Sukses

Update

Satgas Ingatkan Potensi Gelombang Ketiga Covid-19 RI di Akhir Tahun

Fimela.com, Jakarta Meredanya pandemi Covid-19 di Indonesia diyakini belum menjadi lampu hijau untuk masyarakat lepas waspada. Kepatuhan menjalankan protokol kesehatan dan menaati kebijakan Pembatasan Protokol Kesehatan Masyarakat (PPKM) tetap harus dilakukan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan potensi lonjakan kasus atau gelombang ketiga Covid-19 pada akhir 2021. Indonesia telah mengalami 2 kali lonjakan yang terjadi pada Januari dan Juli 2021.

Menurut Wiku, saat ini dunia tengah mengalami lonjakan ketiga, sehingga Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dengan mempelajari pola kenaikan kasus yang lebih lambat dari dunia.

"Saat ini, lonjakan Covid-19 terjadi negara lain, seperti India, Malaysia, dan Jepang. Maka, kita harus waspada dan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan, agar tidak menyusul lonjakan (gelombang) ketiga dalam beberapa bulan kedepan," terang Wiku di Media Center Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, (21/9/2021), dikutip Healthliputan6.com.

"Ini mengingat dalam 3 bulan ke depan, kita akan kembali memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru 2022,” lanjutnya.

 

Lonjakan Covid-19 Indonesia Bukan Karena Naiknya Kasus Global

Belajar dari gelombang kedua Covid-19 di di Indonesia pada Juli 2021, Wiku Adisasmito menekankan, hal itu tidak disebabkan oleh naiknya kasus global atau datang dari negara-negara lain, melainkan dari dalam Indonesia sendiri.

"Beberapa faktor internal penyebab kenaikan kasus Covid-1919 dan penyebaran virus Corona adalah meningkatnya mobilitas dan aktivitas sosial masyarakat yang terjadi bersamaan dengan periode mudik Idul Fitri serta sikap abai terhadap protokol kesehatan," jelasnya.

Artinya, umumnya peluang lonjakan Covid-19 dapat meningkat saat datang libur panjang dan pelaksanaan kegiatan besar di masyarakat dalam negeri.

Walaupun terdapat gelombang Covid-19 baru di beberapa negara lain di dunia, Indonesia juga perlu memperhatikan ancaman lonjakan kasus yang ada di dalam negeri akibat faktor yang khas ditemui di Indonesia.

"Misalnya, tradisi bepergian, berkumpul saat hari raya yang seringkali menyebabkan masyarakat abai protokol kesehatan. Namun, perlu diingat bahwa potensi kenaikan kasus dapat dihindari apabila kita tidak mengendorkan pelaksanaan kebijakan berlapis," Wiku menambahkan.

"Seperti akselerasi vaksinasi, pengendalian mobilitas dalam dan luar negeri, pengendalian aktivitas masyarakat dan menggalakkan upaya 3T (testing, tracing, treatment) dan 3M (mencuci tangan, pakai masker, jaga jarak)."

 

 

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Peneliti Ungkap Perempuan Ini Positif Covid-19 Terlama di Dunia Selama 335 Hari
Artikel Selanjutnya
Orang dengan Gangguan Suasana Hati Bisa Dapatkan Suntikan Ketiga Vaksin COVID-19