Fimela.com, Jakarta Pernahkah kamu tanpa sadar mengatakan sesuatu kepada anak dengan niat memuji atau menasihati, tapi justru membuat mereka terdiam dan kehilangan semangat? Banyak orang tua tak menyadari bahwa beberapa ucapan sederhana dapat meninggalkan bekas dalam di hati anak. Kata-kata yang terdengar sepele, jika diulang terus, bisa perlahan menurunkan rasa percaya diri mereka dan membentuk pola pikir pesimis sejak dini.
Melansir laman thesoftword.blog salah satu contoh paling umum adalah pujian seperti “Kamu pintar sekali!”. Sekilas terdengar positif, tapi penelitian psikolog Carol Dweck menunjukkan bahwa anak yang terlalu sering dipuji karena “kepintarannya” justru cenderung takut gagal. Mereka menjadi enggan mencoba hal baru karena takut membuktikan bahwa mereka tidak secerdas yang dikatakan. Sebaliknya, anak yang dipuji atas usaha dan ketekunannya lebih berani menghadapi tantangan. Jadi, alih-alih mengatakan “Kamu pintar banget,” coba ubah jadi “Kamu kerja keras banget sampai bisa menyelesaikan ini.”
Ucapan lain yang perlu dihindari adalah “Kamu bikin Mama stres” atau “Kamu bikin Ayah pusing.” Kalimat seperti ini menempatkan tanggung jawab emosional orang tua di pundak anak. Mereka bisa tumbuh merasa bersalah setiap kali mengekspresikan diri. Riset dari University of Washington menemukan bahwa anak yang sering mendengar kalimat menyalahkan seperti ini lebih mudah cemas dan sulit menetapkan batas emosional. Alih-alih menyalahkan anak, orang tua bisa berkata, “Mama lagi butuh waktu sebentar untuk tenang ya,” agar anak belajar tentang pengelolaan emosi tanpa merasa bersalah.
Ucapan sehari-hari yang tanpa disadari bisa melemahkan rasa percaya diri anak
Selain itu, kalimat seperti “Biar Ibu aja yang kerjakan, kamu terlalu lama” juga sering muncul di momen-momen kecil, seperti saat anak sedang belajar mengancingkan baju atau menyiapkan bekal. Padahal, tindakan ini bisa membuat anak merasa tidak mampu. Anak-anak butuh kesempatan untuk mencoba dan gagal agar tumbuh mandiri. Menurut penelitian Stanford University tahun 2023, anak yang sering diambil alih tugasnya cenderung kurang percaya diri dan mudah menyerah. Cobalah berikan waktu ekstra, dan pujilah prosesnya, bukan hasil sempurnanya.
Perbandingan juga menjadi racun halus bagi kepercayaan diri anak. Kalimat seperti “Kenapa kamu nggak bisa kayak kakakmu?” atau “Teman kamu aja bisa, masa kamu nggak?” membuat anak merasa tidak cukup baik. Anak yang tumbuh dengan perbandingan seperti ini seringkali belajar bahwa cinta dan penerimaan bersyarat harus jadi “seperti orang lain.” Anak yang sering dibandingkan lebih mudah mengalami kecemasan dan rendah diri. Lebih baik fokus pada perkembangan unik mereka, misalnya, “Ibu senang kamu mulai berani mencoba hal baru.”
Ucapan seperti “Itu salah!” tanpa penjelasan juga bisa melemahkan semangat belajar anak. Kritik yang tidak disertai arahan hanya membuat anak merasa gagal tanpa tahu cara memperbaikinya. Anak justru akan menghindari tantangan karena takut salah. Studi dari University of Chicago menemukan bahwa anak yang mendapat kritik tanpa instruksi mengalami penurunan rasa percaya diri dan lebih cenderung menyerah. Jadi, gantilah dengan pendekatan suportif seperti, “Bagus, kamu sudah coba. Yuk, kita lihat cara lain biar hasilnya lebih baik.”
Langkah kecil yang berdampak besar untuk membangun kedekatan positif dalam keluarga
Bahasa yang positif bukan berarti memanjakan anak, tetapi memberi ruang bagi mereka untuk belajar dan tumbuh tanpa takut salah. Psikolog Kristin Neff menjelaskan bahwa anak yang tumbuh dengan bahasa penuh empati dan dorongan belajar memiliki apa yang disebut resilient self-esteem yaitu rasa percaya diri yang kuat bahkan saat menghadapi kegagalan. Mereka lebih berani mencoba hal baru dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan.
Untuk membangun kebiasaan berbicara yang positif, orang tua bisa mulai dengan langkah kecil. Cobalah menyadari ucapan sehari-hari selama seminggu, catat mana yang membangun, mana yang justru melemahkan. Beri jeda sebelum menegur atau menasihati, dan tanyakan pada diri sendiri, “Apakah kalimat ini membuat anak merasa lebih mampu atau malah sebaliknya?” Latihan sederhana ini bisa mengubah dinamika komunikasi keluarga secara signifikan.
Namun, jika orang tua merasa pola komunikasi negatif sudah terlanjur terbentuk dan anak mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan kepercayaan diri, tak ada salahnya meminta bantuan profesional. Konseling keluarga atau psikolog anak dapat membantu menemukan akar masalah dan membangun kembali pola komunikasi yang lebih sehat. Ingat, tidak ada orang tua yang sempurna, tapi setiap kata yang kita pilih bisa menjadi jembatan bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, berani, dan penuh kasih.
Penulis: Alyaa Hasna Hunafa