Mengapa Merasa Kesepian? Ini 7 Alasan Utama yang Sering Menghantui Banyak Orang

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 14 Januari 2026, 08:35 WIB

ringkasan

  • Kesepian adalah respons emosional yang tidak menyenangkan terhadap isolasi yang dirasakan, seringkali muncul dari kurangnya koneksi bermakna dan bukan sekadar kesendirian fisik.
  • Peristiwa hidup besar seperti kehilangan orang terkasih, perpisahan, atau perubahan lokasi, serta kondisi kesehatan fisik dan mental, dapat secara signifikan memicu perasaan kesepian.
  • Faktor psikologis seperti harga diri rendah dan kecemasan sosial, ditambah dengan pengaruh lingkungan sosial, teknologi, dan kelompok usia tertentu, turut memperumit pengalaman kesepian.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa merasa kesepian, bahkan saat berada di tengah keramaian? Perasaan kesepian, atau loneliness, adalah respons emosional yang tidak menyenangkan terhadap isolasi yang dirasakan atau aktual. Ini sering digambarkan sebagai rasa sakit sosial, sebuah mekanisme psikologis yang mendorong individu untuk mencari koneksi sosial yang lebih dalam.

Kondisi ini berbeda dengan kesendirian (solitude); seseorang bisa merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang, dan sebaliknya, bisa merasa nyaman saat sendirian. Kesepian seringkali dikaitkan dengan kurangnya koneksi emosional dan keintiman yang dirasakan, bukan sekadar absennya orang di sekitar Anda. Ini adalah pengalaman universal yang dialami setiap orang pada suatu waktu dalam hidup mereka.

Memahami akar penyebab mengapa merasa kesepian sangat penting untuk mengatasi perasaan ini secara efektif. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai faktor komprehensif yang dapat memicu kesepian, dari kurangnya koneksi bermakna hingga pengaruh lingkungan sosial dan kondisi kesehatan. Mari kita telaah lebih jauh apa saja yang membuat seseorang merasa terisolasi secara emosional.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Kurangnya Koneksi Bermakna dan Peristiwa Hidup Pemicu

Salah satu alasan utama mengapa merasa kesepian adalah absennya koneksi yang mendalam dan bermakna dengan orang lain. Kualitas hubungan jauh lebih penting daripada kuantitasnya. Seseorang dapat merasa terisolasi secara sosial meskipun berada di tengah banyak orang jika tidak ada ikatan emosional atau intelektual yang kuat.

Selain itu, peristiwa kehidupan besar dan transisi signifikan seringkali menjadi katalisator perasaan kesepian. Kehilangan orang terkasih, seperti pasangan atau anggota keluarga, dapat menciptakan kekosongan emosional yang mendalam. Perpisahan atau perceraian juga memicu perasaan terisolasi, mengubah dinamika sosial seseorang secara drastis.

Pindah ke lokasi baru, baik itu kota atau negara, dapat menjadi tantangan besar dalam membangun jaringan sosial. Perubahan pekerjaan, memulai universitas, atau bahkan menjadi orang tua juga dapat mengubah lingkaran sosial dan memicu kesepian. Bahkan, 83% ibu di bawah 30 tahun dilaporkan merasa kesepian setidaknya sesekali, menunjukkan betapa umum pengalaman ini.

Perubahan dalam struktur keluarga, seperti anak dewasa yang meninggalkan rumah atau hubungan keluarga yang renggang, turut berkontribusi pada perasaan kesepian. Ini menunjukkan bahwa kesepian tidak hanya tentang ketiadaan orang, tetapi juga tentang perubahan dalam kualitas dan ketersediaan dukungan sosial yang dirasakan.

3 dari 4 halaman

Dampak Kesehatan Fisik, Mental, dan Faktor Psikologis

Ilustrasi sedih, kecewa, patah hati, putus cinta, terluka. (Photo by Joshua Rawson-Harris on Unsplash)

Kondisi kesehatan fisik dan mental memiliki peran signifikan dalam menjelaskan mengapa merasa kesepian. Masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kecemasan sosial dapat menghambat kemampuan seseorang untuk terlibat dalam aktivitas sosial atau membentuk hubungan yang sehat. Ini menciptakan lingkaran setan di mana kesepian memperburuk kondisi mental, dan sebaliknya.

Orang dengan kondisi kesehatan jangka panjang atau disabilitas juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesepian. Misalnya, 61% penyandang disabilitas dilaporkan mengalami kesepian kronis. Kesulitan pendengaran atau penglihatan dapat menyulitkan interaksi sosial, menyebabkan penarikan diri dan isolasi yang tidak diinginkan.

Faktor psikologis dan kepribadian turut berperan besar. Kecemasan sosial dan rasa malu dapat menghambat pembentukan hubungan yang langgeng, dengan ketakutan akan interaksi sosial yang melumpuhkan. Harga diri rendah juga berkontribusi pada kesepian kronis, karena perasaan tidak berharga dapat mencegah upaya untuk menjalin koneksi mendalam.

Selain itu, keterampilan komunikasi yang buruk atau kurangnya kesadaran diri dapat menyulitkan pembentukan pertemanan baru. Sensitivitas berlebihan terhadap penolakan juga dapat memperkuat perasaan kesepian, menciptakan persepsi negatif terhadap interaksi sosial. Ini menunjukkan bahwa kesepian seringkali berakar pada kompleksitas internal individu.

4 dari 4 halaman

Lingkungan Sosial dan Usia: Mengapa Kesepian Kian Kompleks?

Faktor lingkungan dan sosial juga sangat memengaruhi mengapa merasa kesepian. Isolasi fisik, seperti tinggal sendiri atau di daerah pedesaan, dapat meningkatkan risiko. Status sosial ekonomi yang rendah dan pengalaman diskriminasi karena usia, ras, orientasi seksual, atau disabilitas juga dapat menyebabkan isolasi.

Hambatan bahasa di negara asing dapat sangat menyulitkan pembentukan pertemanan. Ironisnya, teknologi dan media sosial, meskipun memfasilitasi interaksi, juga dapat berkontribusi pada kesepian jika digunakan secara berlebihan. Interaksi online mungkin tidak memberikan kedalaman koneksi yang sama dengan tatap muka, dan melihat kehidupan "sempurna" orang lain di media sosial dapat memicu kecemasan.

Perubahan ekonomi dan urbanisasi juga berperan. Tekanan ekonomi dan penyebaran kota dapat mengurangi interaksi sosial komunitas. Kurangnya jaringan dukungan sosial yang kuat, di mana tidak ada teman dekat atau anggota keluarga untuk berbagi, secara signifikan meningkatkan perasaan terisolasi.

Faktor usia juga penting. Remaja dan dewasa muda (16-24 tahun) mungkin kurang berpengalaman dalam mengelola emosi intens, dan media sosial dapat memperburuk perasaan kesepian mereka. Sementara itu, orang tua menghadapi risiko kesepian karena duka, hidup sendiri, disabilitas, atau eksklusi digital. Memahami faktor-faktor ini adalah langkah awal untuk mengatasi kesepian secara holistik.