Cuma 15 Menit, Ini Manfaat Jalan Santai Setelah Tarawih atau Sebelum Tidur

Kayla BridgitteDiterbitkan 23 Februari 2026, 17:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ramadan selalu punya ritmenya sendiri. Dari sahur yang sunyi, aktivitas siang yang menuntut energi lebih besar, hingga malam yang kembali hidup setelah berbuka dan tarawih. Di sela rangkaian itu, ada satu momen yang sering terlewatkan: jeda sebelum benar-benar menutup hari.

Sebagian orang memilih langsung beristirahat begitu seluruh rangkaian ibadah selesai. Sebagian lainnya masih larut dengan gawai atau obrolan ringan. Padahal, malam bisa menjadi ruang transisi yang lebih bermakna, bukan sekadar peralihan dari sibuk ke tidur, tetapi momen untuk menenangkan tubuh dan pikiran secara sadar.

Dilansir dari PubMed Central, selain durasi tidur, kualitas tidur juga penting untuk dipertimbangkan. Meskipun kualitas tidur biasanya lebih sulit diukur karena bersifat subjektif, kualitas tidur memiliki pengaruh yang nyata terhadap kognisi dan kesehatan.

Kebiasaan kecil sebelum tidur sering kali menentukan kualitas istirahat kita. Bukan hanya soal durasi, melainkan bagaimana tubuh dipersiapkan untuk benar-benar rileks. Rutinitas malam yang konsisten memberi sinyal pada tubuh bahwa hari telah selesai dan saatnya beralih ke fase pemulihan.

Di tengah jadwal yang terasa lebih padat selama Ramadan, menemukan ritual sederhana yang bisa dilakukan tanpa tekanan menjadi penting. Tidak harus rumit atau memakan waktu lama, cukup sesuatu yang realistis, mudah dilakukan, dan terasa menyenangkan.

Dari sinilah kebiasaan berjalan santai selama 15–20 menit setelah tarawih atau sebelum tidur mulai banyak dilirik. Bukan sebagai olahraga berat, melainkan sebagai bagian dari ritual malam yang membantu tubuh dan pikiran bertransisi secara perlahan menuju istirahat.

2 dari 4 halaman

Bantu Pencernaan Lebih Nyaman

Berjalan ringan setelah berbuka atau tarawih membantu pencernaan bekerja lebih optimal dan menjaga tubuh tetap nyaman sebelum tidur. [Dok/Pexels.com/Gül Işık].

Setelah berbuka dan makan malam, sistem pencernaan bekerja lebih aktif. Terutama jika menu berbuka cukup berat atau manis, tubuh membutuhkan waktu untuk memprosesnya. Jalan santai selama beberapa menit ini dapat membantu memperlancar proses tersebut.

Gerakan ringan setelah makan diketahui membantu mengurangi rasa begah dan tidak nyaman di perut. Dibanding langsung berbaring, berjalan membuat makanan lebih cepat bergerak melalui sistem pencernaan. Ini juga membantu Sahabat Fimela menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil setelah makan.

Bagi Sahabat Fimela yang sering merasa kembung setelah berbuka, kebiasaan ini bisa menjadi solusi sederhana. Intensitasnya tidak perlu cepat, cukup santai, dengan napas yang teratur. Fokus pada ritme langkah dan postur tubuh yang tegak agar tubuh tetap rileks.

Selain itu, berjalan setelah tarawih memberi jeda alami antara waktu makan dan waktu tidur. Jarak waktu ini membantu tubuh tidak langsung masuk ke mode istirahat dalam kondisi pencernaan yang masih sangat aktif.

3 dari 4 halaman

Tidur Lebih Nyenyak dan Berkualitas

Jalan santai di malam hari membantu menenangkan sistem saraf untuk tidur yang lebih nyenyak selama Ramadan. [Dok/Pexels.com/cottonbro studio].

Kualitas tidur selama Ramadan sering berubah karena pola makan dan jam istirahat yang bergeser. Jalan santai sebelum tidur dapat membantu tubuh memproduksi rasa lelah yang “sehat”, bukan lelah karena stres, melainkan karena aktivitas fisik ringan.

Aktivitas ini membantu menurunkan ketegangan otot dan menenangkan sistem saraf. Saat tubuh bergerak perlahan, hormon stres dapat berkurang, sehingga tubuh lebih siap memasuki fase tidur.

Paparan udara malam yang segar juga dapat membantu tubuh mengenali sinyal alami bahwa hari hampir berakhir. Ritme langkah yang konsisten memberi efek meditatif ringan, membuat pikiran tidak lagi terlalu penuh oleh aktivitas seharian.

Sahabat Fimela yang masih sering sulit tidur karena pikiran masih aktif, berjalan bisa menjadi cara untuk “mengurai” isi kepala. Tanpa distraksi gawai, momen ini bisa menjadi waktu untuk merenung atau sekadar menikmati keheningan.

4 dari 4 halaman

Jaga Konsistensi Aktivitas Fisik saat Puasa Tanpa Tekanan

Tanpa perlu olahraga berat selama berpuasa, hal ini menjadi cara realistis menjaga metabolisme tetap aktif. [Dok/Freepik.com/rawpixel].

Ramadan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Namun, intensitas olahraga berat mungkin terasa lebih menantang saat tubuh berpuasa. Jalan santai 15–20 menit menjadi alternatif realistis yang tetap menjaga tubuh aktif tanpa membuat energi terkuras.

Kebiasaan ini membantu mempertahankan metabolisme tetap stabil dan mencegah tubuh terlalu pasif. Konsistensi gerakan ringan lebih berkelanjutan dibanding memaksakan olahraga intensitas tinggi yang sulit dipertahankan.

Lebih dari itu, jalan santai bisa menjadi ritual personal yang menenangkan. Momen ini bukan tentang membakar kalori, melainkan tentang merawat tubuh dengan cara yang lembut. Dalam langkah-langkah kecil tersebut, ada latihan disiplin, kesadaran diri, dan kepedulian pada kesehatan jangka panjang.

Karena pada akhirnya, menjaga kebugaran tidak selalu harus dramatis. Kadang, cukup 15–20 menit di bawah langit malam, dengan langkah pelan dan napas teratur, sudah cukup untuk membuat tubuh dan pikiran merasa lebih utuh.

Menjaga kebugaran tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang dramatis atau penuh ambisi besar. Tidak selalu tentang target ribuan langkah, jadwal olahraga yang padat, atau pencapaian yang bisa dipamerkan. Terkadang, justru jeda sederhana setelah hari yang panjang, sekitar 15–20 menit berjalan di bawah langit malam, ditemani udara yang lebih sejuk dan ritme langkah yang tenang, sudah cukup untuk memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk bernapas lebih lega.

Dalam langkah-langkah kecil yang konsisten itu, ada proses merapikan kembali energi yang tersisa, menenangkan isi kepala, sekaligus mengembalikan fokus pada diri sendiri. Napas yang lebih teratur, bahu yang perlahan rileks, dan pikiran yang terasa lebih jernih menjadi pengingat bahwa perawatan diri tak selalu membutuhkan cara yang rumit.