Sukses

Fashion

Saat TOTON Gandeng Ogoh-Ogoh Naik ke Panggung Mode

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, TOTON mengajak publik memaknai waktu dari sudut yang berbeda. Di panggung Mulia in Fashion 2026, waktu tidak dihadirkan lewat jarum jam atau hitungan detik, melainkan melalui sebuah instalasi raksasa yang langsung mencuri perhatian.

Karya itu menjadi pembuka perjalanan menuju KALA 2027, koleksi terbaru TOTON yang mengajak penonton merenungkan perubahan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Instalasi tersebut terinspirasi dari sosok Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali, figur yang kerap dimaknai sebagai penguasa waktu.

Di balik tampilannya yang megah, tersimpan kisah kolaborasi yang berawal dari dunia digital. Toton Januar, desainer di balik label TOTON, menemukan karya ogoh-ogoh berjudul Sedap Malam milik seniman Bali Ida Bagus Nyoman Surya Wigenem di Instagram.

Ketertarikan itu berkembang menjadi percakapan, lalu berlanjut menjadi kolaborasi untuk menghadirkan interpretasi Batara Kala sebagai instalasi utama dalam presentasi KALA 2027.

"Bagi saya, ini pengalaman yang benar-benar baru. Bagaimana seni ogoh-ogoh bisa terlibat dalam fashion, itu yang membuat saya sangat tertantang," ujar Surya seusai peragaan busana di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026.

Kolaborasi tersebut menjadi titik temu antara dua dunia yang selama ini jarang bersinggungan. Toton menghadirkan gagasan tentang Batara Kala sebagai simbol waktu dan perubahan, sementara Surya menerjemahkannya ke dalam bahasa seni instalasi yang berakar pada tradisi ogoh-ogoh Bali.

Hasilnya bukan sekadar elemen dekoratif di sisi runway, melainkan lanskap visual yang memperkuat narasi koleksi KALA sekaligus mengantar penonton menyelami pesan yang ingin disampaikan TOTON tentang identitas, perubahan, dan kemampuan manusia untuk terus beradaptasi.

Tantangan Teknis: Batas Akses dan Waktu

Jauh sebelum para model melangkah di runway, Gusman Surya dan tim berjibaku dengan tantangan yang tidak tampak di mata penonton. Akses menuju lokasi pemasangan instalasi yang terbatas membuat setiap keputusan desain harus dipikirkan sejak tahap awal.

Karya ini dituntut tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga modular: mudah dibongkar, dikirim dari Bali, lalu dirakit kembali dalam durasi yang sangat singkat. Persiapan berlangsung berbulan-bulan, dengan proses pengerjaan intensif selama satu setengah bulan.

"Kami hanya diberi waktu lima jam untuk instalasi. Semua harus diperhitungkan secara matang supaya acaranya tidak mundur," ujar dia.

Alokasi lima jam itu menjadi ujian sesungguhnya. Setiap sambungan diberi nomor, dan urutan pemasangan disusun jauh sebelum karya meninggalkan Bali. Tidak ada ruang untuk mencoba-coba karena setiap menit yang terbuang akan berisiko menggeser keseluruhan jadwal pertunjukan.

Pada akhirnya, tema waktu bukan hanya hadir sebagai konsep artistik di panggung, tetapi juga menjadi realitas kerja di balik layar bagi seluruh tim yang terlibat—semua langkah terukur, semua proses berpacu dengan jam.

Dari Ogoh-Ogoh ke Busana

Batara Kala juga membawa semangat tradisi pembuatan ogoh-ogoh di Bali. Besi digunakan sebagai struktur utama, sementara bambu dianyam lalu dilapisi kertas sebelum diberi lapisan akhir tahan air.

Teknik tersebut mempertahankan warisan perajin sekaligus lebih ramah lingkungan. Jika dahulu ogoh-ogoh dibuat dari koran bekas dan kertas semen, kini para perajin memanfaatkan kertas pembungkus kargo atau kertas samson yang lebih mudah diperoleh.

"Kalau nanti karya ini sudah tidak dipakai, materialnya tetap aman karena tidak mengandung bahan-bahan seperti styrofoam," ujar Gusman Surya.

Kolaborasi dengan Toton juga berlangsung intens. Proporsi, warna, komposisi, hingga aksesori terus didiskusikan selama proses produksi di Gianyar, Bali. Toton baru melihat instalasi secara langsung saat dipasang di lokasi, sebelum menyempurnakan beberapa detail warna agar selaras dengan presentasi koleksi KALA.

Semangat serupa diterapkan pada busana KALA 2027 melalui perpaduan katun, organza, lace, tulle, satin, dan denim, yang diperkaya teknik pengerjaan tangan serta penggunaan material daur ulang dan daur naik.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading