Kenali Gerakan Ayo Cerita, Saatnya Anak dan Remaja Punya Ruang Aman untuk Didengar

Kayla BridgitteDiterbitkan 28 Februari 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, kesehatan mental anak dan remaja kini menjadi isu yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Berangkat dari kepedulian tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menggelar dialog bertajuk Meningkatkan Ketahanan Psikososial sebagai Fondasi Pemberdayaan Masyarakat di Kampus Salemba Universitas Indonesia, Jakarta.

Forum ini menyoroti satu hal penting: ketahanan psikososial adalah fondasi dasar dalam membangun generasi yang berdaya. Anak-anak dan remaja hari ini menghadapi tekanan yang tidak sederhana. Faktor ekonomi keluarga, tuntutan akademik yang tinggi, pengalaman perundungan, hingga minimnya akses dukungan psikologis menjadi lapisan persoalan yang saling berkaitan.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa persoalan mental tidak bisa ditangani secara setengah-setengah. Dibutuhkan pendekatan yang kolaboratif, terstruktur, dan berkelanjutan.

Menurutnya, tidak boleh ada satu pun anak yang merasa sendirian memikul beban. Solidaritas sebagai bangsa harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketahanan psikososial bukan hanya isu individu, tetapi juga cerminan kekuatan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.

Lewat dialog ini, pesan yang ingin ditegaskan jelas: pemberdayaan masyarakat tak cukup berbicara tentang ekonomi. Dimensi kemanusiaan dan kesejahteraan mental harus berjalan beriringan demi masa depan generasi yang lebih kuat dan tangguh.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Ketahanan Mental Bukan Tanggung Jawab Satu Pihak

Menko PM menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh faktor-faktor yang kompleks seperti kemiskinan struktural, kurangnya literasi, dan dukungan psikososial di tingkat komunitas. [Dok/FIMELA/Kayla Bridgitte].

Sering kali kita masih melihat kesehatan mental sebagai urusan personal, seolah cukup diselesaikan di ruang privat tanpa perlu campur tangan lingkungan sekitar. Padahal, realitasnya jauh lebih rumit. Kerentanan mental pada anak dan remaja tidak lahir dari satu sebab tunggal. 

Ia terbentuk dari pertemuan berbagai tekanan: dinamika keluarga, ekspektasi akademik, relasi pertemanan, paparan media sosial, hingga kondisi sosial ekonomi yang memengaruhi rasa aman mereka sehari-hari.

Dalam dialog yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa persoalan ini tak bisa ditangani secara sepihak. Pendekatannya harus menyentuh seluruh ekosistem. 

Keluarga menjadi fondasi utama, tempat anak pertama kali belajar tentang cinta tanpa syarat dan penerimaan. Sekolah memiliki tanggung jawab menghadirkan suasana belajar yang aman secara emosional, bukan sekadar kompetitif secara akademik. Komunitas memberi ruang interaksi sosial yang sehat, sementara tenaga profesional menghadirkan pendampingan yang berbasis keilmuan. Di sisi lain, pemerintah memastikan sistem, kebijakan, dan akses layanan berjalan dengan baik.

Ia juga menyatakan kesiapan kementeriannya untuk mendukung berbagai program pendampingan psikososial yang telah berjalan di sekolah maupun komunitas. Kolaborasi disebut sebagai kunci agar solusi tidak berjalan sendiri-sendiri dan berhenti di tengah jalan.

Membangun ketahanan mental memang bukan proses instan. Ia menuntut konsistensi, komitmen jangka panjang, dan kesediaan untuk saling mendengar. Namun ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang suportif secara emosional, mereka akan lebih tangguh menghadapi tekanan, lebih berani mengekspresikan diri, dan lebih percaya diri mengembangkan potensi terbaiknya.

3 dari 4 halaman

Gerakan ‘Ayo Cerita’, Langkah Sederhana dengan Dampak Besar

Gerakan “Ayo Cerita” hadir sebagai ruang aman bagi anak dan remaja untuk menyuarakan perasaan tanpa stigma. [Dok/FIMELA/Kayla Bridgitte].

Dari dialog tersebut mengemuka satu ajakan yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna besar: gerakan “Ayo Cerita”. Sebuah inisiatif yang mendorong terciptanya ruang aman bagi anak dan remaja untuk mengekspresikan perasaan mereka tanpa rasa takut, tanpa khawatir dihakimi, dan tanpa bayang-bayang stigma.

Salah satu audiens mengemukakan pendapat dan pengalamannya ketika sedang dalam sesi tanya jawab. Ia membahas mengenai stigma lama yang masih kuat di masyarakat: anggapan bahwa laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh terlihat rapuh, dan harus selalu kuat dalam situasi apa pun.

Sejak kecil, banyak anak laki-laki tumbuh dengan kalimat seperti, “jangan cengeng”, “laki-laki harus tegar”, atau “masa begitu saja nangis?”. Tanpa disadari, pesan-pesan ini membentuk keyakinan bahwa mengekspresikan emosi adalah tanda kelemahan. Padahal secara psikologis, menangis dan bercerita adalah mekanisme alami untuk memproses emosi.

Tuntutan untuk selalu kuat bisa membuat anak laki-laki memilih memendam perasaan. Mereka mungkin kesulitan mengungkapkan sedih, takut, atau kecewa, karena khawatir dianggap lemah. Akibatnya, hal ini hanya akan menjadi bom waktu bagi dirinya sendiri dan akan meledak kapan pun.

Stigma ini juga membuat banyak remaja laki-laki enggan mencari bantuan profesional ketika menghadapi tekanan mental. Ada rasa malu atau takut dicap tidak tangguh. Padahal, keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja justru merupakan bentuk kekuatan emosional yang matang.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang ini. Kekuatan bukan berarti menahan semua rasa sendirian. Kekuatan adalah kemampuan untuk mengenali emosi, mengelolanya dengan sehat, dan meminta bantuan ketika dibutuhkan.

Memberi ruang bagi anak laki-laki untuk menangis, bercerita, dan didengar tanpa dihakimi bukan berarti melemahkan mereka. Justru di sanalah fondasi ketahanan mental yang sesungguhnya dibangun kuat bukan karena menutup diri, tetapi karena berani jujur pada perasaan sendiri.

Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa banyak persoalan mental berawal dari emosi yang dipendam terlalu lama. Rasa kecewa yang tak sempat diucapkan, tekanan yang dianggap sepele oleh orang dewasa, hingga ketakutan yang disimpan sendiri perlahan bisa menumpuk menjadi beban psikologis. 

“Hari ini kita sebagai sebuah warga bangsa dituntut terus bahu-membahu untuk memastikan tidak ada satupun yang sendirian menanggung beban tetapi kita punya saudara, kita punya keluarga, kita menjadi satu kesatuan,” Ucap Menko Muhaimin.

4 dari 4 halaman

Fondasi Bangsa Dimulai dari Keluarga yang Tangguh

Perubahan tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat. [Dok/FIMELA/Kayla Bridgitte].

Sahabat Fimela, dialog ini menjadi pengingat kuat bahwa pemberdayaan masyarakat tidak bisa berhenti pada urusan ekonomi semata. Peningkatan pendapatan memang penting, tetapi ada dimensi kemanusiaan yang tak kalah mendasar: ketahanan keluarga dan kesehatan mental sebagai fondasi pembangunan nasional. Tanpa pondasi emosional yang kokoh, pertumbuhan ekonomi pun bisa terasa rapuh.

Forum ini turut menghadirkan sejumlah tokoh, termasuk Ida Fauziyah, serta dihadiri beberapa anggota DPR RI. Kehadiran lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa isu ketahanan psikososial bukan persoalan pinggiran, melainkan agenda bersama yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Melalui dialog ini, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat ingin memastikan bahwa kebijakan pemberdayaan dirancang secara menyeluruh. Kesejahteraan tidak lagi dimaknai sebatas angka pendapatan atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas relasi dalam keluarga, kemampuan individu mengelola emosi, serta ketangguhan menghadapi tekanan sosial yang semakin kompleks.

Semangat solidaritas dan voluntarisme pun ditekankan sebagai bagian dari solusi. Artinya, perubahan tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat. Setiap orang dapat mengambil peran, mulai dari mendengarkan dengan empati hingga menciptakan lingkungan yang lebih suportif.

Sebab membangun bangsa yang kuat tidak cukup dengan infrastruktur megah dan angka statistik yang meningkat. Kita membutuhkan generasi yang sehat secara emosional, berdaya secara sosial, dan merasa memiliki ruang aman untuk tumbuh. Dan semuanya bisa dimulai dari langkah sederhana: berani berkata, “Ayo Cerita.”