10 Tahun Berkarya, Wilsen Willim Sulap Tenun dan Denim Daur Ulang Jadi Adibusana Berjiwa Rebel

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 10 Juli 2026, 21:55 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di tangan Wilsen Willim, wastra Indonesia kembali menemukan cara baru untuk bercerita. Memperingati satu dekade perjalanan kariernya di industri mode, desainer yang dikenal dengan eksplorasi tekstil inovatif ini menghadirkan koleksi bertajuk "Algorithm: Universal Language", sebuah perayaan yang bukan hanya menampilkan keindahan busana, tetapi juga menjadi penghormatan terhadap para penenun Nusantara.

Alih-alih sekadar menampilkan koleksi retrospektif, Wilsen Willim mengajak publik melihat tenun dari sudut pandang yang berbeda. Ia menyoroti algoritma—pola teratur yang tercipta dari pertemuan benang lungsi dan pakan—sebagai bahasa universal yang selama ini menjadi fondasi setiap lembar kain tenun.

"Seperti halnya denim, semua orang mengenal dan menggunakan angka. Kali ini keduanya saya pertemukan," ujar Wilsen mengenai inspirasi koleksi yang menjadi penanda 10 tahun kiprahnya.

Mengusung sekitar 60 tampilan busana pria dan perempuan, koleksi ini memadukan berbagai wastra Indonesia dengan pendekatan kontemporer yang menjadi ciri khas sang desainer. Tak hanya kembali mengeksplorasi tenun sutra Garut yang pernah diolahnya beberapa tahun lalu, Wilsen Willim juga menghadirkan Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Songket Jembrana dari Bali, hingga Songket Minang dari Halaban.

 

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Pakai Benang Denim Daur Ulang

Wilsen Willim rayakan 10 tahun berkarya dengan kreasi tenun dan denim daur ulang (Wilsen Willim)

Seluruh wastra tersebut dipadukan dengan benang denim daur ulang hasil kolaborasi bersama Ecotouch. Langkah ini bukan sekadar menghadirkan estetika baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan fashion yang lebih berkelanjutan.

Menurut Wilsen, penggunaan benang daur ulang tidak hanya membantu mengurangi limbah tekstil, tetapi juga menjadi solusi atas semakin mahal dan langkanya bahan baku yang kerap menjadi tantangan bagi para penenun di berbagai daerah.

 

3 dari 4 halaman

Wastra Tradisional Bertemu Sentuhan Punk

Wilsen Willim rayakan 10 tahun berkarya dengan kreasi tenun dan denim daur ulang (Wilsen Willim)

Siluet yang dihadirkan dalam koleksi ini memperlihatkan permainan kontras yang menarik. Nuansa elegan khas wastra Indonesia dipertemukan dengan elemen rebel dan punk yang terasa segar.

Harness berbahan kulit, corset, biker jacket, sabuk besar, hingga rok dengan belahan tinggi menjadi aksen yang memberi karakter kuat pada koleksi. Di sisi lain, Wilsen tetap mempertahankan identitasnya melalui potongan-potongan khas seperti kemeja berkerah bottleneck yang terinspirasi kebaya Kartini, kerah beskap, hingga kerah janggan yang kini kembali diminati.

Material tenun kemudian diolah menjadi berbagai item wearable, mulai dari jaket, kemeja, rok, celana, apron, bib, hingga kain jarik dengan sentuhan modern.

Palet warna yang mendominasi pun terasa begitu kuat. Biru denim menjadi benang merah koleksi, dipadukan dengan sentuhan hitam, putih, abu-abu, biru elektrik, serta kilau metalik emas, perak, dan perunggu yang memberikan kesan dramatis di atas runway.

Keindahan koleksi semakin lengkap berkat kolaborasi bersama sejumlah label lokal, seperti aksesori logam dari Subeng Klasik, aksesori kulit dari Peau, serta alas kaki rancangan Bocorocco.

 

4 dari 4 halaman

Ketika Tenun Diterjemahkan Menjadi Musik

Wilsen Willim rayakan 10 tahun berkarya dengan kreasi tenun dan denim daur ulang (Wilsen Willim)

Eksplorasi Wilsen terhadap algoritma tidak berhenti pada tekstil. Bersama musisi dan kolaborator lamanya, Ican Harem, ia menghadirkan pengalaman multisensori yang unik.

Motif tenun dari empat daerah dipindai menggunakan kamera, lalu diterjemahkan menjadi pola algoritma dengan bantuan teknologi artificial intelligence. Data tersebut kemudian diolah menjadi komposisi musik yang mengiringi fashion show, menghasilkan perpaduan instrumen, tempo, dan ritme yang terinspirasi langsung dari struktur tenun.

Pendekatan ini membuat presentasi koleksi terasa lebih imersif sekaligus memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat berdialog dengan teknologi modern.

Lebih dari sekadar pertunjukan mode, "Algorithm: Universal Language" menjadi pengingat bahwa wastra Indonesia memiliki ruang untuk terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. Melalui inovasi desain, material daur ulang, hingga pemanfaatan teknologi, Wilsen Willim menunjukkan bahwa tenun bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan juga bagian dari masa depan fashion Indonesia.

Bagi Wilsen, semakin banyak wastra diolah menjadi karya yang relevan dengan gaya hidup masa kini, semakin besar pula peluang para penenun untuk terus berkarya dan menarik minat generasi muda dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun.