Waspada, Ini Berbagai Masalah Kesehatan yang Mengintai Saat Ikut Lari Maraton

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 15 Juni 2026, 08:10 WIB

ringkasan

  • Lari maraton dapat menyebabkan cedera muskuloskeletal umum seperti tendinitis Achilles, plantar fasciitis, dan runner's knee akibat overuse atau biomekanik yang salah.
  • Risiko kardiovaskular serius seperti henti jantung mendadak, meskipun sangat langka, dapat terjadi terutama pada individu dengan penyakit jantung yang mendasari.
  • Ketidakseimbangan elektrolit (hiponatremia) dan penyakit terkait panas (dehidrasi, heat exhaustion, heat stroke) adalah ancaman nyata, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem.

Fimela.com, Jakarta - Lari maraton, sebuah tantangan fisik yang menuntut daya tahan tinggi, semakin populer di kalangan masyarakat. Namun, di balik semangat dan manfaatnya, aktivitas ini juga membawa potensi risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Para pelari, baik pemula maupun yang berpengalaman, perlu memahami berbagai masalah yang mungkin timbul saat menempuh jarak 42 kilometer atau lebih. Tuntutan fisik yang ekstrem dari berlari 26,2 mil atau 42 km dapat mengakibatkan berbagai cedera, seperti keseleo, ketegangan, fraktur stres, dan kerusakan otot. Memahami risiko ini adalah langkah awal untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik dan meminimalkan dampak negatif pada tubuh. Kesiapan fisik yang prima dan teknik lari yang tepat menjadi kunci untuk menghindari gangguan kesehatan serius.

Beragam Cedera Otot dan Sendi yang Mengintai Pelari Maraton

Cedera muskuloskeletal merupakan keluhan paling umum yang dialami pelari maraton. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh penggunaan berlebihan (overuse) atau biomekanik lari yang tidak tepat, serta peningkatan volume latihan yang terlalu cepat. Beberapa cedera umum yang sering terjadi meliputi Tendinitis Achilles, yaitu peradangan pada pita tendon yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit, menyebabkan nyeri dan bengkak. Ada pula Plantar Fasciitis, peradangan pada jaringan di telapak kaki yang menopang lengkungan, menjadi penyebab umum nyeri tumit. Runner's knee atau sindrom patellofemoral, cedera overuse di sekitar lutut depan, juga menjadi salah satu keluhan yang paling membuat frustrasi dan sering dialami pelari.

Selain itu, shin splints atau sindrom stres tibia medial, ditandai dengan nyeri tumpul hingga tajam di sepanjang tulang kering, juga sangat umum terjadi. Pelari juga rentan mengalami keseleo, ketegangan, dan robekan otot akibat pengerahan tenaga yang ekstrem. Fraktur stres, cedera serius pada tulang yang membutuhkan istirahat total, paling sering terjadi pada tulang kering bagian bawah dan metatarsal kedua di kaki depan.

Sindrom pita iliotibial (ITBS) yang menyebabkan nyeri di sisi luar lutut, seringkali dipicu oleh bentuk lari yang buruk atau kelemahan otot pinggul. Kondisi kronis seperti tendinopati dan artritis juga dapat berkembang perlahan seiring waktu, terutama pada sendi yang sudah pernah cedera atau jika ada kelebihan berat badan. Masalah kulit juga umum terjadi, seperti lecet yang muncul akibat gesekan berulang antara kaki dengan sepatu atau kaus kaki. Kuku kaki hitam dapat terjadi akibat penumpukan darah di bawah kuku, sementara luka gesek timbul dari gesekan kulit dengan kulit yang diperparah oleh keringat.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Ancaman Jantung dan Gangguan Keseimbangan Cairan Tubuh

Ilustrasi Lari/https://unsplash.com/Filip Mroz

Meskipun jarang, masalah kardiovaskular adalah risiko paling serius dan berpotensi mengancam jiwa dalam maraton. Insiden henti jantung mendadak (SCA) dan kematian jantung mendadak (SCD) sangat langka, dengan perkiraan satu dari 39.000 dan satu dari 78.000 pelari yang finis. Sebagian besar kasus kematian ini disebabkan oleh penyakit arteri koroner yang mendasari. Selama dan beberapa jam setelah perlombaan, peradangan sistemik dapat meningkatkan risiko kejadian jantung, terutama bagi individu paruh baya dengan penyakit arteri koroner yang tidak terdeteksi. Lari jarak jauh juga dapat memicu disfungsi ventrikel kanan dan potensi peningkatan risiko aritmia serta hipertensi.

Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan jantung menyeluruh sebelum maraton sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung atau faktor risiko lainnya. Ketidakseimbangan elektrolit juga menjadi perhatian serius, terutama hiponatremia, di mana kadar natrium dalam tubuh menjadi terlalu rendah akibat minum terlalu banyak cairan selama latihan ekstrem. Kondisi ini dapat menyebabkan kebingungan, mual, muntah, dan sakit kepala, dan diperkirakan terjadi pada 10-15 persen pelari maraton. Kram otot, yang sering terjadi akibat pengerahan tenaga yang lama dan postur lari yang sama selama berjam-jam, diperparah oleh dehidrasi dan hilangnya kadar garam dalam tubuh.

3 dari 4 halaman

Risiko Kesehatan Akibat Kondisi Lingkungan dan Masalah Pencernaan

Demi keselamatan, perhatikan hal-hal berikut ini sebelum berlari. (Foto: Unsplash.com/Fitsum admasu).

Berlari dalam kondisi panas dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan serius. Dehidrasi, yang tidak hanya terbatas pada musim panas, dapat merusak ginjal dan menyebabkan cedera ginjal akut jika cairan tubuh tidak diganti. Kelelahan akibat panas (heat exhaustion) adalah kondisi umum yang sering membuat pelari berakhir di tenda medis, terutama pada hari perlombaan yang lebih hangat. Kondisi yang lebih parah adalah heat stroke (exertional heat stroke), suatu kondisi medis serius yang mengancam jiwa. Gejalanya meliputi suhu tubuh tinggi, mual, muntah, detak jantung cepat, dan kebingungan.

Faktor utama heat stroke adalah panas yang dihasilkan tubuh sendiri, yang meningkat seiring dengan kecepatan lari. Keluhan pencernaan juga sering dialami pelari maraton. Mual, muntah, kram perut, kembung, dan gangguan gastrointestinal lainnya adalah masalah umum yang terlihat di garis finis. Diare juga sering terjadi, dengan perkiraan 30% peserta mengalami efek samping ini setelah maraton. Selain itu, darah samar (occult blood) dapat ditemukan setelah perlombaan, diperkirakan terjadi antara 8 hingga 85% kasus, disebabkan oleh trauma mekanis dan iskemia mesenterika.

4 dari 4 halaman

Dampak pada Ginjal dan Penurunan Fungsi Tubuh Lainnya

Demi keselamatan, perhatikan hal-hal berikut ini sebelum berlari. (Foto: Unsplash.com/Christoper campbell).

Ginjal dapat terpengaruh secara signifikan oleh stres fisik ekstrem selama maraton. Sebuah studi menemukan bahwa 80% pelari maraton menunjukkan tanda-tanda cedera ginjal pada akhir perlombaan. Meskipun kerusakan ginjal ini biasanya dapat pulih setelah rehidrasi, kasus ekstrem dapat memiliki implikasi jangka panjang pada kesehatan ginjal. Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah rhabdomyolysis, di mana otot rusak dan melepaskan protein mioglobin ke aliran darah, yang dapat merusak ginjal dan memblokir saluran urin. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi pengerahan tenaga berlebihan, suhu tinggi, dan dehidrasi.

Selain itu, beberapa pelari jarak jauh melaporkan penurunan imunitas setelah perlombaan besar, dengan disfungsi sistem kekebalan yang dapat berlangsung hingga tiga hari. Rinitis akibat olahraga, atau hidung meler, juga umum terjadi pada 56% pelari, karena peningkatan pernapasan selama lari membuat hidung hiperaktif dan menghasilkan lendir. Fenomena menarik lainnya adalah penurunan tinggi badan sementara, di mana pelari dapat kehilangan hampir setengah inci tinggi badan selama maraton.

Hal ini disebabkan oleh otot punggung yang tegang dan kehilangan cairan di antara cakram intervertebralis. Kelelahan otot juga dapat menyebabkan tersandung atau jatuh, yang berujung pada keseleo, ketegangan, atau fraktur. Lari jarak jauh juga dapat menyebabkan peradangan otot yang bertahan lebih lama dibandingkan jenis latihan fisik lainnya, serta disfungsi akut pada sistem saraf.