Sukses

Health

Mengapa Daging Merah Bisa Memicu Kolesterol Tinggi? Ini Penjelasannya

ringkasan

  • Daging merah dapat meningkatkan kolesterol LDL karena kandungan lemak jenuh yang tinggi, yang mengganggu kemampuan hati membersihkan kolesterol dari darah.
  • Senyawa L-karnitin dalam daging merah dimetabolisme menjadi TMAO oleh bakteri usus, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.
  • Dampak kolesterol diet dari daging merah minimal dibandingkan lemak jenuh; daging olahan lebih berisiko karena tingginya lemak jenuh dan natrium.

Fimela.com, Jakarta - Daging merah, seperti sapi, kambing, dan domba, merupakan sumber protein hewani yang kaya nutrisi penting seperti vitamin B12, zat besi, dan zinc. Namun, di balik manfaatnya, konsumsi daging merah, terutama dalam jumlah berlebihan, sering dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol tinggi dalam darah. Hubungan ini ternyata cukup kompleks, melibatkan beberapa mekanisme utama yang perlu kita pahami lebih jauh.

Lemak Jenuh, Biang Kerok Utama Kolesterol Jahat

Salah satu alasan utama mengapa daging merah dapat memicu kolesterol tinggi adalah kandungan lemak jenuhnya yang signifikan. Potongan daging yang lebih berlemak, dan terutama produk olahan, memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Lemak jenuh ini dikenal dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL (Low-Density Lipoprotein) dalam darah.

Mekanismenya cukup sederhana: lemak jenuh mengganggu kemampuan hati untuk membersihkan kolesterol LDL dari aliran darah. Akibatnya, kadar LDL menumpuk, meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Oleh karena itu, organisasi kesehatan seperti American Heart Association (AHA) merekomendasikan pembatasan asupan lemak jenuh hingga kurang dari 6% dari total kalori harian.

Peran L-Karnitin dan Bakteri Usus dalam Pembentukan TMAO

Selain lemak jenuh, daging merah juga mengandung senyawa bernama L-karnitin. Senyawa ini, saat dicerna, akan dimetabolisme oleh bakteri di dalam usus menjadi trimetilamina (TMA). TMA kemudian diubah di hati menjadi trimetilamina N-oksida (TMAO).

Penelitian menunjukkan bahwa kadar TMAO yang tinggi dalam darah terkait dengan peningkatan risiko pengerasan arteri (aterosklerosis), serangan jantung, dan stroke. Bahkan, pola makan yang tinggi L-karnitin dapat mendorong pertumbuhan bakteri yang memetabolismenya, sehingga meningkatkan produksi TMAO dalam tubuh.

 

Memahami Kolesterol Diet dan Daging Olahan

Daging merah memang mengandung kolesterol diet. Sebagai contoh, 100 gram daging sapi yang dimasak bisa mengandung sekitar 84 mg kolesterol, sementara daging domba bisa mencapai 89 mg. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa dampak kolesterol diet pada kadar kolesterol darah sebenarnya minimal, jauh lebih kecil dibandingkan pengaruh lemak jenuh.

Fokus utama yang perlu diperhatikan justru adalah daging merah olahan. Produk seperti sosis, bacon, dan hot dog cenderung memiliki kadar lemak jenuh dan natrium yang lebih tinggi. Daging olahan ini terbukti lebih berbahaya bagi kesehatan jantung dibandingkan daging merah segar tanpa olahan.

Pentingnya Pola Makan dan Gaya Hidup Menyeluruh

Dampak daging merah terhadap kolesterol dan kesehatan jantung tidak bisa dilihat secara terpisah. Ini sangat dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan, metode memasak, dan faktor gaya hidup lainnya.

Untuk mengurangi potensi dampak negatif, kita bisa memilih potongan daging merah tanpa lemak, seperti tenderloin atau sirloin. Membatasi porsi konsumsi juga sangat membantu. Selain itu, metode memasak sehat seperti memanggang, merebus, atau mengukus lebih disarankan dibandingkan menggoreng, karena dapat membantu menjaga kadar lemak tetap rendah.

Beberapa penelitian terbaru memberikan perspektif yang lebih nuansa. Sebuah studi tahun 2010 menunjukkan bahwa daging merah tanpa lemak, yang telah dipangkas dari lemak yang terlihat, mungkin tidak secara signifikan meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL-kolesterol.

Menariknya, sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa tidak ada bukti signifikan bahwa memilih daging putih daripada daging merah dapat mengurangi jenis kolesterol jahat yang terkait dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Ini menunjukkan bahwa kandungan lemak jenuh lebih penting daripada sekadar warna daging. Bahkan, meta-analisis tahun 2022 mencatat bahwa konsumsi daging merah meningkatkan kadar trigliserida serum, namun tidak secara signifikan mempengaruhi kolesterol total, LDL-C, atau HDL-C.

Dengan demikian, kunci untuk mengonsumsi daging merah secara sehat adalah dengan memperhatikan jenis potongan, metode pengolahan, porsi, serta keseluruhan pola makan dan gaya hidup kita. Moderasi dan pilihan yang bijak adalah kuncinya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading