Strategi Jitu Mencegah atau Mengatasi Berat Badan Kurang pada Anak

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 09 Maret 2026, 10:48 WIB

ringkasan

  • Berat badan kurang pada anak adalah masalah serius yang dipicu oleh asupan gizi tidak adekuat, infeksi berulang, serta faktor lingkungan dan sosial ekonomi, berdampak pada pertumbuhan fisik dan kognitif.
  • Pencegahan efektif melibatkan praktik pemberian makan optimal seperti ASI eksklusif dan MPASI bergizi, peningkatan kebersihan, suplementasi mikronutrien, serta deteksi dini melalui pemantauan pertumbuhan rutin
  • Penanganan berat badan kurang, khususnya malnutrisi akut parah, memerlukan intervensi medis terstruktur seperti susu terapeutik atau RUTF, dukungan nutrisi umum, serta program sosial ekonomi untuk pemulihan optimal anak

Fimela.com, Jakarta - Dalam masa pertumbuhan anak, pencapaian berat badan ideal merupakan indikator penting dalam menilai status gizi. Maka dari itu, jika anak mengalami kondisi berat badan kurang dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, baik secara fisik maupun kognitif. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh asupan gizi yang tidak memadai, termasuk kurangnya asupan kalori dan protein.

Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan berat badan secara rutin sangat krusial untuk mencegah terjadinya risiko gagal tumbuh pada anak. Namun sayang, berdasarkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi underweight atau berat badan kurang pada anak di bawah 5 tahun masih di angka 16,8%, meningkat dari 15,9% pada 2023. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius karena berisiko meningkatkan angka stunting di Indonesia.

Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A mengatakan, status gizi anak adalah salah satu tolak ukur penilaian tercukupinya kebutuhan asupan gizi harian serta penggunaan zat gizi tersebut oleh tubuh. Dan berat badan dan tinggi badan merupakan dua parameter penting dalam penilaian status gizi anak.

Orangtua dianjurkan menimbang berat badan anak minimal sebulan sekali pada anak usia dibawah 1 tahun dan minimal 3 bulan sekali sampai anak usia 2 tahun oleh petugas kesehatan. Jika asupan nutrisi anak senantiasa terpenuhi dan digunakan seoptimal mungkin, tentu tumbuh kembangnya akan optimal. Namun jika sebaliknya, status gizi si Kecil bisa saja bermasalah sehingga berisiko memengaruhi tumbuh kembangnya  hingga dewasa kelak.

"Oleh karena itu, gejala berat badan kurang atau berat badan anak sulit naik (BB seret) pada anak perlu diwaspadai karena hal ini dapat menandakan gangguan pertumbuhan," ujar dr. Ian dalam Kampanye “Pejuang Berat Badan Anak

2 dari 3 halaman

Pemenuhan gizi yang tepat untuk Anak

Ilustrasi anak saat makan. (Sumber foto: Unsplash.com)

Dalam upaya mencegah atau mengatasi berat badan kurang, penting untuk penuhi kebutuhan gizi yang tepat mulai dari memastikan setiap menu makan anak ada sumber karbohidrat, protein hewani, sayur, dan lemak sehat. Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, atau daging serta susu sangat penting untuk mendukung pertumbuhan. Tidak harus menu yang rumit, tetapi komposisinya seimbang. Selain itu, lakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin, minimal sebulan sekali pada anak diusia 5 tahun oleh petugas kesehatan di Puskesmas, Posyandu, atau rumah sakit.

“Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih cepat, sehingga risiko masalah kesehatan gizi anak dan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dapat dicegah. Dengan berkonsultasi, orangtua bisa menyesuaikan kebutuhan yang tepat dengan kondisi ana,” jelas dr. Ian.

dr. Ian mengatakan . Jika diperlukan, pada kondisi berat badan rendah dan berat badan seret atau sulit naik biasanya dokter juga bisa merekomendasikan pemberian konsumsi susu tinggi kalori untuk mengejar kenaikan berat badan. "Namun perlu diingat, pemberian susu tinggi kalori ini harus dengan rekomendasi dan pemantauan dokter spesialis anak,"paparnya

“‘Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS)’ yang pada 2025 lalu telah memecahkan dua Rekor MURI. Untuk Rekor MURI pertama yang dicatat adalah ‘Skrining Stunting secara Daring kepada Peserta Terbanyak (1.155.524 Peserta).’ Sedangkan Rekor MURI kedua adalah ‘Penyuluhan dan Skrining Stunting secara Luring kepada Peserta Terbanyak (10.195 Peserta).’ Pada tahun 2026 ini, komitmen tersebut terus kami lanjutkan dan diperkuat melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”, yang diharapkan dapat semakin memperluas upaya edukasi kepada masyarakat, mendorong deteksi dini, serta mendukung keluarga dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang hebat di masa depan," kata CEO PT. Sarihusada Generasi Mahardika (“Sarihusada”), Joris Bernard

3 dari 3 halaman

Cara Cut Meyriska Jaga Berat Badan Ideal Anak

Aktris & Ibu dari 2 orang anak, Cut Meyriska mengatakan, sebagai seorang Bunda, kondisi berat badan anak yang sulit naik atau BB seret sering jadi kekhawatiran utama. Sebab, berat badan merupakan indikator yang mudah dipantau dan terukur. Untuk para orangtua yang sedang menjadi Pejuang Berat Badan Anak, jangan merasa sendirian. Tidak sedikit ibu mengalami hal yang sama.

"Dari pengalaman saya saat anak mengalami BB seret, terpenting adalah tetap tenang, pantau pertumbuhan anak secara rutin, penuhi kebutuhan gizinya dengan optimal, dan jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Saya sangat mengapresiasi inisiatif Sarihusada melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”, sehingga para Bunda di Indonesia yang sedang mengalami tantangan yang sama sebagai Pejuang Berat Badan Anak bisa mendapatkan kemudahan akses edukasi dan cek pertumbuhan Si Kecil,"katanya