Mengenal Egg Freezing, Pilihan Modern untuk Merencanakan Kehamilan di Masa Depan

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 25 Mei 2026, 05:16 WIB

ringkasan

  • Egg freezing adalah teknologi reproduksi untuk mengawetkan sel telur guna menunda kehamilan atau melindungi dari infertilitas di masa depan.
  • Prosedur ini melibatkan stimulasi ovarium, pengambilan sel telur, vitrifikasi (pembekuan cepat), dan penyimpanan dalam nitrogen cair.
  • Tingkat keberhasilan sangat dipengaruhi oleh usia saat pembekuan (terbaik di bawah 35 tahun) dan jumlah sel telur yang dibekukan (disarankan 15-20).

Fimela.com, Jakarta - Di tengah dinamika kehidupan modern, banyak perempuan memilih untuk menunda kehamilan karena berbagai alasan, mulai dari karier hingga kesiapan personal. Untuk menjawab kebutuhan ini, teknologi reproduksi berbantuan seperti egg freezing atau pembekuan sel telur, semakin populer sebagai solusi menjaga potensi kesuburan di masa depan.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Apa Itu Egg Freezing dan Mengapa Penting?

Pembekuan sel telur, yang secara medis dikenal sebagai kriopreservasi oosit, merupakan sebuah teknologi reproduksi berbantuan (ART) yang dirancang untuk mengawetkan sel telur manusia. Proses ini melibatkan serangkaian tahapan mulai dari pengambilan, pembekuan cepat (vitrifikasi), hingga penyimpanan sel telur untuk digunakan di kemudian hari. Tujuannya jelas: memberikan perlindungan terhadap infertilitas di masa depan atau memberikan fleksibilitas untuk menunda kehamilan.

Dahulu, prosedur egg freezing hampir secara eksklusif ditawarkan kepada perempuan yang akan menjalani perawatan kanker. Namun, kini telah berkembang menjadi pilihan umum untuk berbagai alasan non-medis.

Secara umum, indikasi egg freezing dapat dibagi menjadi dua kategori utama:

1. Alasan Medis

Bagi perempuan yang akan menjalani kemoterapi atau radioterapi, pembekuan sel telur menjadi sangat krusial. Terapi ini bersifat toksik bagi oosit, sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan sel telur yang layak. Dengan egg freezing, mereka memiliki kesempatan untuk mempertahankan sel telur agar dapat memiliki anak di kemudian hari.

Selain itu, perempuan dengan riwayat keluarga menopause dini juga dapat mempertimbangkan opsi ini untuk mengawetkan sel telur yang mungkin akan menurun kualitasnya lebih awal. Kondisi ovarium tertentu seperti Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) juga menjadi indikasi medis. Dalam konteks fertilisasi in vitro (IVF), kriopreservasi oosit juga menjadi pilihan bagi individu yang menolak pembekuan embrio karena alasan agama atau etika, atau di mana undang-undang tidak mengizinkan pembekuan embrio.

2. Alasan Non-Medis (Sosial)

Banyak perempuan modern memilih menunda kehamilan karena fokus pada karier, gaya hidup, atau karena belum merasa siap untuk memulai keluarga. Egg freezing memungkinkan mereka untuk 'membekukan waktu' potensi kesuburan, melindungi dari penurunan alami kualitas sel telur seiring bertambahnya usia. Dengan membekukan sel telur pada usia muda, mereka berkesempatan untuk memiliki kehamilan yang sehat di waktu yang mereka pilih. Beberapa juga memilih opsi ini untuk memiliki lebih banyak waktu mencari pasangan hidup yang tepat sebelum memiliki anak.

3 dari 5 halaman

Proses Egg Freezing: Langkah Demi Langkah

Proses pembekuan sel telur melibatkan beberapa tahapan penting yang dirancang untuk memaksimalkan peluang keberhasilan:

  1. Penilaian Kesuburan: Tahap awal meliputi tes darah untuk mengukur kadar hormon seperti AMH dan FSH, serta pemeriksaan USG untuk mengevaluasi kondisi ovarium.
  2. Stimulasi Ovarium: Perempuan akan menerima suntikan hormon harian selama sekitar 10–14 hari. Tujuannya adalah merangsang ovarium agar mematangkan banyak sel telur sekaligus.
  3. Pemantauan: Selama periode stimulasi, kemajuan akan dipantau secara berkala melalui pemindaian USG dan tes darah.
  4. Suntikan Pemicu (Trigger Injection): Setelah sel telur matang, suntikan pemicu diberikan untuk mempersiapkan sel telur agar siap diambil.
  5. Pengambilan Sel Telur (Egg Retrieval): Prosedur bedah singkat ini dilakukan di bawah sedasi ringan untuk mengumpulkan sel telur dari ovarium.
  6. Vitrification (Pembekuan Cepat): Ini adalah teknik pembekuan cepat yang krusial. Vitrifikasi mencegah pembentukan kristal es yang dapat merusak sel telur, menghasilkan sel seperti kaca padat.
  7. Penyimpanan: Sel telur yang telah dibekukan kemudian disimpan dengan aman dalam nitrogen cair hingga tiba saatnya untuk digunakan. Sel telur ini dapat bertahan aman selama bertahun-tahun. Beberapa sumber menyebutkan dapat disimpan hingga 10 tahun ke depan.
4 dari 5 halaman

Peluang Keberhasilan dan Faktor Penentu

Tingkat keberhasilan egg freezing merujuk pada kemungkinan mencapai kehamilan yang sukses dan kelahiran hidup menggunakan sel telur yang telah dicairkan. Beberapa faktor utama memengaruhi peluang ini:

1. Faktor Usia

Usia perempuan saat sel telur dibekukan adalah faktor paling signifikan. Tingkat keberhasilan umumnya lebih tinggi pada perempuan yang lebih muda, terutama di bawah 35 tahun, karena kualitas dan kuantitas sel telur yang lebih baik. Perempuan di bawah 35 tahun yang membekukan setidaknya 20 sel telur memiliki peluang kelahiran hidup hingga 88,9%.

