5 Cara Orangtua Mengajarkan Anak Mengelola Uang Jajan dengan Sederhana dan Efektif Sejak Dini

Siti Nur ArishaDiterbitkan 03 Maret 2026, 20:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, mengajarkan anak mengelola uang jajan bukan sekadar soal memberi mereka sejumlah uang setiap minggu, tetapi juga tentang membentuk kebiasaan dan pola pikir yang sehat terhadap finansial sejak dini. Banyak orangtua baru menyadari pentingnya literasi keuangan ketika anak sudah beranjak remaja, padahal kemampuan memahami nilai uang bisa dimulai bahkan sejak usia balita.

Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan tidak mudah tergoda perilaku konsumtif. Uang jajan sering kali dianggap hal kecil, namun justru dari situlah anak belajar membuat keputusan, menunda keinginan, serta memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Orangtua memiliki peran besar dalam membimbing proses ini, bukan dengan ceramah panjang, melainkan lewat aktivitas sederhana yang menyenangkan. Saat anak dilibatkan langsung dalam pengalaman sehari-hari, pelajaran finansial akan terasa lebih nyata dan mudah dipahami.

Pendekatan pengelolaan uang yang ringan dan penuh interaksi terbukti membantu anak lebih cepat memahami konsep menabung, berbagi, hingga merencanakan pengeluaran. Dengan kebiasaan kecil yang konsisten, anak bisa memiliki bekal finansial yang kuat ketika dewasa nanti, dilansir dari parrent 4 success. Yuk simak penjelasan lengkapnya!

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Ajarkan Konsep Uang Sejak Usia Dini

Kegiatan seperti membiarkan anak membayar sendiri di kasir dengan pengawasan juga bisa menjadi pengalaman berharga. Dari sini, anak belajar bahwa uang memiliki nilai dan tidak datang begitu saja. (foto/dok: freepik/jcomp)

Belajar tentang uang tidak harus menunggu anak bisa berhitung dengan lancar. Pada usia balita, orangtua sudah bisa memperkenalkan uang melalui permainan sederhana seperti pura-pura berbelanja atau membuka “toko” kecil di rumah. Anak akan mulai memahami bahwa uang digunakan untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan.

Kegiatan seperti membiarkan anak membayar sendiri di kasir dengan pengawasan juga bisa menjadi pengalaman berharga. Dari sini, anak belajar bahwa uang memiliki nilai dan tidak datang begitu saja.

2. Biasakan Anak Menabung dengan Cara Menyenangkan

Menabung akan terasa lebih menarik jika dibuat visual dan menyenangkan. Orangtua bisa menyediakan celengan transparan agar anak dapat melihat perkembangan uangnya. Beri tujuan menabung yang jelas, misalnya untuk membeli mainan atau buku favorit.

Dengan adanya target, anak belajar menunda keinginan dan memahami bahwa sesuatu yang diinginkan membutuhkan proses. Kebiasaan ini juga melatih kesabaran serta rasa tanggung jawab.

3. Terapkan Aturan Pembagian Uang Jajan

Agar anak tidak langsung menghabiskan uang jajan, orangtua bisa mengenalkan sistem pembagian sederhana. Misalnya 50% untuk tabungan, 40% untuk kebutuhan atau keinginan pribadi, dan 10% untuk berbagi atau donasi.

Metode ini membantu anak memahami bahwa uang tidak hanya untuk dibelanjakan, tetapi juga untuk disimpan dan dibagikan. Secara tidak langsung, anak juga belajar nilai empati dan kepedulian sosial.

 

3 dari 3 halaman

4. Libatkan Anak dalam Aktivitas Keuangan Keluarga

Untuk anak usia sekolah, orangtua bisa mulai melibatkan mereka dalam kegiatan seperti membuat daftar belanja, membandingkan harga, atau menghitung kembalian. Aktivitas ini melatih kemampuan berhitung sekaligus mengasah logika finansial mereka. (foto/dok: freepik/drobotdean)

Untuk anak usia sekolah, orangtua bisa mulai melibatkan mereka dalam kegiatan seperti membuat daftar belanja, membandingkan harga, atau menghitung kembalian. Aktivitas ini melatih kemampuan berhitung sekaligus mengasah logika finansial mereka.

Anak akan belajar bahwa setiap keputusan belanja memiliki konsekuensi. Selain itu, mereka juga bisa memahami pentingnya memilih barang yang berkualitas dengan harga yang masuk akal.

5. Dorong Anak Belajar Menghasilkan Uang

Seiring bertambahnya usia, anak bisa diajak memahami bahwa uang juga bisa diperoleh melalui usaha. Orangtua dapat memberikan kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan melalui tugas rumah sederhana atau proyek kecil seperti menjual kerajinan tangan.

Pengalaman ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan etos kerja sejak dini. Anak akan lebih menghargai uang yang diperoleh dari usaha sendiri dibanding uang yang diberikan tanpa proses.

Sahabat Fimela, mengajarkan anak mengelola uang jajan tidak harus rumit atau penuh aturan ketat. Justru melalui pendekatan sederhana, konsisten, dan menyenangkan, anak dapat memahami nilai uang secara alami. Kebiasaan kecil yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal besar bagi masa depan finansial mereka.

Penulis: Siti Nur Arisha