5 Kiat Menyapih ASI untuk Balita Usia 2 Tahun

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 16 Juli 2026, 16:09 WIB

ringkasan

  • Lakukan penyapihan secara bertahap dan terapkan strategi "jangan menawarkan, jangan menolak" untuk kemudahan ibu dan anak.
  • Alihkan perhatian anak dengan aktivitas menarik atau tawarkan pengganti seperti camilan, buku, atau waktu bermain khusus.
  • Komunikasikan proses penyapihan dengan balita Anda dan libatkan mereka melalui cerita atau "buku anak besar" untuk menumbuhkan rasa bangga.

 

Fimela.com, Jakarta - Proses menyapih dengan cara yang lembut bagi anak berusia dua tahun sebaiknya dilakukan secara bertahap. Pendekatan ini dirancang untuk memudahkan transisi, baik bagi ibu maupun si kecil. Dengan menyapih secara perlahan, tubuh ibu akan mengurangi produksi ASI secara bertahap, sementara anak memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Strategi kunci dalam menyapih bertahap adalah menerapkan prinsip "jangan menawarkan, jangan menolak" (don't offer, don't refuse). Ini berarti ibu tidak secara proaktif menawarkan payudara kepada anak. Namun, jika anak meminta untuk menyusu, ibu tidak menolaknya.

Dilansir dari berbagai sumber, banyak orangtua mengadopsi strategi ini saat memulai menyapih. Kebiasaan menawarkan payudara seringkali muncul sebagai respons terhadap isyarat verbal atau nonverbal dari anak, atau sebagai solusi cepat saat anak merasa sedih atau tertekan. Dengan strategi ini, jika anak tidak meminta atau memberi tanda untuk menyusu, maka ibu tidak perlu menawarkannya. Selain itu, mengurangi durasi setiap sesi menyusui juga menjadi bagian penting dari pendekatan bertahap ini. Sebagai contoh, jika biasanya sesi menyusui berlangsung 15 menit, cobalah untuk menguranginya menjadi 8 menit. Apabila anak menyusu empat kali sehari, usahakan untuk menguranginya menjadi tiga kali. Melakukan perubahan secara perlahan akan membantu anak beradaptasi tanpa merasa terkejut atau mendadak.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Alihkan Perhatian dan Tawarkan Pengganti yang Menarik

Ketika balita mulai menunjukkan keinginan untuk menyusu, salah satu strategi efektif saat menyapih adalah mengalihkan perhatian mereka. | Unsplash - marcos paulo prado

Ketika balita mulai menunjukkan keinginan untuk menyusu, salah satu strategi efektif adalah mengalihkan perhatian mereka. Ibu dapat mengalihkan fokus anak ke aktivitas lain atau menawarkan pengganti yang menarik.

Berbagai pilihan pengganti bisa dicoba untuk menggantikan sesi menyusui. Ini bisa berupa camilan sehat, minuman favorit, atau kegiatan yang menyenangkan seperti membaca buku bersama. Mengajak anak berjalan-jalan di sekitar blok, bermain dengan mainan baru, atau bahkan melakukan panggilan telepon kepada kakek-nenek atau teman juga bisa menjadi alternatif. Selain itu, menciptakan rutinitas waktu tidur yang istimewa, seperti menyanyikan lagu tambahan atau membacakan cerita ekstra, atau melakukan aktivitas bersama seperti bermain puzzle atau permainan, juga dapat membantu mengalihkan perhatian anak.

3 dari 5 halaman

Komunikasikan Proses dan Libatkan Anak dalam Transisi

Libatkan anak dalam proses transisi ini agar mereka merasa bangga dengan pertumbuhan mereka. (Foto: Unsplash/Juan Encalada)

Meskipun balita mungkin terlihat masih sangat kecil, mereka memahami lebih banyak dari yang kita duga. Oleh karena itu, penting untuk mulai membicarakan proses penyapihan dengan mereka. Jelaskan bahwa mereka kini tumbuh besar dan tidak lagi membutuhkan ASI.

Libatkan anak dalam proses transisi ini agar mereka merasa bangga dengan pertumbuhan mereka. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan buku cerita yang membahas tentang penyapihan. Alternatif lainnya adalah membuat "buku anak besar" bersama. Dalam buku buatan sendiri ini, ibu dan anak bisa mencatat semua hal istimewa yang kini bisa dilakukan anak, seperti mengendarai skuter, membantu membuat kue, meluncur di perosotan, atau bermain Play-Doh. Ini akan membantu mereka merasa termotivasi dan bangga menjadi "anak besar".

4 dari 5 halaman

Ubah Rutinitas, Terutama pada Waktu Tidur

Mengubah rutinitas waktu tidur dapat sangat membantu. Misalnya, ibu bisa mencoba menyusui lebih awal dalam rutinitas tidur anak, atau mengubah lokasi menyusui dari tempat tidur ke kursi. (dok. unsplash/@anniespratt)

Sesi menyusui sebelum tidur siang dan malam seringkali menjadi momen yang paling menantang untuk dihentikan. Untuk mempermudah proses, disarankan untuk memulai penyapihan dari sesi menyusui yang dirasa kurang penting bagi anak.

Mengubah rutinitas waktu tidur dapat sangat membantu. Misalnya, ibu bisa mencoba menyusui lebih awal dalam rutinitas tidur anak, atau mengubah lokasi menyusui dari tempat tidur ke kursi. Memberikan pelukan ekstra atau membacakan buku sebagai pengganti menyusui juga bisa menjadi cara efektif. Dalam beberapa kasus, melibatkan pasangan untuk mengambil alih sebagian rutinitas malam dapat sangat membantu, terutama pada waktu-waktu menyusui utama.

5 dari 5 halaman

Prioritaskan Kenyamanan dan Curahkan Kasih Sayang

Bagi banyak balita, ikatan emosional adalah salah satu alasan utama mengapa mereka enggan untuk berhenti menyusu. Yakinkan si kecil bahwa berakhirnya masa menyusui tidak berarti berkurangnya kasih sayang. /kazuend/unsplash

Menyusui tidak hanya tentang nutrisi, tetapi juga merupakan waktu penting untuk membangun ikatan antara ibu dan anak. Oleh karena itu, saat proses penyapihan berlangsung, pastikan untuk mengganti momen ikatan tersebut dengan curahan kasih sayang dan perhatian yang melimpah.

Bagi banyak balita, ikatan emosional adalah salah satu alasan utama mengapa mereka enggan untuk berhenti menyusu. Yakinkan si kecil bahwa berakhirnya masa menyusui tidak berarti berkurangnya kasih sayang. Selama proses penyapihan, berikan pelukan dan ciuman lebih banyak, terutama pada waktu-waktu di mana anak paling bergantung pada ASI. Menawarkan benda kesayangan (lovey), pelukan ekstra, atau waktu bermain khusus juga dapat memenuhi kebutuhan kenyamanan anak. Penting juga bagi ibu untuk mengelola emosinya sendiri, karena penyapihan adalah transisi besar yang melibatkan perasaan mendalam bagi ibu dan anak. Jangan terburu-buru jika belum siap.