Menyelami Pengalaman Bersantap Ala Bangsawan Jawa di Selera Keraton

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 20 Mei 2026, 13:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di tengah denyut modern Jakarta, tepat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia yang sarat sejarah, hadir sebuah pengalaman kuliner yang membawa tamu serasa bangsawan menyusuri jejak budaya Jawa dengan cara yang lebih intim dan kontemporer. Selera Keraton, destinasi bersantap terbaru di Keraton At The Plaza, bukan sekadar restoran hotel mewah melainkan ruang tempat tradisi, cita rasa, dan kemewahan bertemu dalam satu narasi yang hidup.

Transformasi ini menandai babak baru bagi Keraton At The Plaza, hotel pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang berada di bawah naungan The Unbound Collection by Hyatt. Jika sebelumnya area ini dikenal sebagai “The Club” yang eksklusif bagi tamu tertentu, kini Selera Keraton membuka pintunya bagi publik yang ingin merasakan atmosfer bersantap ala bangsawan Jawa.

"Kami mengubah sebuah ruangan dari yang tertutup dan privat menjadi lebih hangat, menyambut sebuah destinasi yang bisa menyampaikan cerita. Selera Keraton memungkinkan semua orang untuk merasakan pengalaman elegan ala Bangsawan Jawa namun dengan nuansa yang lebih modern, rileks, dan menyenangkan," kata Parveen Kumar selaku General Manager Keraton at The Plaza.

 

2 dari 3 halaman

Daya Tarik Interior

Keraton at The Plaza kini punya restoran khas bangsawan Jawa dengan koleksi kuliner yang kaya akan budaya (Keraton at The Plaza)

Begitu memasuki area di lantai tujuh hotel, nuansa keraton langsung terasa lewat detail arsitektur yang terinspirasi dari istana Solo dan Yogyakarta. Interiornya memadukan kemegahan yang tenang dengan sentuhan modern yang elegan. Dari ruang makan utama hingga Private Dining Room yang berpusat pada chef’s table, setiap sudut dirancang menghadirkan pengalaman yang personal sekaligus berkelas.

Namun daya tarik utama Selera Keraton tentu terletak pada kisah di balik setiap hidangan. Menu yang dihadirkan menjadi dialog antara kekayaan rasa Nusantara dan sentuhan teknik kuliner Eropa yang halus. Filosofi memasak tradisional Jawa yang mengedepankan kesabaran dan ketelitian tetap dipertahankan, tetapi disajikan dalam interpretasi yang lebih segar dan relevan bagi penikmat kuliner masa kini.

Salah satu sajian yang paling mencuri perhatian adalah Gudeg Komplit yang dimasak perlahan menggunakan daun jati hingga menghasilkan warna cokelat mahoni yang khas dan rasa yang lebih mendalam. Ada pula Beef Rendang dengan aroma rempah yang kaya, menghadirkan rasa familiar dalam presentasi yang lebih modern.

 

3 dari 3 halaman

Sambal Sommelier

Keraton at The Plaza kini punya restoran khas bangsawan Jawa dengan koleksi kuliner yang kaya akan budaya (Keraton at The Plaza)

Bagi pencinta kuliner tradisional Jawa, Selera Keraton juga menghadirkan Kapiratu, pancake gurih yang dahulu hanya disajikan untuk kalangan elite keraton. Hidangan ini kini diolah ulang dengan pendekatan kontemporer tanpa kehilangan identitas aslinya. Sementara itu, Bestik Jawa favorit Sunan Solo dan Serabi Solo Notosuman turut memperkuat pengalaman kuliner yang sarat nostalgia budaya.

Yang membuat pengalaman bersantap di sini terasa semakin unik adalah hadirnya ritual “Sambal Sommelier”. Layaknya wine pairing dalam fine dining, tamu akan dipandu memilih berbagai sambal khas Indonesia yang disesuaikan dengan karakter rasa hidangan mereka. Ritual ini menjadi cara baru untuk menikmati kekayaan kuliner Nusantara dengan pendekatan yang lebih personal dan eksploratif.

Pengalaman khas keraton bahkan dimulai sejak tamu pertama kali datang. Sajian jamu Nusantara sebagai welcome drink, syal batik kawung, hingga aroma ruangan yang dirancang khusus menjadi bagian dari perjalanan multisensori yang dihadirkan hotel ini. Semuanya terasa detail, hangat, dan penuh penghormatan terhadap budaya Jawa.

Selera Keraton pada akhirnya bukan hanya tentang makanan enak atau interior mewah. Tempat ini menawarkan pengalaman menikmati warisan budaya Indonesia dalam format yang lebih modern, intim, dan relevan bagi generasi urban masa kini. Sebuah ruang di mana tradisi tidak sekadar dipajang, tetapi dihidupkan kembali melalui rasa, cerita, dan suasana.