Fimela.com, Jakarta - Kesemutan merupakan sensasi tidak nyaman seperti tertusuk jarum, kebas, atau mati rasa yang biasanya muncul di tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya. Banyak orang menganggap kesemutan sebagai hal sepele karena sering hilang dengan sendirinya setelah beberapa saat. Namun, jika terjadi terlalu sering atau berlangsung lama, kesemutan bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saraf atau aliran darah. Tanpa disadari, berbagai kebiasaan sehari-hari ternyata menjadi pemicu paling umum munculnya kesemutan.
Kesemutan terjadi ketika aliran darah atau sinyal saraf terganggu sementara. Kondisi ini sering kali dipicu oleh tekanan pada saraf atau pembuluh darah dalam waktu tertentu. Misalnya, saat duduk atau berbaring dalam posisi yang sama terlalu lama, aliran darah menjadi tidak lancar sehingga saraf kekurangan oksigen. Akibatnya, muncul rasa kebas, dingin, atau seperti ditusuk-tusuk di bagian tubuh tertentu.
Jika kesemutan hanya terjadi sesekali dan cepat menghilang, biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, ada juga kesemutan yang muncul berulang kali, terjadi di waktu tertentu, atau disertai nyeri dan kelemahan otot. Kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda gangguan kesehatan yang lebih serius. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa saja penyebab kesemutan yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Posisi Tubuh yang Salah dan Terlalu Lama Diam
Salah satu penyebab utama kesemutan adalah posisi tubuh yang salah dalam waktu lama, seperti duduk bersila terlalu lama, menindih tangan saat tidur, atau duduk dengan posisi membungkuk dalam durasi panjang. Posisi tersebut dapat menekan saraf dan pembuluh darah sehingga menyebabkan aliran darah tidak lancar. Akibatnya, suplai oksigen ke jaringan tubuh menjadi terganggu dan memicu rasa mati rasa serta kesemutan. Setelah posisi tubuh diubah, aliran darah kembali normal dan sensasi kesemutan biasanya perlahan menghilang.
Kebiasaan terlalu lama diam, seperti duduk berjam-jam di depan komputer atau menatap ponsel tanpa bergerak, juga berkontribusi besar terhadap munculnya kesemutan. Kurangnya gerakan membuat sirkulasi darah melambat dan otot menjadi tegang. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini tidak hanya memicu kesemutan, tetapi juga meningkatkan risiko nyeri otot, pegal, dan gangguan postur tubuh.
Kekurangan Vitamin dan Gangguan Aliran Darah
Kesemutan juga sangat sering terjadi akibat kekurangan vitamin, terutama vitamin B1, B6, dan B12 yang berperan penting dalam menjaga kesehatan saraf. Kekurangan vitamin ini membuat saraf menjadi lebih sensitif dan mudah terganggu, sehingga sinyal saraf tidak dapat bekerja secara optimal. Kondisi ini biasanya dialami oleh orang yang jarang mengonsumsi makanan bergizi, terlalu sering melewatkan waktu makan, menjalani diet ekstrem, atau memiliki gangguan penyerapan nutrisi di saluran pencernaan.
Selain kekurangan vitamin, aliran darah yang tidak lancar juga menjadi pemicu utama kesemutan. Kebiasaan jarang bergerak, merokok, serta kurang minum air putih dapat memperburuk sirkulasi darah. Jika aliran darah terganggu, oksigen dan nutrisi tidak tersalurkan dengan baik ke jaringan tubuh, sehingga saraf menjadi lebih mudah mengalami gangguan dan memicu rasa kesemutan yang datang berulang.
Stres, Kelelahan, dan Kondisi Medis Tertentu
Stres berlebihan dan kelelahan fisik juga bisa menjadi penyebab kesemutan yang sering tidak disadari. Saat stres, tubuh mengalami ketegangan otot dan perubahan hormon yang memengaruhi sistem saraf. Otot yang tegang dapat menekan saraf tertentu dan mengganggu aliran darah, sehingga muncul sensasi kebas dan kesemutan, terutama di tangan, kaki, atau wajah. Kurang tidur juga memperparah kondisi ini karena tubuh tidak mendapat waktu pemulihan yang cukup.
Selain faktor kebiasaan dan gaya hidup, kesemutan juga bisa menjadi tanda kondisi medis tertentu seperti diabetes, gangguan saraf perifer, masalah tulang belakang, hingga gangguan pada leher dan punggung. Pada penderita diabetes, kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak saraf dan menyebabkan kesemutan kronis. Jika kesemutan terjadi terus-menerus, disertai nyeri hebat, kelemahan otot, atau gangguan keseimbangan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Kesemutan memang sering dianggap sebagai keluhan ringan yang bisa hilang dengan sendirinya, tetapi jika terjadi terlalu sering, kondisi ini tidak boleh diabaikan. Mengenali penyebabnya sejak dini membantu kita lebih peduli terhadap kesehatan saraf dan aliran darah dalam tubuh. Dengan memperbaiki kebiasaan sehari-hari, menjaga asupan nutrisi, serta mengelola stres dengan baik, risiko kesemutan yang mengganggu dapat diminimalkan sehingga kualitas hidup pun tetap terjaga.