Sukses

Health

Alasan Indonesia Tak Perlu Panik atas Temuan Varian AY.4.2 di Malaysia-Singapura

Fimela.com, Jakarta Varian Corona AY.4.2 atau jamak disebut dengan Delta Plus terdeteksi di Singapura dan Malaysia dalam waktu berdekatan. Meski varian ini disebut 10 persen lebih menular ketimbang Delta, Indonesia diminta agar tidak panik, namun tetap waspada.

"Indonesia tidak perlu panik. Waspada," kata Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban melansir dari Liputan6.com.

Ia pun membeberkan alasannya mengapa Indonesia tak perlu panik, pertama, kesadaran masyarakat Indonesia cukup dbaik dalam menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi. Lalu, positivity rate sudah di bawah 2 persen. "Meski begitu, ya tetap harus waspada," katanya.

Senada dengan Zubairi, Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama juga mengingatkan masyarakat cara mengantisipasi varian ini dengan protokol kesehatan yang ketat. Terlepas varian ini lebih berat atau tidak, paling penting tetap memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun serta menjauhi kerumunan.

“Terkait dia lebih berat atau enggak kita belum tahu, apa dia memengaruhi vaksin atau enggak kita belum tahu, tapi kita tahu 10 sampai 15 persen lebih mudah menular, jadi antisipasinya untuk masyarakat umum tetap protokol kesehatan dengan ketat," kata Tjandra ke Health-Liputan6.com.

Tjandra menambahkan, tingkat keganasan dan hal-hal lain terkait AY.4.2 tidak hanya belum di ketahui di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

“Saya enggak bicara Indonesia saja, dunia juga belum tahu apa lebih ganas atau tidak.”

Jika Ada di Indonesia, Belum Tentu Ganas atau Lebih Menular

Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Profesor Amin Soebandrio mengatakan bahwa keganasan COVID-19 varian Delta Plus AY.4.2 belum bisa digambarkan karena belum terdeteksi di Indonesia.

“Saat ini karena belum ada di Indonesia, kita tidak bisa menggambarkan data seperti itu. Namun, jika dilihat dari varian Delta pada umumnya, yang terjadi di luar (negeri) itu tidak terjadi di Indonesia,” ujar Amin kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Kamis (11/11/2021).

Artinya, lanjut Amin, tidak semua infeksi COVID-19 yang diakibatkan varian Delta itu berat dan tidak semua yang berat itu karena Delta.

Dengan kata lain, Amin berpendapat bahwa jika Delta Plus AY.4.2 disebut lebih ganas di negara lain, hal ini belum tentu sama jika virus tersebut ada di Indonesia.

“Varian ini dikhawatirkan lebih cepat menular 10 persen ketimbang Delta lainnya, tapi sekali lagi itu tidak selalu dikaitkan dengan berat ringannya kasus,” katanya.

“Karena belum ada di Indonesia, kita belum mengetahui bagaimana perangai varian itu di masyarakat," katanya.

#ElevateWomen 

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Aturan Lengkap Perjalanan Internasional Lewat Jalur Darat untuk Cegah Varian Baru Covid-19 Omicron
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Sciesa, Brand Home Fragrance Lokal Suguhkan Aroma Penuh Cerita