Tips Makan Malam yang Nggak Bikin Berat Badan Naik Walau Tidur Cepat

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 01 Februari 2026, 12:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah merasa lapar saat malam hari, tapi kamu takut makan karena jadwal tidurmu cukup cepat? Banyak orang mengalami dilema yang sama yaitu ingin tidur nyenyak, tapi juga tidak mau berat badan naik gara-gara makan malam. Kondisi ini sering membuat kita bingung harus makan atau menahan lapar, padahal keduanya bisa memengaruhi kenyamanan tidur. Karena itu, penting untuk memahami cara makan malam yang aman dan tetap ramah untuk timbangan.

Melansir laman healthline.com makan sebelum tidur sebenarnya adalah topik yang sering diperdebatkan dalam dunia kesehatan. Ada yang bilang makan malam bisa bikin gemuk karena metabolisme melambat saat tidur, sehingga kalori lebih mudah disimpan sebagai lemak. Di sisi lain, ada juga ahli yang justru mengatakan makan malam boleh saja selama porsinya tepat dan jenis makanannya benar. Jadi tidak heran kalau banyak orang bingung mana yang harus diikuti.

Salah satu penyebab kebingungan ini adalah karena ada penelitian yang mendukung kedua pendapat tersebut. Meski banyak yang percaya metabolisme menurun saat tidur, tubuh sebenarnya tetap membutuhkan energi cukup besar di malam hari. Bahkan, laju metabolisme saat malam tidak jauh berbeda dengan siang hari. Itu berarti tubuh tetap “bekerja” dan membakar kalori meski kita sudah tertidur.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Kebiasaan malam hari yang memengaruhi berat badan

Rasa lapar di malam hari bisa dipicu oleh stres. (foto: tirachardz/freepik)

Selain itu, belum ada bukti kuat bahwa kalori yang masuk menjelang tidur lebih mudah berubah menjadi lemak dibandingkan kalori yang dikonsumsi pada waktu lain. Meski begitu, berbagai penelitian tetap menemukan hubungan antara makan malam dan kenaikan berat badan. Hal ini seringkali membuat kita berpikir bahwa makan malam pasti menyebabkan tubuh menggemuk.

Tapi faktanya, penyebab kenaikan berat badan bukan semata-mata karena waktunya, melainkan kebiasaan yang terjadi bersamaan. Banyak orang makan malam sebagai “makan tambahan” yang meningkatkan total kalori harian tanpa disadari. Belum lagi dorongan lapar yang biasanya lebih kuat di malam hari, sehingga membuat kita makan lebih banyak dari kebutuhan tubuh.

Untuk beberapa orang, rasa lapar di malam hari juga bisa dipicu oleh stres atau kurang makan di siang hari. Kondisi ini bisa menciptakan siklus tidak sehat yaitu makan terlalu banyak sebelum tidur, merasa kenyang berlebihan saat bangun, lalu melewatkan sarapan dan kembali kelaparan di malam hari. Pola ini bisa meningkatkan risiko berat badan naik jika berlangsung terus-menerus.

3 dari 3 halaman

Dampak makan malam terhadap pencernaan, nafsu makan, dan kualitas tidur

Makan terlalu dekat dengan waktu tidur dapat memicu masalah pencernaan. (foto: jcomp/freepik)

Selain urusan berat badan, makan terlalu dekat dengan waktu tidur juga bisa memicu masalah pencernaan, terutama bagi kamu yang punya riwayat asam lambung. Saat berbaring, makanan lebih mudah naik kembali ke kerongkongan, memicu sensasi panas atau tidak nyaman. Karena itu, orang yang punya masalah GERD disarankan memberi jeda sekitar tiga jam sebelum tidur dan menghindari makanan pemicu seperti kopi, cokelat, atau makanan pedas.

Di sisi lain, makan malam yang tepat justru bisa membawa manfaat. Untuk orang yang sering kelaparan di malam hari, menyediakan camilan sehat dengan porsi terkontrol bisa membantu menekan keinginan ngemil berlebihan. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa camilan kecil dan sehat di malam hari dapat membantu mengatur nafsu makan dan mendukung penurunan berat badan.

Tidak hanya itu, tidur cukup juga berperan besar dalam menjaga stabilitas berat badan. Kurang tidur sering kali membuat tubuh lebih mudah lapar dan meningkatkan keinginan untuk makan makanan tinggi kalori. Karena itu, makan malam yang benar dengan porsi kecil, ringan, dan sehat bisa membantu tidur lebih nyenyak tanpa membuat berat badan bertambah.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa