Kanker Paru Meningkat pada Usia 30–40 Tahun, Parkway Cancer Centre Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

Nabila MecadinisaDiterbitkan 01 Maret 2026, 14:47 WIB

Fimela.com, Jakarta - Kanker paru kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Saat ini, semakin banyak dokter mendiagnosis penyakit tersebut pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa dirinya sehat serta aktif. Pergeseran ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam lanskap penyakit kanker di Indonesia. Sebuah studi selama 18 tahun yang dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar (2002–2019) menunjukkan bahwa hampir 63 persen kasus kanker terjadi pada individu berusia 30–59 tahun. Hal ini menegaskan bahwa kanker semakin banyak menyerang populasi usia produktif di Indonesia.

Dalam sesi media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif,” Dr. Tanujaa Rajasekaran, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), menyoroti profil pasien kanker paru yang terus berubah serta mendesaknya kebutuhan deteksi dini.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Banyaknya pasien muda

Cegah Kanker dengan CERDIK dan WASPADA

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” jelasnya.

Salah satu kasus tersebut dialami oleh seorang profesional berusia 42 tahun, ayah dari dua anak, yang memeriksakan diri setelah mengalami batuk berkepanjangan yang tidak kunjung membaik. Sebagai seorang non-perokok dengan gaya hidup aktif, ia awalnya menganggap gejala tersebut sebagai gangguan pernapasan ringan. Namun, pemeriksaan lanjutan kemudian mengungkap bahwa ia mengidap kanker paru non-sel kecil stadium IV, sebuah diagnosis yang sangat mengejutkan. Pengalamannya mencerminkan realitas bahwa kanker paru dapat menyerang siapa saja, termasuk mereka yang tidak masuk dalam profil risiko pada umumnya.

3 dari 3 halaman

Banyak figur publik yang berjuang melawan kanker paru

Pentingnya deteksi dini kanker agar dapat teratasi.

Kesadaran publik terhadap kanker paru turut dibentuk oleh sejumlah figur publik Indonesia beserta keluarga mereka yang secara terbuka membagikan perjuangan melawan penyakit ini. Ibunda penyanyi Raisa Andriana, mendiang Ria Mariaty, serta mendiang aktris Kiki Fatmala, adalah beberapa figur publik yang membawa perhatian luas terhadap seriusnya penyakit ini. Hal ini menekankan pentingnya deteksi dini dan dukungan serta mengingatkan masyarakat bahwa kanker paru tidak memandang usia maupun latar belakang.

Tantangan utama dalam penanganan kanker paru-paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas sering kali dianggap sebagai penyakit pernapasan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi jauh lebih kompleks.

"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan," tambah Dr. Tanujaa. "Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien."

Selama dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi oleh kemoterapi menuju perawatan yang sangat terpersonalisasi. Saat ini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker sehingga dokter dapat menyesuaikan terapi sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Kemajuan seperti imunoterapi dan terapi radiasi proton telah meningkatkan hasil pengobatan secara signifikan. Imunoterapi memungkinkan sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker, sementara terapi proton memberikan radiasi yang sangat presisi ke lokasi tumor sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya. Inovasi-inovasi ini tidak hanya meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi juga mengurangi efek samping, sehingga banyak pasien, terutama mereka yang berada di usia produktif, dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari selama masa pengobatan.

"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," tambah Dr. Tanujaa.

Menjelang peringatan 20 tahun berdiri, PCC tidak hanya merefleksikan kemajuan dalam presisi pengobatan, tetapi juga menegaskan pentingnya pendekatan perawatan holistik yang berpusat pada pasien. Di luar intervensi medis, pasien dan keluarga kerap menghadapi berbagai tantangan emosional, psikologis, serta praktis setelah menerima diagnosis kanker.

Melalui layanan konseling dan dukungan kanker nirlaba-nya, CanHOPE, PCC menyediakan pendampingan, dukungan emosional, serta sumber daya bagi pendamping pasien (caregiver) di berbagai kota di Indonesia.

"Diagnosis kanker berdampak jauh melampaui kesehatan fisik," ujar perwakilan CanHOPE Indonesia. "Selama bertahun-tahun, kami melihat bahwa ketahanan emosional dan dukungan pendamping pasien sama pentingnya dengan perawatan klinis. Komitmen kami adalah memastikan tidak ada pasien yang menghadapi kanker seorang diri."

Seiring kanker paru semakin banyak menyerang di usia produktif, PCC mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap faktor risiko yang terus berkembang dan pentingnya konsultasi sejak dini.

Bagi banyak masyarakat Indonesia yang mungkin tidak merasa dirinya berisiko, langkah cepat dan tepat waktu dapat menjadi keputusan terpenting yang mereka ambil demi diri sendiri dan keluarga.

 

Tag Terkait