Fimela.com, Jakarta - Keputusan untuk melakukan egg freezing atau pembekuan sel telur seringkali didasari oleh berbagai alasan, mulai dari karier hingga kondisi kesehatan. Prosedur ini menawarkan harapan bagi banyak perempuan untuk memiliki keturunan di kemudian hari. Namun, seperti halnya prosedur medis lainnya, egg freezing juga memiliki serangkaian risiko yang perlu dipahami secara komprehensif. Mari kita telusuri lebih dalam risiko-risiko yang mungkin muncul.
Risiko Terkait Stimulasi Ovarium
Langkah awal dalam proses egg freezing adalah stimulasi ovarium, di mana injeksi hormon diberikan untuk mendorong ovarium menghasilkan banyak sel telur. Proses ini bukannya tanpa efek samping.
Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS)
Salah satu risiko utama jangka pendek adalah Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS). Kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar 5% hingga 15% kasus IVF dan pembekuan sel telur. OHSS ringan hingga sedang dapat menimbulkan gejala seperti kelelahan, mual, sakit kepala, nyeri perut, nyeri payudara, dan iritabilitas, yang umumnya dapat ditangani dengan baik. Namun, OHSS parah bisa terjadi pada 0,1%–2% pasien, menyebabkan pembekuan darah, sesak napas, nyeri perut hebat, dehidrasi, dan muntah yang memerlukan rawat inap. Meskipun sangat jarang, kasus kematian pernah dilaporkan, meski belum ada di Kanada. Klinik kesuburan saat ini telah melakukan pemantauan ketat dan menyesuaikan protokol perawatan untuk meminimalkan risiko OHSS ini.
Efek Samping Mirip PMS
Injeksi hormon juga bisa memicu gejala yang mirip dengan sindrom pramenstruasi (PMS). Beberapa perempuan mungkin mengalami kembung, iritabilitas, kram, serta sensasi panas dan dingin. Efek samping lain yang umum dilaporkan termasuk sakit kepala, perubahan suasana hati, insomnia, nyeri payudara, atau retensi cairan ringan. Gejala-gejala ini biasanya disebabkan oleh fluktuasi hormonal, bersifat minor, dan berumur pendek, umumnya hanya berlangsung selama 8-11 hari saat pengobatan diberikan.
Reaksi di Lokasi Injeksi
Karena sebagian besar obat diberikan melalui injeksi, area di sekitar lokasi suntikan bisa terasa nyeri, kemerahan, atau sedikit memar. Ini adalah reaksi lokal yang umum dan biasanya tidak serius.
Potensi Risiko Kanker
Dugaan mengenai peningkatan risiko kanker payudara, rahim, atau jenis kanker lainnya akibat stimulasi ovarium memang pernah muncul. Namun, laporan mengenai kaitan ini masih terbatas dan saling bertentangan, sehingga penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Sebuah studi ekstensif tidak menemukan peningkatan kasus kanker payudara pada perempuan yang mengonsumsi obat kesuburan, dan studi serupa juga tidak menemukan peningkatan jenis kanker lainnya.
Risiko Terkait Prosedur Pengambilan Sel Telur
Setelah stimulasi ovarium, langkah selanjutnya adalah pengambilan sel telur, yang juga memiliki risiko tersendiri.
Risiko Anestesi
Prosedur pengambilan sel telur biasanya dilakukan di bawah anestesi. Meskipun komplikasi terkait anestesi jarang terjadi, risiko ini tetap ada. Pasien yang sehat umumnya merespons dengan baik terhadap anestesi, dan risikonya sangat rendah untuk jenis anestesi yang digunakan dalam prosedur ini.
Cedera Akibat Tusukan Jarum
Selama pengambilan sel telur, ada risiko kecil cedera akibat jarum yang digunakan. Sebuah studi yang melibatkan hampir 24.000 pengambilan sel telur berturut-turut menunjukkan tingkat komplikasi keseluruhan sebesar 0,76%. Hemoperitoneum (pendarahan di rongga perut) adalah komplikasi paling umum (0,23%), diikuti oleh nyeri panggul dan komplikasi anestesi (masing-masing 0,06%), infeksi (0,04%), dan pendarahan dinding vagina (0,01%).
