Suhu Dingin Tidak Membuat Sakit, Ini Penyebab Sebenarnya Flu dan Pilek!

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 21 Januari 2026, 19:50 WIB

ringkasan

  • Suhu dingin sendiri tidak secara langsung menyebabkan penyakit seperti flu atau pilek, melainkan menciptakan kondisi yang membuat tubuh lebih rentan terhadap virus pernapasan.
  • Faktor-faktor seperti virus yang bertahan lebih lama di udara dingin dan kering, respons kekebalan tubuh yang melemah, serta perubahan perilaku sosial dan lingkungan berkontribusi pada peningkatan risiko sakit
  • Untuk melindungi diri, penting untuk menjaga kebersihan, memastikan ventilasi yang baik di dalam ruangan, dan mendukung sistem kekebalan tubuh melalui nutrisi yang cukup, termasuk vitamin D.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, seringkali kita mendengar anggapan bahwa suhu dingin secara langsung menyebabkan kita sakit, seperti flu atau pilek. Mitos ini telah lama beredar di masyarakat dan menjadi kepercayaan umum yang sulit dihilangkan. Namun, penelitian modern dan pandangan para ahli kesehatan justru mengungkapkan fakta yang berbeda dan lebih kompleks.

Sebenarnya, suhu dingin itu sendiri tidak secara langsung memicu infeksi virus yang menyebabkan penyakit. Infeksi seperti pilek dan flu disebabkan oleh virus, bukan oleh paparan udara dingin semata. Para ahli menjelaskan bahwa cuaca dingin justru menciptakan kondisi biologis, lingkungan, dan sosial yang membuat tubuh lebih rentan terhadap serangan virus pernapasan.

Jadi, apa sebenarnya yang membuat kita mudah sakit saat musim dingin tiba? Ada beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus penyakit. Memahami penyebab sebenarnya ini sangat penting agar kita bisa mengambil langkah pencegahan yang lebih efektif untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga.

2 dari 4 halaman

Virus Lebih Tangguh di Udara Dingin dan Kering

Salah satu alasan mengapa penyakit pernapasan meningkat di musim dingin adalah karena virus menjadi lebih 'tangguh' dalam kondisi tertentu. Banyak virus pernapasan, termasuk virus influenza dan coronavirus, dapat bertahan hidup lebih lama dan tetap menular untuk periode yang lebih panjang dalam kondisi dingin dan kering. Ini berarti virus memiliki lebih banyak waktu untuk menyebar dan menginfeksi orang lain.

Udara kering juga memainkan peran penting dalam penyebaran virus. Ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara, mereka mengeluarkan tetesan kecil yang mengandung virus. Di udara yang kering, tetesan ini menguap lebih cepat, menyisakan partikel virus yang lebih kecil. Partikel-partikel ringan ini bisa melayang di udara lebih lama, meningkatkan kemungkinan terhirup oleh orang di sekitar.

Kondisi ini secara tidak langsung mendukung penyebaran penyakit. Dengan virus yang bertahan lebih lama di permukaan dan di udara, peluang penularan menjadi lebih tinggi. Ini menjelaskan mengapa meskipun suhu dingin tidak membuat sakit secara langsung, ia menciptakan lingkungan yang ideal bagi virus untuk berkembang biak dan menyebar dengan lebih efisien.

3 dari 4 halaman

Kekebalan Tubuh Melemah Saat Suhu Dingin

Selain virus yang menjadi lebih kuat, sistem kekebalan tubuh kita juga bisa melemah saat terpapar suhu dingin. Menghirup udara dingin dapat melemahkan respons kekebalan tubuh di hidung dan saluran udara. Ini terjadi karena berkurangnya aliran darah dan terganggunya efektivitas lendir, sehingga virus lebih mudah menyebabkan infeksi.

Lendir memiliki peran krusial dalam menjebak virus dan bakteri, kemudian mengeluarkannya dari saluran pernapasan melalui proses pembersihan mukosiliar. Namun, udara dingin dan kering, terutama dari pemanas ruangan, dapat mengeringkan lapisan hidung dan tenggorokan. Akibatnya, lendir menjadi kurang efektif dalam menjalankan fungsinya, membuat virus lebih mudah masuk dan menyebabkan infeksi.

Penurunan efektivitas pertahanan alami tubuh ini menjadi salah satu faktor kunci mengapa kita lebih rentan sakit. Meskipun suhu dingin tidak membuat sakit secara langsung, ia melemahkan benteng pertahanan tubuh kita. Oleh karena itu, menjaga kelembaban udara di dalam ruangan dan menghangatkan tubuh menjadi penting untuk menjaga daya tahan tubuh.

4 dari 4 halaman

Perubahan Perilaku dan Lingkungan di Musim Dingin

Perubahan perilaku sosial dan kondisi lingkungan juga berkontribusi pada peningkatan kasus penyakit selama musim dingin. Saat cuaca dingin, Sahabat Fimela cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Seringkali, ruangan-ruangan ini ramai dan memiliki ventilasi yang kurang baik.

Lingkungan dalam ruangan yang tertutup dan padat menjadi tempat ideal bagi virus untuk menyebar. Tetesan yang mengandung virus dapat menumpuk di udara, dan penularan antarmanusia menjadi jauh lebih mudah. Ini adalah faktor penting yang menjelaskan mengapa meskipun suhu dingin tidak membuat sakit, interaksi di dalam ruangan yang buruk ventilasinya sangat berisiko.

Selain itu, paparan sinar matahari yang berkurang di musim dingin juga berdampak pada kesehatan. Produksi vitamin D di kulit menurun drastis karena kurangnya sinar UV. Vitamin D dikenal berperan penting dalam mengatur fungsi kekebalan tubuh, dan kadar yang rendah dapat melemahkan respons imun. Jadi, kombinasi faktor-faktor ini secara kolektif meningkatkan risiko sakit, menjadikan cuaca dingin sebagai 'penguat risiko' daripada penyebab langsung penyakit.