Cara Lembut Membimbing Anak agar Mau Menuruti Perkataan Orangtua

Nazwa Putri KurniawanDiterbitkan 11 Januari 2026, 21:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Melibatkan anak dalam berbagai aktivitas rumah bukan hanya bertujuan menanamkan rasa tanggung jawab, tetapi juga menjadi cara lembut untuk mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Saat mereka diajak ikut serta dalam rutinitas sederhana seperti membereskan mainan, menata meja makan, atau membantu menyapu, anak belajar memahami peran mereka dalam keluarga.

Kegiatan ini membuat mereka merasa dihargai, penting, dan memiliki kontribusi nyata. Dari pengalaman inilah tumbuh rasa percaya diri, rasa memiliki, serta kemauan untuk bekerja sama tanpa perlu dihadapkan pada ancaman atau nada tinggi.

Keterlibatan anak juga membuka ruang komunikasi yang lebih hangat. Berdasarkan sumber dari keepyourcoolparenting.com, orangtua dapat menjelaskan tujuan setiap tugas dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga anak melihat tugas tersebut sebagai bentuk kerja sama dan bukan perintah yang membebani.

Interaksi positif ini membantu anak mengenali dampak baik dari tindakan mereka, seperti rumah yang lebih teratur, waktu bermain yang lebih nyaman, atau kegiatan keluarga yang berjalan lancar. Cara ini, anak lebih mudah mematuhi arahan karena merasa diterima, dihormati, dan mengerti alasan di balik setiap permintaan.

Dengan memberi teladan serta menyesuaikan tugas sesuai usia, orangtua dapat menumbuhkan pola kepatuhan yang sehat dan bertahan lama. Anak yang sejak awal dilibatkan biasanya lebih responsif terhadap perkataan orangtua karena melihat konsistensi, kesabaran, dan dukungan yang diberikan. Sementara itu, orangtua belajar menetapkan batasan tanpa mengandalkan hukuman atau ancaman.

Melalui pendekatan yang lembut dan penuh empati, rutinitas rumah berubah menjadi proses belajar yang menyenangkan, mendorong kemandirian, serta menguatkan ikatan emosional keluarga. Inilah dasar yang membantu anak mau mendengarkan dan bekerja sama dengan sukarela.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Gunakan nada bicara yang tenang

Anak lebih mudah merespons instruksi ketika orangtua berbicara dengan suara yang lembut dan jelas. Nada tinggi justru membuat anak defensif. (Foto: marcisim/Pixabay)

Menggunakan nada bicara yang tenang membuat anak merasa nyaman dan lebih terbuka untuk mendengarkan arahan orangtua. Intonasi yang lembut membantu menghindarkan anak dari rasa tertekan atau disalahkan, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami.

Saat orangtua mampu menjaga ketenangan, anak biasanya ikut merespons dengan sikap yang serupa, sehingga proses kerja sama dapat terjalin tanpa perlu menggunakan bentakan atau ancaman.

Berikan instruksi yang jelas

Instruksi yang jelas membantu anak mengetahui apa yang perlu mereka lakukan tanpa merasa bingung. Ketika orangtua memberikan arahan dengan kata-kata yang sederhana, langsung, dan sesuai dengan usia anak, pesan tersebut lebih mudah dipahami.

Cara ini mencegah anak merasa terbebani dan membuat kerja sama berjalan lebih lancar. Petunjuk yang terarah, anak cenderung merespons dengan lebih tenang dan kooperatif tanpa membutuhkan ancaman atau tekanan.

3 dari 3 halaman

Berikan pilihan, bukan paksaan

Alih-alih memerintah, beri dua pilihan yang sama-sama positif. Contoh: “Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” (Foto: rkrandhir/Pixabay)

Memberikan pilihan kepada anak membuat mereka merasa lebih dihormati dan memiliki kesempatan untuk menentukan tindakan mereka sendiri. Menyediakan dua pilihan yang sama-sama baik, orangtua dapat mengarahkan perilaku anak tanpa memberikan kesan memaksa.

Cara ini membantu anak menerima arahan dengan lebih mudah karena keputusan yang diambil muncul dari keinginan mereka, bukan dari tekanan. Saat anak merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan, kerja sama pun hadir secara lebih alami tanpa membutuhkan ancaman atau pertentangan.

Konsisten dengan aturan

Menjalankan aturan secara konsisten membantu anak memahami batasan dan mengerti apa yang harus mereka lakukan dalam berbagai situasi. Saat orangtua menerapkan aturan yang sama dari waktu ke waktu, anak merasa lebih aman karena mereka bisa memprediksi rutinitas dan konsekuensinya.

Konsistensi ini juga menghindarkan anak dari kebingungan, sehingga mereka lebih mudah mengikuti arahan tanpa perlu dorongan tambahan. Aturan yang jelas dan diterapkan secara berkesinambungan, kerja sama tumbuh lebih alami dan hubungan antara orangtua dan anak menjadi lebih tenang dan selaras.