Sukses

FimelaMom

6 Cara Menyembuhkan Trauma Masa Kecil agar Tidak Mempengaruhi Pola Asuh Anak

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, trauma masa kecil memang tidak bisa hilang begitu saja. Bahkan, peristiwa yang tidak menyenangkan di masa kecil sering kali meninggalkan bekas luka emosional dan psikologis. Selain itu, ketika peristiwa tersebut terjadi di masa kanak-kanak, hal itu bisa mempengaruhi kesehatan mental dan fisik selama bertahun-tahun hingga dewasa. 

Bagaimana trauma masa kecil bisa kembali muncul ketika kita dewasa? Saat sesuatu yang sangat menakutkan atau pengalaman buruk terjadi sewaktu kecil, peristiwa itu bisa membuat Sahabat Fimela merasa sedih atau terluka dalam jangka waktu lama. Itulah sebabnya, dampak trauma masa kecil jangan diabaikan begitu saja karena bisa mempengaruhi kondisi kita ketika dewasa. 

Dilansir dari healthclevelandclinic.org, ada beberapa jenis trauma masa kanak-anak yang dialami, seperti kekerasan fisik, pelecehan emosional, pelecehan seksual, dan lainnya. Lalu, bagaimana cara mengatasi trauma masa kecil yang masih terasa dampaknya hingga dewasa? Yuk simak pembahasan berikut ini agar Sahabat Fimela bisa menyembuhkan trauma masa kecil secara perlahan.

Cara Menyembuhkan Trauma Masa Kecil dengan Perlahan-Lahan

1. Mencari bantuan profesional melalui terapi

Terapi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu seseorang memahami dan memproses pengalaman traumatis. Untuk mengatasi trauma, Sahabat Fimela bisa melakukan psikoterapi atau talk therapy. Dengan menerapkan psikoterapi atau talk therapy, hal itu bisa membangun cara coping yang sehat dan memahami emosi yang selama ini dipendam. Selain itu, terapi juga bisa membantu seseorang agar tidak terus membawa luka lama ke dalam hubungan maupun pola pengasuhan terhadap anak.

2. Melatih untuk berhenti menyalahkan diri sendiri

Seseorang yang memiliki luka masa kecil sering tumbuh dengan rasa bersalah, minder atau merasa dirinya tidak cukup baik. Oleh sebab itu, Sahabat Fimela bisa menerapkan self-compassion, yaitu belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut dan penuh pengertian. Perlu diingat bahwa penyembuhan bukan tentang menyalahkan diri atas masa lalu, tetapi memahami bahwa diri sedang berusaha pulih dari pengalaman yang sulit. Dengan sikap ini, Sahabat Fimela bisa membangun kesehatan mental yang lebih stabil sehingga lebih mampu memberikan kasih sayang yang sehat kepada si kecil.

3. Menjalani self-care secara konsisten

Self-care bukan sekadar memanjakan diri, tetapi menjaga kesehatan tubuh dan pikiran agar lebih stabil secara emosional. Terdapat beberapa beberapa bentuk self-care yang bisa Sahabat Fimela lakukan untuk membantu proses healing. Contoh self-care yang tepat adalah tidur cukup, olahraga rutin, makan bergizi, journaling, meditasi, latihan pernapasan, dan menyalurkan emosi lewat seni atau menulis. Berbagai aktivitas ini bisa membantu tubuh menurunkan stres dan membuat pikiran lebih tenang dalam menghadapi trauma yang pernah dialami.

4. Belajar mengelola emosi dengan mengenali trigger

Trauma masa kecil sering membuat seseorang mudah marah, cemas, takut ditinggalkan, atau sulit percaya pada orang lain. Oleh karena itu, penting untuk Sahabat Fimela agar bisa mengenali situasi yang menjadi trigger emosional. Pemicu rasa trigger biasanya terdapat pengalaman traumatis yang mengakibatkan respons stres berkepanjangan dalam tubuh. Dengan mengenali pemicu emosi, Sahabat Fimela bisa belajar merespons situasi dengan lebih sehat dan tidak melampiaskan luka emosional kepada anak maupun orang terdekat.

5. Menetapkan boundaries atau batasan yang sehat

Sahabat Fimela, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan tidak sehat sering kesulitan mengatakan “tidak” atau menjaga dirinya dari hubungan toxic. Itulah sebabnya, Sahabat Fimela bisa menetapkan boundaries untuk membantu menciptakan rasa aman, kontrol diri, dan penghargaan terhadap diri sendiri. Menetapkan batasan juga penting agar seseorang tidak terus berada dalam lingkungan yang memicu trauma lama. Dengan memiliki boundaries yang sehat, Sahabat Fimela bisa membangun hubungan keluarga yang lebih aman secara emosional bagi anak.

6. Membangun hubungan yang sehat dan suportif

Trauma sering kali membuat seseorang merasa sendirian atau sulit mempercayai orang lain. Padahal, hubungan yang aman dan suportif sangat membantu proses penyembuhan. Melalui dukungan dari keluarga, sahabat, pasangan atau komunitas dapat membantu seseorang merasa diterima dan didengar. Selain itu, hubungan yang sehat juga bisa membantu untuk memutus pola pengasuhan penuh luka yang mungkin pernah dialami saat kecil.

Sahabat Fimela, menyembuhkan trauma masa kecil memang bukan proses yang mudah dan instan, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Perjalanan healing memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan keberanian untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik. Ketika trauma masa kecil berhasil diatasi, Sahabat Fimela tidak hanya membantu diri sendiri menjadi lebih sehat secara mental dan emosional, tetapi juga dapat memutus rantai luka agar tidak diwariskan kepada anak di masa depan. 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading