Sukses

Lifestyle

Tanda-Tanda Menopause Dini dan Ketakutan Sulit Memiliki Momongan Lagi

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Intan Puspita Dee - Cijantung, Jakarta Timur

Tahun baru, lembaran baru, itu artinya harapan baru membentang di depan mata. Entah itu mimpi-mimpi lama yang di tahun-tahun sebelumnya belum tercapai, atau sederet keinginan baru yang benar-benar baru terpikirkan di awal tahun 2019 ini.

Tentu saja semua itu tak ada artinya jika hanya menjadi tumpukan mimpi yang tak pernah terwujud. Lalu muncullah pertanyaan, kenapa belum terealisasi? Ternyata banyak faktor.

Pertama, kesibukan telah menggerus agenda resolusi yang panjang kali lebar sudah tertulis. Artinya tidak fokus, banyak alasan, angin-anginan. Kedua, waktunya belum tepat menurut perhitungan Tuhan. Dengan catatan, sudah memaksimalkan usaha serta doa. Artinya apa? Sebagai manusia yang beriman kita harus meyakini bahwasanya ada tiga hal yang harus digarisbawahi mengenai pengabulan doa; langsung dikabulkan, diganti dengan yang lebih baik, disimpan sebagai pahala.

Dengan begitu sebagai manusia biasa jika belum terwujud tidak lantas stres atau putus asa sehingga berhenti berharap. Intinya semangat terus. Tunjukkan kita pantas mendapatkan hadiah terindah dari Tuhan. Sebab sependek apa pun agenda resolusi kita tentu saja tidak lepas dari kasih sayang-Nya. Usaha saja tanpa doa itu sombong. Dan doa saja tanpa usaha itu menunjukkan ketidaksungguhan alias pemalas, tidak ada ACTION yang diusahakan. Caranya? Mulai saja dari yang terkecil, dari yang terdekat, dari yang bisa dilakukan.

Nah, aksi pertama yang saya lakukan adalah rutin olahraga selepas salat subuh. Iya, itu salah satu bentuk nyata yang paling mudah dan bisa dilakukan agar keinginan memiliki momongan kedua terwujud. Jika dari program hidup sehat dua di antaranya menjaga pola makan dan olahraga, yang paling sulit dilakukan untuk ukuran ibu rumah tangga biasa—lain halnya kalau selebritis yang kesadaran menjaga tubuhnya tinggi—olahraga paling malas dilakukan. Lho kok?

 

 

Jadi cerita awalnya begini, selepas resign dua tahun yang lalu saya memutuskan merintis usaha sendiri. Setelah tukar pikiran dengan suami akhirnya jatuh kesepakatan usaha es yang di sekitar daerah kami belum booming: ES MIE TELOR. Campuran sirup segar, pecahan es batu, jelly berbagai bentuk (mie, telor ceplok, telor puyuh, aneka binatang, dll), nata de coco, agar-agar, dan terakhir lelehan kental manis putih.

Pendeknya, terwujudlah niatan tersebut. Dengan pertimbangan masih punya putri yang berusia 2,5 tahun yang butuh perhatian, saya memutuskan tidak perlu menyewa kios. Gerobak es saya pajang di depan rumah. Dengan harapan memudahkan aktivitas saya yang merangkap sebagai ibu rumah tangga dan berjualan.

Namun seiring berjalannya waktu, ada masalah lain. Pekerjaan suami tidak lancar. Perusahaannya mengalami masalah keuangan yang cukup serius. Sehingga para karyawannya dirumahkan secara bergilir. Suami sendiri kebagian dua bulan. Setelah itu boleh kembali masuk dengan catatan gaji yang diterima tidak sebesar sebelumnya. Teman-teman seangkatan suami banyak yang mencari pekerjaan lain setelah masa dirumahkan selesai. Atas alasan itu suami memutuskan untuk tidak lagi mengabdikan diri di perusahaan yang sama meskipun sudah ditelepon berkali-kali agar bekerja kembali oleh atasan karena riwayat kinerja suami yang termasuk baik selama bekerja di sana.

Selanjutnya suami meneruskan pekerjaan barunya; mengojek online yang sudah ditekuninya selama masa dirumahkan. Dia bilang jenuh selalu bekerja di bawah perintah orang dan itu sudah dilakukannya semenjak sekolah. Suami bukan berasal dari keluarga mampu, ia harus menyambi bekerja agar tetap bisa sekolah. Hal ini juga yang menguatkan tekadnya tetap melanjutkan profesi yang dijalani sekarang supaya waktunya bisa diatur sendiri dengan maksud bisa turut merintis usaha kami. Sebagai istri saya sempat keberatan, tapi setelah dipikir-pikir mungkin saat ini memang inilah yang terbaik.

Tidak menerima gaji bulanan merupakan dunia baru bagi kami. Sangat sulit sekali menyimpan uang harian. Apalagi sebelumnya kami terbiasa memiliki pendapatan dari dua lubang yang langsung besar jumlahnya. Dampaknya kebutuhan tiap bulan terutama pampers dan susu anak menjadi lebih mudah terpenuhi.

