Mengapa Anak Tidak Seharusnya Dicap Nakal atau Pemalu Sejak Kecil?

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 19 Juni 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, mengucapkan kalimat “Ah, dia memang pemalu dari kecil” atau “Maklum, anaknya memang nakal” pada anak mungkin terdengar sederhana dan sering dianggap bercanda.

Namun tanpa disadari, label yang terus diberikan kepada anak bisa membentuk cara mereka dalam melihat dirinya sendiri hingga dewasa. Dilansir dari herhealthcollective.com, anak mengenal identitas dirinya pertama kali dari lingkungan terdekat, terutama orangtua. Apa yang sering mereka dengar tentang dirinya perlahan berubah menjadi sesuatu yang mereka percaya.

Anak Bisa Tumbuh Sesuai Label yang Diberikan

Ketika anak terus disebut pemalu, ia dapat mulai percaya bahwa dirinya memang tidak pandai bersosialisasi. Akibatnya, anak jadi semakin takut mencoba hal baru, enggan berbicara, dan memilih menarik diri karena merasa itu memang sifat alaminya.

Begitu juga ketika anak sering dipanggil nakal. Lama-kelamaan, anak bisa merasa dirinya memang anak bermasalah. Tanpa sadar, label tersebut justru mendorong anak untuk terus menunjukkan perilaku yang sama karena merasa itulah ekspektasi orang-orang terhadap dirinya. 

2 dari 4 halaman

Label Buruk Bisa Mengubah Cara Orangtua Memperlakukan Anak

Ketika anak sudah dicap nakal, orangtua akan cenderung lebih fokus mencari kesalahan pada anak. [Dok/freepik.com/jcomp]

Masalahnya bukan hanya pada anak, tetapi juga pada cara orangtua memandang mereka. Ketika seorang anak sudah dicap nakal, orangtua cenderung lebih fokus mencari kesalahannya. Sedikit perilaku aktif atau emosional langsung dianggap bukti bahwa anak memang sulit diatur.

Akibatnya, orangtua menjadi lebih mudah marah, lebih cepat memberi hukuman, dan tanpa sadar memperkuat perilaku yang sebenarnya ingin dihentikan. Padahal, perilaku anak sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar nakal atau baik.

Nakal Bukan Identitas Anak

Salah satu masalah terbesar dari label nakal adalah karena label tersebut menutupi penyebab sebenarnya dari perilaku anak. Tidak ada anak yang benar-benar ingin menjadi nakal.

Biasanya, mereka sedang kesulitan menghadapi sesuatu dan belum mampu mengekspresikannya dengan cara yang tepat. Perilaku yang dianggap nakal bisa muncul karena banyak hal, seperti rasa lelah, lapar, frustrasi, cemas, marah, sedih, trauma, ingin diperhatikan, atau merasa tidak terhubung dengan orangtuanya. Sayangnya, ketika anak langsung dicap nakal, kebutuhan emosional di balik perilaku itu jadi terabaikan.

 

 

3 dari 4 halaman

Kata-Kata Orangtua Membentuk Kepercayaan Diri Anak

Jika anak terus mendengar dirinya nakal, bandel, atau merepotkan, mereka dapat mulai percaya bahwa dirinya tidak cukup baik. [Dok/freepik.com/peoplecreations]

Banyak orang dewasa masih membawa luka dari label yang mereka terima saat kecil. Mungkin dulu mereka sering disebut ceroboh, lambat, pemalu, atau tidak pintar. Kalimat tersebut akhirnya memengaruhi rasa percaya diri mereka hingga dewasa dan membuat mereka takut mencoba banyak hal. Hal yang sama juga bisa terjadi pada anak-anak hari ini.

Jika anak terus mendengar dirinya nakal, bandel, atau merepotkan, mereka dapat mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup baik. Perasaan itu perlahan membentuk konsep diri yang negatif.

Anak yang Diam Belum Tentu Pemalu

Banyak orangtua khawatir ketika anak memilih diam di lingkungan baru atau tidak langsung menyapa orang lain. Padahal, itu belum tentu tanda anak bermasalah secara sosial.

Anak yang memilih mendekat pada orangtuanya sebenarnya sedang berusaha merasa aman. Ia sedang mendengarkan sinyal dari tubuh dan emosinya sendiri sebelum siap berinteraksi.

Kemampuan mengenali rasa nyaman dan tidak nyaman justru penting dimiliki anak sejak dini agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga batasan diri dan tidak mudah mengikuti tekanan lingkungan.

 

 

4 dari 4 halaman

Ganti Label dengan Memahami Kebutuhan Anak

Sahabat Fimela, kamu dapat mengganti label tersebut dengan ucapan yang lain. [Dok/freepik.com/tirachardz]

Daripada langsung memberi label, cobalah fokus memahami apa yang sebenarnya dirasakan anak.

Daripada mengatakan kalimat “Kamu nakal banget” atau “Dasar pemalu” pada anak. Cobalah untuk menggantinya dengan : 

  • “Kamu lagi kesal, ya?”
  • “Sepertinya kamu masih butuh waktu buat merasa nyaman.”
  • “Hari ini badan kamu capek ya, jadi lebih mudah marah.”“Kalau sudah siap, nanti kamu bisa coba sendiri.”

Kalimat seperti ini membantu anak memahami emosinya tanpa merasa dirinya buruk.

Sahabat Fimela, perilaku anak bisa berubah seiring waktu, tetapi kata-kata yang terus mereka dengar tentang dirinya bisa menetap jauh lebih lama. Karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih berhati-hati dalam memberi label, bahkan yang terdengar sederhana sekalipun.