Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, di era digital ini, informasi mengalir deras tanpa henti setiap saat. Terkadang, kita tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan melihat berita negatif yang terus-menerus. Fenomena ini dikenal sebagai "doomscrolling" atau "doomsurfing". Istilah ini populer sejak pandemi COVID-19.
Meskipun sering dianggap sepele, kebiasaan ini ternyata menyimpan dampak kesehatan yang serius. Baik kesehatan mental maupun fisik dapat terpengaruh secara signifikan. Penting bagi kita untuk memahami bahaya tersembunyi di balik layar ponsel kita.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu doomscrolling serta mengapa banyak orang terjebak di dalamnya. Kami juga akan membahas dampak kesehatan saat melihat berita negatif dan tips menghentikannya. Ini demi kesejahteraan Sahabat Fimela.
Apa Itu Doomscrolling dan Mengapa Kita Terjebak?
Doomscrolling adalah tindakan menghabiskan waktu berlebihan untuk membaca berita negatif secara daring. Ini termasuk konten di web dan media sosial. Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai menghabiskan waktu daring untuk konten yang membuat sedih, cemas, atau marah.
Istilah ini muncul sekitar tahun 2018 dan semakin meluas penggunaannya. Terutama saat pandemi COVID-19, kebutuhan akan informasi baru sangat tinggi. Banyak orang mencari pembaruan terkait situasi global. Namun, ini seringkali berakhir dengan konsumsi berita yang meresahkan.
Ada beberapa alasan mengapa kita cenderung melakukan doomscrolling. Otak manusia memiliki "bias negativitas" yang membuatnya fokus pada ancaman sebagai mekanisme bertahan hidup. Kita juga mungkin takut ketinggalan informasi penting atau peristiwa terkini, yang dikenal sebagai FOMO.
Selain itu, algoritma media sosial turut berperan dalam memperpetuasi kebiasaan ini. Algoritma dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Seringkali, ini memprioritaskan berita negatif dan judul sensasional. Ini membuat kita terus menggulir tanpa henti.
Efek Psikologis dan Emosional dari Kebiasaan Melihat Berita Negatif
Dampak kesehatan saat melihat berita negatif sangat terasa pada kondisi psikologis dan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling dapat meningkatkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi. Hal ini tentu memperburuk kondisi mental yang sudah ada.
Orang yang melakukan doomscrolling seringkali merasa sedih, cemas, marah, atau tidak berdaya. Kebiasaan ini menciptakan siklus negatif. Melihat berita yang mengganggu mendorong kita mencari lebih banyak informasi. Ini justru memperparah perasaan tidak nyaman.
Selain itu, doomscrolling dapat menyebabkan penurunan konsentrasi dan produktivitas. Kelelahan mental juga sering terjadi. Membaca berita yang mengganggu sebelum tidur juga mengganggu kualitas tidur. Ini meningkatkan kecemasan keesokan harinya.
Pada akhirnya, waktu yang dihabiskan untuk doomscrolling dapat mengurangi interaksi sosial. Ini berpotensi menyebabkan perasaan terputus dari lingkungan. Isolasi sosial dapat menjadi konsekuensi serius dari kebiasaan ini.
Dampak Fisik yang Tak Terduga Akibat Doomscrolling
Tidak hanya mental, dampak kesehatan saat melihat berita negatif juga memengaruhi fisik. Doomscrolling dapat memicu respons "fight, flight, freeze" tubuh. Ini menyebabkan peningkatan tekanan darah dan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Respons tubuh ini dapat bermanifestasi dalam berbagai masalah fisik. Beberapa di antaranya adalah sakit kepala, mual, serta nyeri leher dan bahu. Kesulitan tidur juga menjadi efek umum.
Gaya hidup yang tidak banyak bergerak juga sering menyertai kebiasaan doomscrolling. Terlalu lama menatap layar ponsel atau komputer dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik secara keseluruhan. Ini termasuk risiko obesitas dan masalah postur tubuh.
Maka dari itu, penting bagi Sahabat Fimela untuk menyadari bahwa kebiasaan ini bukan hanya tentang perasaan. Ada konsekuensi fisik yang nyata yang perlu diwaspadai. Mengelola waktu layar menjadi sangat krusial.
Strategi Efektif untuk Mengatasi Doomscrolling
Menghentikan kebiasaan doomscrolling membutuhkan kesadaran dan niat kuat untuk berubah. Sahabat Fimela bisa memulai dengan membatasi waktu layar harian. Banyak ponsel kini memiliki fitur untuk mengatur batas waktu pada aplikasi berita dan media sosial.
Nonaktifkan notifikasi dari aplikasi berita dan media sosial. Ini akan mengurangi godaan untuk terus membuka aplikasi. Jauhkan ponsel dari jangkauan Anda, terutama sebelum tidur. Ini membantu mengurangi kecenderungan doomscrolling tanpa sadar.
Kurasi umpan berita Anda dengan cermat. Ikuti akun atau sumber yang memberikan konten positif, mendidik, atau menghibur. Berhenti mengikuti yang justru membuat Anda stres. Cari berita positif secara aktif untuk menyeimbangkan konsumsi informasi.
Ganti kebiasaan doomscrolling dengan aktivitas non-layar yang Anda nikmati. Misalnya, membaca buku, memasak, berolahraga, atau bermeditasi. Latih kesadaran (mindfulness) terhadap perasaan Anda saat dan setelah doomscrolling. Jika kebiasaan ini sangat mengganggu, jangan ragu mencari bantuan profesional.