom Business School di Eindhoven, Belanda.

3 dari 4 halaman

Menjadi pembicara di Konferensi Pemuda Diaspora Indonesia pada 2018

Ranomi Kromowidjojo sempat menjadi pembicara di Konferensi Pemuda Diaspora Indonesia sebagai motivator generasi muda pada tahun 2018. (Instagram/ranomikromo).

Pada 2018 lalu, Ranomi bersedia datang ke Indonesia untuk menjadi pembicara dalam sebuah acara. Ranomi menjadi salah satu pembicara di Conference of Indonesian Diaspora Youth (CIDY) atau Konferensi Pemuda Diaspora Indonesia 2018. Ia datang sebagai motivator generasi muda.

Dalam perbincangannya, ia menceritakan pengalaman serta proses pelatihannya yang sangat gigih hingga membawanya menjadi perenang juara dunia. Konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini didatangi generasi muda dari berbagai kalangan, dari berbagai provinsi, diaspora, kampus, ormas, parpol, korporat dan lembaga pemerintah. 

Tak hanya berbagi tips dan menyemangati tim renang Indonesia, Ranomi juga menyempatkan diri untuk berlatih bersama tim nasional untuk Asian Games 2018. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Jakarta, 15 Agustus 2018, Ranomi menyempatkan momen untuk mengajak para atlet bersorak, “Kami Indonesia. Kami yang terbaik!”

4 dari 4 halaman

Pernah hampir Tenggelam

Ranomi Kromowidjojo menjadi pemegang rekor renang gaya bebas 50 meter sampai saat ini. (Instagram/ranomikromo).

Pada masa kecilnya, Ranomi lebih dulu mahir berenang daripada menghitung satu sampai sepuluh. Neneknya adalah orang yang pertama kali memperkenalkan kolam renang kepada dirinya.

Ranomi yang saat itu masih kecil langsung melompat ke dalam air yang membuat orang tuanya ketakutan setengah mati. Karena hampir tenggelam, Ia sempat dilarang oleh ibunya untuk melanjutkan mimpinya dalam olahraga renang.

“Tapi itu adalah momen ketika orangtuaku berpikir jika aku harus ikut les renang. Anaknya butuh belajar berenang karena dia suka dengan air.” Kata Ranomi pada CIDY 2018. Dilansir dari laman resmi Kedutaan Besar RI Den Haag Belanda.

Pada usia empat tahun, Ranomi mulai mengikuti les renang untuk pertama kalinya. Ia mengaku pada saat itu bahkan tidak mengetahui perbedaan arah kiri dan kanan, namun ia sangat menikmati aktivitas berenang.

Dengan usianya yang sudah menempuh 31 tahun, Ranomi kemungkinan tak lama lagi akan pensiun dari dunia olahraga renang. Namun, ia tetap ingin berusaha memberikan yang terbaik di arena termasuk pada Olimpiade Tokyo 2020.

 

Penulis: Meisie Cory

#Elevate Women