Beda sekali dibandingkan sekarang. Bayangan mengojek online dengan hasil maksimal yang pernah terbayangkan tak sesuai saat sudah berada di lapangan. Mengingat motor suami sudah tua, belum matic, keluaran 2007. Kadang ada saja kendalanya. Kerap mogok kala hujan. Sehingga harus diservis dan sehari dua hari tidak 'narik'. Tentu saja berdampak besar untuk pemasukan sehari-hari. Belum lagi dagangan tidak selalu ramai. Untuk mengatasi hal tersebut kami tambahkan dengan berjualan makanan ringan dan minuman sachet yang praktis tinggal seduh.

Bulan demi bulan dilalui. Uang untuk orangtua masih rutin saya berikan tiap 30 hari sekali. Dengan situasi yang sebenarnya kami paksakan. Meskipun nominalnya tak sebesar ketika dua-duanya merasakan gajian. Padahal rumah tangga sendiri juga terdesak dengan kebutuhan sehari-hari terlebih lagi kami masih mengontrak. Dalam kondisi tabungan semakin menipis kami memberanikan diri ikut arisan yang bisa request dapat di awal demi membeli motor second bagi suami.

Apa yang terjadi? Semua tumpang tindih dalam pikiran. Belum lagi lelah mengurus pekerjaan rumah dan waktu yang tak bisa ditawar mengurus anak. Rasanya berlarian dengan waktu. Saat bermain di luar rumah, putri saya yang sangat aktif butuh pengawasan ekstra. Sambil menyuapi atau menjaganya bermain saya harus berbagi melayani pembeli. Lari sana lari sini. Sepertinya impian bisa tidur siang setelah resign tak bisa dilakukan dengan mudah.

Penyesuaian situasi dan kondisi yang berbeda sepertinya berpengaruh pada kesehatan saya. Selama gadis hingga di awal-awal menikah tak pernah menstruasi saya berantakan. Dulu teratur setiap 23-25 hari. Sekarang kadang sampai 30-40 hari baru haid. Lalu sempat hampir dua bulan tidak kedatangan tamu sama sekali. Test pack namun negatif. Akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke dokter kandungan. Bu dokter mengkhawatirkan takutnya ada kista atau miom. Apalagi melihat riwayat selama ini haid saya teratur. Untuk itu sampai USG demi memastikan. Bersyukur rahim saya sehat, tak ada kista maupun miom. Ia lalu menyarankan supaya saya tidak stres, jaga pola pikir, dan hidup sehat.

Meskipun beberapa bulan teratur kembali namun yang paling parah hampir empat bulan ‘sang tamu’ tak kunjung datang. Test pack negatif. Saya mulai uring-uringan. Mungkin darah kotor tak keluar badan rasanya pegal bukan main. Saya pun jadi mudah jatuh sakit. Kalau sudah begitu, suami libur ‘narik’ dan memilih menjaga saya, anak, dan dagangan. Sementara itu keuangan semakin sulit. Tibalah bulan di mana uang arisan tak bisa dibayar dan menyedihkannya lagi uang kontrakan belum terkumpul. Akhirnya saya harus menumpulkan malu meminjam ibu mertua.

Herannya dalam kondisi tersebut ada saja orang-orang yang asal bicara. Seperti bilang badan saya sudah kegendutan sehingga sulit hamil. Ada yang bilang umur saya sudah tua. Bahkan ada yang tega bilang mungkin saya mengalami menopause dini. Sementara ibu mertua mengharapkan saya hamil lagi dan semoga saja dikaruniai cucu laki-laki karena semua cucunya perempuan. Jujur saja saya tertekan sekali.

Padahal kalau dipikir-pikir berat badan saya belum parah-parah amat. Dengan tinggi 157 cm BB 57 kg sepertinya belum kategori gendut. Umur saya juga 33 tahun saat itu. Dan soal menopause dini, ini sebenarnya yang paling bikin saya ketakutan. Kalau iya bagaimana? Untunglah suami tak banyak menuntut, dia bilang bersyukur saja dengan keadaan sekarang. Jika hanya dikaruniai satu anak, itu sama sekali bukan masalah.

Sementara itu situasi keuangan yang semakin gonjang-ganjing menuntut kami harus mengambil keputusan yang tepat. Suami memilih melamar pekerjaan lagi. Dan tak sampai sebulan sudah langsung mendapatkan jalan. Meskipun kami harus mengutang sana-sini untuk menambal biaya hidup dan modal awal suami bekerja.

Berangkat pagi, pulang di atas jam delapan malam membuat gerak suami sangat terbatas membantu saya berdagang. Saya yang tak bisa naik motor harus minta tolong kakak untuk membeli kebutuhan jualan saya. Selain itu semua saya kerjakan sendiri. Mulai dari mencuci stoples-stoples, merebus gula, merebus air, menyiapkan keperluan bahan-bahan es mie telor, memajang makanan ringan, belum lagi selepas salat subuh harus langsung mencuci baju, piring, sampai menjemur. Meleset sedikit maka waktu akan berantakan.

