5 Cara Tepat Mendukung Seseorang yang Mengalami Keguguran

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 24 Februari 2026, 14:05 WIB

ringkasan

  • Memberikan dukungan tulus, validasi emosi, dan mendengarkan dengan empati adalah kunci utama saat mendampingi seseorang yang mengalami keguguran.
  • Tawarkan bantuan praktis yang spesifik dan lakukan check-in secara berkala, serta jangan lupakan dukungan untuk pasangan yang juga berduka.
  • Hindari meminimalkan kehilangan, memberikan nasihat tidak diminta, atau mengajukan pertanyaan intrusif untuk menjaga kenyamanan dan proses berduka mereka.

Fimela.com, Jakarta - Keguguran adalah pengalaman yang sangat menyedihkan dan traumatis bagi banyak pasangan, khususnya bagi wanita yang mengalaminya secara langsung. Perasaan kehilangan yang mendalam seringkali disertai dengan kesedihan, kemarahan, dan kebingungan yang luar biasa.

Dalam masa sulit ini, dukungan tulus dari orang-orang terdekat menjadi pilar kekuatan yang sangat berarti. Kehadiran dan pengertian dari Sahabat Fimela dapat membantu mereka melewati proses berduka dengan lebih tabah. Artikel ini akan membahas panduan komprehensif tentang cara memberikan dukungan yang efektif.

Kami akan menguraikan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menunjukkan empati dan bantuan praktis, serta poin-poin penting yang sebaiknya dihindari. Tujuannya adalah memastikan dukungan yang diberikan benar-benar menyentuh dan membantu proses pemulihan mereka secara holistik.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Mengakui Kehilangan dan Validasi Emosi Mereka

Hormati proses berduka untuk ibu yang baru mengalami keguguran bersifat sangat personal dan tidak memiliki jangka waktu pasti rasa kesedihannya. Penting untuk memvalidasi semua emosi yang mereka rasakan, tanpa penilaian. (copyright Unsplash/Anthony Tran)

Saat Sahabat Fimela berhadapan dengan seseorang yang baru saja mengalami keguguran, langkah pertama adalah mengakui kehilangan mereka secara tulus. Ungkapkan belasungkawa yang mendalam dan tegaskan bahwa ini adalah kehilangan yang nyata dan signifikan. Kalimat sederhana seperti “Saya turut berduka cita atas kehilangan Anda” memiliki dampak besar.

Penting untuk memvalidasi semua emosi yang mereka rasakan, tanpa penilaian. Biarkan mereka mengekspresikan kesedihan, kemarahan, atau bahkan kelegaan, karena semua perasaan tersebut adalah bagian normal dari proses penyembuhan. Ingatkan mereka bahwa keguguran bukanlah kesalahan mereka, sebuah pesan yang sangat kuat dan melegakan.

Jadilah pendengar yang empatik dan tanpa menghakimi. Terkadang, kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan cerita mereka berulang kali lebih berarti daripada nasihat apa pun. Mereka mungkin perlu menceritakan kisah mereka beberapa kali sebagai bagian dari proses berduka mereka.

3 dari 5 halaman

Dukungan Praktis dan Konsisten yang Berarti

Alih-alih bertanya “Ada yang bisa saya bantu?”, Sahabat Fimela sebaiknya menawarkan bantuan yang spesifik dan konkret. Contohnya, tawarkan untuk membawakan makanan, membantu pekerjaan rumah, mengasuh anak lain, atau mengurus tugas-tugas harian. Bantuan praktis semacam ini dapat meringankan beban mereka secara signifikan.

Hormati proses berduka mereka yang bersifat sangat personal dan tidak memiliki jangka waktu pasti. Biarkan mereka yang menentukan kapan dan bagaimana mereka ingin berbicara atau menerima dukungan. Jangan pernah memaksa mereka untuk berbicara jika mereka belum siap, namun pastikan mereka tahu Anda selalu ada untuk mendengarkan.

Dukungan tidak boleh berhenti setelah beberapa hari. Lakukan check-in secara berkala, terutama pada tanggal-tanggal penting seperti perkiraan tanggal lahir atau hari jadi keguguran. Pesan singkat seperti “Saya memikirkanmu” dapat memberikan penghiburan yang besar dan menunjukkan bahwa Anda peduli.

Jangan lupakan pasangan yang juga berduka atas kehilangan ini. Tanyakan kabar keduanya dan akui bahwa mereka berdua sedang melewati masa sulit dengan cara masing-masing. Suami atau pasangan juga membutuhkan dukungan emosional setelah istri mengalami keguguran.

4 dari 5 halaman

Hal-hal yang Perlu Dihindari Saat Memberi Dukungan

Sangat penting untuk tidak meminimalkan kehilangan yang mereka alami. Hindari pernyataan seperti “Setidaknya itu terjadi lebih awal” atau “Setidaknya kamu bisa hamil lagi,” karena janin atau anak bukanlah sesuatu yang bisa digantikan.

Jangan memberikan nasihat yang tidak diminta atau menggunakan klise yang tidak sensitif. Frasa seperti “Ini adalah kehendak Tuhan” atau “Kamu sudah punya anak yang sehat” dapat menyakiti perasaan mereka. Fokuslah pada mendengarkan dan mendukung perjalanan mereka, bukan mendikte bagaimana mereka harus merasa.

Hindari mengajukan pertanyaan yang intrusif atau menyalahkan. Pertanyaan seperti “Apakah kamu melakukan sesuatu yang menyebabkannya?” atau “Kamu tidak terlalu stres, kan?” hanya akan memperburuk perasaan bersalah dan kesedihan yang sudah mereka rasakan.

Meskipun Sahabat Fimela mungkin memiliki pengalaman serupa, usahakan untuk tidak terlalu banyak menceritakan kisah kehilangan Anda sendiri. Mengabaikan duka mereka bisa membuat mereka merasa tidak terlihat dan sendirian. Jangan pernah memaksa mereka untuk cepat pulih atau menyuruh mereka untuk “tenang” dan “tersenyum”.

5 dari 5 halaman

Memahami Pemulihan Fisik dan Emosional Pasca Keguguran

Pemulihan fisik pasca keguguran membutuhkan waktu. Tubuh wanita akan melalui proses penyembuhan, baik secara fisik maupun hormonal. Pendarahan umumnya akan berhenti dalam dua minggu, dan serviks akan menutup kembali.

Disarankan untuk menunda hubungan intim hingga pendarahan berhenti dan rahim pulih sepenuhnya guna mencegah infeksi. Asupan nutrisi yang baik, seperti zat besi, asam folat, dan vitamin C, juga sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan fisik ini.

Lebih dari itu, keguguran dapat meninggalkan trauma emosional yang mendalam, memicu kecemasan, depresi, atau bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Penting untuk memberikan ruang bagi mereka untuk berduka dan mengekspresikan setiap emosi yang muncul.

Komunikasi terbuka dengan pasangan sangat krusial untuk pemulihan emosional. Jika diperlukan, Sahabat Fimela dapat menyarankan mereka untuk mencari bantuan profesional, seperti konseling atau bergabung dengan kelompok dukungan, untuk mendapatkan penanganan yang tepat.