Untuk kelompok usia 35-37 tahun, hasilnya masih sangat baik, dengan tingkat keberhasilan sekitar 80%. Sementara itu, pada usia 38-40 tahun, tingkat keberhasilan mencapai 72,7%. Namun, bagi perempuan di atas 40 tahun, data menunjukkan penurunan tajam dalam tingkat keberhasilan.

2. Jumlah Sel Telur yang Dibekukan

Jumlah sel telur yang dibekukan juga berperan penting. Umumnya, disarankan untuk membekukan 15–20 sel telur untuk meningkatkan peluang kehamilan yang kuat. Perempuan yang membekukan lebih dari 20 sel telur memiliki tingkat keberhasilan mendekati 82%, sedangkan mereka yang membekukan kurang dari 10 sel telur melihat tingkat keberhasilan turun di bawah 60%.

Tingkat kelahiran hidup meningkat secara signifikan ketika jumlah sel telur yang dibekukan per pasien adalah 15 atau lebih, terlepas dari usia saat pembekuan.

3. Teknik Pembekuan

Kemajuan teknologi, khususnya adopsi metode pembekuan cepat yang disebut vitrifikasi, telah berkontribusi besar pada peningkatan tingkat keberhasilan di berbagai kelompok usia. Berkat teknik vitrifikasi modern, sel telur beku kini memiliki tingkat kelangsungan hidup dan kehamilan yang sebanding dengan sel telur segar.

5 dari 5 halaman

Memahami Risiko dan Pertimbangan Lainnya

ilustrasi perempuan tersenyum/Photo by Conner Ching on Unsplash

Meskipun egg freezing umumnya dianggap aman, penting untuk memahami potensi risiko dan beberapa pertimbangan lain sebelum memutuskan prosedur ini.

Potensi Risiko dan Efek Samping

Salah satu risiko jangka pendek utama selama siklus egg freezing adalah Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS), yang terjadi pada sekitar 5% kasus IVF dan pembekuan sel telur. Dalam kasus yang parah, OHSS dapat berbahaya, dengan gejala seperti sesak napas, refluks lambung, nyeri, dan muntah.

Meskipun jarang, ada juga risiko komplikasi selama prosedur pengambilan sel telur. Selain itu, tidak semua sel telur akan bertahan saat dicairkan; sekitar 90% sel telur diperkirakan akan bertahan setelah pencairan.

Kekhawatiran jangka panjang terkait peningkatan risiko kanker akibat pengobatan hormon telah ada, karena terapi hormon dapat meningkatkan kadar estrogen yang berpotensi memicu pertumbuhan kanker ovarium dan payudara. Namun, sebagian besar data ini berasal dari pasien IVF yang mungkin memiliki kondisi mendasar yang berbeda dari perempuan yang membekukan sel telur.

Mengenai risiko pada keturunan, dua penelitian menunjukkan tingkat cacat lahir pada bayi yang lahir dari sel telur beku sekitar 1,5-2,0%, yang secara statistik tidak berbeda dari anak-anak yang lahir melalui IVF menggunakan sel telur segar.

Pertimbangan Penting Lainnya

Biaya: Biaya egg freezing sangat bervariasi. Di Amerika Serikat, rata-rata satu siklus mencapai sekitar $14.364 (per Januari 2025). Sementara itu, di Eropa, biayanya bisa jauh lebih rendah, misalnya sekitar €2.500 di Eropa, €3.500 – €4.700 di Spanyol, atau sekitar €1.800 di Republik Ceko. Perlu diingat bahwa biaya ini seringkali tidak termasuk obat-obatan, penyimpanan jangka panjang, atau prosedur IVF di kemudian hari.

Penyimpanan: Sel telur dapat disimpan dengan aman selama bertahun-tahun. Beberapa sumber menyebutkan dapat disimpan hingga 10 tahun ke depan.

Medical Tourism: Banyak perempuan memilih untuk melakukan egg freezing di luar negeri karena biaya yang lebih rendah, daftar tunggu yang lebih pendek, serta batasan usia atau penyimpanan yang lebih fleksibel. Namun, pilihan ini juga memerlukan pertimbangan etika, perbedaan budaya dan bahasa, serta variasi hukum dan peraturan antar negara.

Bukan Jaminan Kehamilan: Penting untuk diingat bahwa egg freezing memang mempertahankan pilihan kesuburan, tetapi tidak memberikan jaminan 100% untuk kehamilan di masa depan.

Dengan pemahaman yang komprehensif mengenai apa itu egg freezing, proses, peluang keberhasilan, hingga risikonya, setiap perempuan dapat membuat keputusan yang terinformasi dan sesuai dengan rencana hidupnya.