Efek Samping Pasca-Prosedur
Setelah pengambilan sel telur, adalah normal untuk mengalami kram ringan hingga sedang selama beberapa hari. Pendarahan vagina ringan atau spotting juga dapat terjadi saat tubuh pulih. Beberapa perempuan mungkin masih merasa 'penuh' atau kembung selama beberapa hari karena ovarium secara bertahap kembali ke ukuran normalnya.
Tantangan Pembekuan dan Kehamilan Masa Depan
Proses pembekuan dan pencairan sel telur, serta potensi kehamilan di masa depan, juga membawa risiko dan ketidakpastian.
Tidak Ada Jaminan Kehamilan
Penting untuk diingat bahwa egg freezing tidak menjamin kehamilan. Diperkirakan setiap sel telur yang dibekukan memiliki peluang sekitar 4,5% hingga 12% untuk berkembang menjadi bayi. Efisiensi sel telur yang divitrifikasi dan dihangatkan menjadi bayi lahir hidup hanya sekitar 6,5% per sel telur, dengan angka bervariasi dari 5,2% untuk perempuan berusia ≥38 tahun hingga 7,4% untuk perempuan berusia <30 tahun saat pembekuan sel telur dilakukan.
Kerusakan Sel Telur
Sel telur manusia sangat rentan terhadap kerusakan akibat proses pembekuan dan pencairan karena kandungan airnya yang tinggi. Beberapa sel telur mungkin tidak cocok untuk dibekukan, beberapa mungkin tidak bertahan dalam proses pembekuan dan pencairan, dan beberapa mungkin tidak berhasil dibuahi atau berkembang menjadi embrio normal.
Risiko IVF (jika sel telur beku digunakan)
Jika sel telur beku digunakan untuk kehamilan, perempuan akan menghadapi risiko yang terkait dengan prosedur IVF. Risiko ini meliputi kehamilan ganda, tekanan darah tinggi terkait kehamilan, persalinan prematur, persalinan operatif, dan bayi dengan berat lahir rendah. Selain itu, embrio dapat berkembang secara tidak normal atau tidak menempel di rahim, dan keguguran tetap menjadi risiko selama kehamilan.
Risiko pada Keturunan
Ada bukti yang menunjukkan 'sedikit peningkatan risiko kelainan struktural kongenital' dengan IVF. Beberapa penelitian juga mengindikasikan adanya peningkatan risiko kecil namun signifikan untuk kanker dan anomali jantung struktural pada anak-anak ini, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengonfirmasi risiko ini dan menentukan apakah ada risiko khusus yang terkait dengan kelahiran dari sel telur beku. Namun, studi berbasis populasi manusia yang besar tidak menunjukkan peningkatan kelainan kromosom pada anak-anak dari pasien yang sebelumnya diobati dengan radiasi atau kemoterapi. Bukti yang tersedia saat ini menunjukkan tidak ada peningkatan insiden kelainan kongenital pada bayi yang lahir melalui sel telur yang divitrifikasi.
Dampak Emosional dan Pertimbangan Penting
Selain risiko fisik, aspek emosional dan psikologis juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan egg freezing.
Risiko Emosional dan Psikologis
American Society for Reproductive Medicine (ASRM) dan Society for Assisted Reproductive Technology (SART) telah mencatat adanya risiko emosional terkait pembekuan sel telur. Stres atau perasaan tak terduga selama proses ini adalah hal yang umum dan memerlukan perhatian serta perawatan. Faktor-faktor seperti adanya komplikasi selama proses pembekuan sel telur seringkali dikaitkan dengan tingkat kepuasan yang rendah.
Pertimbangan Umum
Data mengenai keamanan, efikasi, dan efektivitas biaya pembekuan sel telur untuk perempuan sehat usia reproduktif masih terbatas. Selain itu, perlu diingat bahwa jumlah sel telur yang dapat diambil cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, diskusi mendalam dengan profesional medis dan pemahaman yang realistis tentang peluang dan risiko sangatlah krusial sebelum memutuskan untuk menjalani prosedur ini.