Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, menjadi anak di era sekarang ternyata tidak selalu lebih mudah. Meski teknologi berkembang pesat dan akses hiburan begitu luas, banyak anak justru merasa semakin kesulitan mengelola emosi yang tidak nyaman, seperti cemas, takut, kecewa, atau stres. Alih-alih mengungkapkan perasaan tersebut, anak sering memilih menghindar, entah dengan menunda tugas, menarik diri dari pergaulan, atau mengalihkan perhatian ke layar gawai.
Mengapa Anak Semakin Sulit Menghadapi Ketidaknyamanan Emosi?
Dilansir dari Anxiety & Depression Association of America, terdapat beberapa faktor berperan besar dalam kondisi ini, Sahabat Fimela.
1. Faktor Lingkungan
Tekanan akademik dan sosial membuat anak lebih sering merasa khawatir dan stres. Ketika anak belum percaya diri mengelola emosinya, reaksi yang muncul biasanya adalah keinginan agar perasaan tidak nyaman itu segera hilang. Akibatnya, anak cenderung menghindari sumber ketidaknyamanan, seperti belajar untuk ujian atau memulai interaksi sosial.
2. Faktor Pola Asuh
Tanpa disadari, orang tua yang berniat melindungi justru bisa memperkuat kebiasaan menghindar. Misalnya, saat anak ingin berhenti dari suatu aktivitas, orang tua langsung mengizinkan tanpa menggali alasan di baliknya. Padahal, penting untuk memastikan keputusan tersebut benar-benar sehat bagi perkembangan jangka panjang anak, bukan sekadar cara cepat menghindari rasa tidak nyaman.
3. Faktor Teknologi
Gawai menawarkan pelarian instan. Saat merasa cemas atau kewalahan, anak bisa langsung “kabur” ke dunia digital tanpa perlu menghadapi perasaan tersebut. Sayangnya, ini membuat anak kehilangan kesempatan berlatih mengenali, mengungkapkan, dan mengelola ketidaknyamanan emosinya.
Tips Mengajarkan Anak Mengungkapkan Ketidaknyamanan dengan Sehat
Berikut beberapa tips mengajarkan anak mengungkapkan ketidaknyamanan yang bisa Sahabat Fimela terapkan di rumah:
1. Jadikan Ini Tujuan Keluarga
Mengelola ketidaknyamanan bukan hanya tugas anak. Ajak seluruh anggota keluarga menetapkan tujuan untuk belajar menghadapi emosi sulit bersama-sama. Anak akan merasa tidak sendirian.
2. Atur Batasan Screen Time
Bukan melarang sepenuhnya, tetapi menciptakan keseimbangan. Batasi waktu layar dan pastikan anak tetap memiliki ruang untuk berinteraksi langsung dan merasakan berbagai emosi secara nyata.
3. Dorong Aktivitas di Luar Rumah
Kegiatan seperti olahraga, musik, atau komunitas hobi memberi anak kesempatan alami untuk menghadapi tantangan, belajar bertahan, dan membangun kepercayaan diri.
4. Latih Anak Menghadapi Ketidaknyamanan
Kemampuan ini perlu dilatih. Dari kalah dalam pertandingan hingga kesulitan memahami pelajaran, semua adalah momen belajar yang berharga.
5. Manfaatkan Momen Sehari-hari sebagai Pelajaran
Soroti keberanian anak saat mencoba hal baru atau bertahan meski sulit. Hubungkan pengalaman tersebut dengan situasi lain dalam hidupnya.
6. Beri Contoh Nyata
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Tunjukkan bagaimana Sahabat Fimela menghadapi stres, kecewa, atau kegagalan dengan cara yang sehat.
7. Lebih Banyak Validasi, Kurangi Menggurui
Alih-alih langsung memberi solusi, ajukan pertanyaan terbuka seperti, “Apa yang paling bikin kamu tidak nyaman hari ini?” Ini membantu anak belajar mengekspresikan perasaannya.
8. Jangan Terburu-buru ‘Memperbaiki’
Melihat anak tidak nyaman memang berat, tetapi terlalu cepat menyingkirkan masalah justru menghilangkan kesempatan anak membangun ketahanan emosional.