Waspada!Virus Nipah, Penyakit Zoonosis Mematikan dengan Angka Fatalitas Tinggi

Nabila MecadinisaDiterbitkan 27 Januari 2026, 22:40 WIB

ringkasan

  • Virus Nipah adalah penyakit zoonosis mematikan yang ditularkan dari kelelawar buah ke manusia dan dapat menyebar antarmanusia, dengan tingkat fatalitas kasus mencapai 40-75%.
  • Belum ada pengobatan atau vaksin spesifik untuk virus Nipah, sehingga pencegahan melalui menghindari kontak dengan hewan terinfeksi dan makanan terkontaminasi menjadi kunci utama.
  • Meskipun potensi pandeminya dinilai rendah secara global karena pola penularan klaster lokal, virus Nipah tetap menjadi ancaman serius yang memerlukan kewaspadaan dan deteksi dini, seperti yang ditunjukkan oleh wabah terbaru

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah mendengar tentang virus Nipah? Virus mematikan ini merupakan penyakit zoonosis yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia, menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan wabah parah. Penyakit ini dinamai berdasarkan desa tempat peternak babi pertama kali terinfeksi, menunjukkan betapa dekatnya ancaman ini dengan kehidupan sehari-hari.

Virus Nipah ditularkan oleh kelelawar buah dan memiliki potensi pandemi yang serius karena kemampuannya menular antarmanusia melalui kontak dekat. Dengan tingkat kematian yang sangat tinggi, antara 40% hingga 75%, virus ini menjadi perhatian global bagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Meskipun wabah cenderung bersifat klaster lokal, deteksi dini dan langkah pencegahan sangat krusial untuk melindungi diri dan komunitas. Baru-baru ini, Taiwan bahkan telah mengklasifikasikan virus Nipah sebagai penyakit yang wajib dilaporkan setelah adanya wabah di India pada Januari 2026.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Mengenal Lebih Dekat Virus Nipah: Asal-usul dan Karakteristik

Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA dari genus Henipavirus, famili Paramyxoviridae, yang dikenal sebagai patogen zoonosis. Virus ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia, melalui makanan yang terkontaminasi, atau bahkan langsung antarmanusia.

Pertama kali teridentifikasi pada tahun 1998 di Semenanjung Malaysia, virus ini menyebabkan wabah pada peternak babi dan dinamai berdasarkan desa tempat kasus pertama ditemukan. Pada pertengahan 1999, lebih dari 265 kasus ensefalitis pada manusia, termasuk 105 kematian, dilaporkan di Malaysia, serta 11 kasus di Singapura.

Virus Nipah sangat patogenik bagi berbagai mamalia dan diklasifikasikan sebagai agen Kategori C oleh CDC. WHO juga menempatkannya dalam daftar penyakit prioritas yang membutuhkan penelitian mendesak, mengingat potensi pandeminya karena penularan dari manusia ke manusia.

3 dari 5 halaman

Jalur Penularan Virus Nipah: Dari Kelelawar Hingga Manusia

ciri virus ©Ilustrasi dibuat AI

Inang alami virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus. Penularan awal ke manusia seringkali terjadi karena perubahan ekosistem, di mana penebangan hutan menyebabkan kelelawar kehilangan habitat dan mendekati pemukiman manusia serta peternakan.

Virus ini dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti kelelawar atau babi. Selain itu, mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi urine atau air liur kelelawar, seperti nira kurma mentah atau buah yang telah digigit kelelawar, juga menjadi jalur penularan.

Penularan virus Nipah juga bisa terjadi antarmanusia melalui kontak dekat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Wabah virus Nipah telah terjadi hampir setiap tahun di beberapa bagian Asia, terutama di Bangladesh dan India, menunjukkan pola penularan yang perlu diwaspadai.

4 dari 5 halaman

Gejala, Diagnosis, dan Pencegahan Virus Nipah yang Penting Diketahui

Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4 hingga 14 hari, namun bisa mencapai 45 hari pada beberapa kasus. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), batuk, sakit tenggorokan, mual dan muntah, serta kesulitan bernapas (sesak napas).

Jika tidak ditangani, gejala dapat berkembang menjadi lebih parah, termasuk pusing, mengantuk, perubahan kesadaran, ensefalitis (radang otak), kejang, hingga koma, yang dapat terjadi dalam 24-48 jam setelah timbulnya gejala ensefalitis. Tingkat kematian kasus diperkirakan antara 40% hingga 75%, dan beberapa penyintas dapat mengalami efek jangka panjang seperti kejang persisten.

Diagnosis dini infeksi Nipah sangat menantang karena gejala awal yang tidak spesifik, namun krusial untuk penanganan dan pencegahan penularan. Pada tahap awal, tes RT-PCR dari usap tenggorokan, hidung, cairan serebrospinal, urin, atau darah dapat digunakan. Untuk tahap akhir atau setelah pemulihan, tes antibodi ELISA lebih relevan.

Saat ini, belum ada pengobatan atau vaksin berlisensi yang tersedia khusus untuk infeksi virus Nipah pada manusia. Pengobatan terbatas pada perawatan suportif intensif. Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci utama, seperti menghindari kontak langsung dengan hewan sakit, tidak mengonsumsi nira kurma mentah atau buah yang terkontaminasi kelelawar, serta menjaga kebersihan diri. Petugas kesehatan juga wajib menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.

5 dari 5 halaman

Ancaman Global dan Kesiapsiagaan Terhadap Virus Nipah

Virus Nipah telah diidentifikasi oleh WHO sebagai salah satu virus yang berpotensi menyebabkan epidemi di masa depan. Kehadiran kelelawar buah di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia, diakui sebagai faktor risiko potensial untuk wabah virus Nipah di masa mendatang.

Meskipun demikian, beberapa ahli epidemiologi, seperti Dicky Budiman, menilai potensi virus Nipah menjadi pandemi global masih rendah dibandingkan penyakit pernapasan seperti COVID-19. Ini karena pola penularannya cenderung bersifat klaster lokal, terutama di lingkungan keluarga atau fasilitas kesehatan.

Namun, kewaspadaan tetap harus tinggi. Pada 27 Januari 2026, Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Taiwan akan memasukkan infeksi virus Nipah sebagai penyakit yang wajib dilaporkan dalam Kategori 5. Langkah ini diambil setelah India mencatat 5 kasus dugaan infeksi virus Nipah di Benggala Barat antara 27 Desember 2025 hingga 26 Januari 2026, dengan dua di antaranya terkonfirmasi.