Ditambah lagi saat berumur 3,5 tahun putri saya mulai sekolah Bimba. Di situlah kesibukan demi kesibukan seperti berlarian dengan waktu. Ketika malam tiba dengan sisa-sisa tenaga keinginan menulis atau sekadar membaca buku jadi terbengkalai begitu saja. Dan menstruasi pun masih dalam kondisi sama saja. Kadang jumlah darahnya sedikit, kadang banyak. Dan jumlah lama haidnya juga berantakan. Pernah tiga, tujuh, bahkan sepuluh hari. Dengung-dengung yang mengatakan saya sedang mengalami tanda-tanda menopause dini makin sering mampir di telinga. Lelah fisik dan hati membuat saya mudah menangis. Saya stres? Mungkin beradaptasi dengan dunia baru. Saya mengakuinya.

Akhirnya suami memutuskan supaya saya tak perlu berjualan lagi. Lebih baik mengurus anak saja dan mulai melakukan hal yang membuat saya bahagia. Toh, ia mengatakan masih sanggup menafkahi keluarga. Mungkin saya bisa mulai menulis lagi tambahnya. Dengan begitu siklus mentruasi saya bisa kembali normal.

Hampir dua tahun dan akhirnya usaha saya tutup. Ada rasa sesal. Tapi barangkali inilah kondisi terbaik saat ini. Ucapan suami ada benarnya. Apalagi kami masih mengharapkan momongan lagi. Seorang teman menyarankan ada baiknya segera hamil karena mendekati usia empat puluh tahun akan terasa lebih lelah dan ancaman keluhan lainnya bukan tak mungkin terjadi semisal saja darah tinggi.

Lalu ada satu masa saya banyak merenung dengan menambahkan ibadah sunah di luar yang wajib. Buku-buku yang jumlahnya sebanyak itu dan sebagian dibaca berkali-kali, mengapa teorinya menguap begitu saja? Harusnya saya tidak cengeng begini. Ini bukan saya. Pelan-pelan saya kembalikan kondisi psikologis saya. Lalu sudahkah saya hidup sehat? Mungkin ini teguran. Saya ikhlas, pasrah, menerima keadaan sekarang, dan harus mengusahakan sesuatu yang positif.

Dimulai dengan minum segelas air putih hangat ketika bangun tidur, lalu selepas salat subuh saya biasakan makan buah meski keseringan tomat dengan alasan masih terjangkau. Maklum saja meskipun suami sudah kembali gajian tapi keadaan ekonomi kami belum stabil, utang juga semakin menumpuk. Namun saya berusaha tetap tenang. Dan menyibukkan diri dengan kegiatan baik lainnya seperti berolahraga di pagi hari dan kembali menulis.

Biasanya hal mudah yang bisa dilakukan adalah memutari kompleks rumah. Tak perlu berat-berat. Cukup berjalan kaki santai sambil menghirup udara segar kuat-kuat dan menghembuskannya perlahan. Menyapa dengan senyum ramah kepada tetangga yang berpapasan. Lalu dalam hati terus merapal doa-doa, berzikir, atau ucapan syukur atas apa saja yang sudah teraih. Biasanya saya mengajak anak, dan tak lupa mengajaknya bercanda.

Ternyata saya mulai menyenangi kegiatan baru sebagai ibu rumah tangga sepenuhnya. Menemani anak bermain dan mengerjakan PR, rasanya bahagia sekali. Hal yang tak bisa saya nikmati seutuhnya saat masih menyandang status karyawan. Dan akhirnya mimpi saya bisa merasakan tidur siang kesampaian juga. Hidup teratur membuat badan lebih segar. Pengaruhnya sangat besar sekali untuk kesehatan. Siklus haid saya mengalami kemajuan. Tiap bulan saya kedatangan tamu meski memang per/30-35 hari sekali perputarannya. Semua itu menambah semangat saya. Kalau suami libur, kami olahraga sama-sama. Atau mendatangi tempat senam bersama di taman-taman.

Dengan keyakinan dan kemajuan seperti itu, saya merasakan kepercayaan diri untuk memberikan adik bagi putri kecil kami. Harapan saya di tahun 2019 ini semoga suami mendapatkan teman untuk salat jumat atau berjamaah di masjid. Ya, seorang bayi laki-laki yang sehat, gagah seperti ayahnya, dan sholeh. Tentu kami mengembalikan pada Tuhan Sang Pencipta. Laki-laki atau perempuan akan kami terima dengan lapang dada.

Dan kalau boleh meminta hal lainnya, karena masih mengontrak, kami mengharapkan bisa memiliki rumah sendiri. Syukur-syukur di tempat yang strategis untuk membuka usaha. Dan tak ketinggalan menyelesaikan utang-utang supaya kami bisa mengatur keuangan kembali dan memberikan uang bulanan lagi kepada orangtua. Setelah meminjam uang ibu mertua, kami tak sanggup lagi membahagiakan mereka dengan memberikan uang yang meski sebesar apa pun kami sadar tak bisa membalas jasa-jasa mereka semenjak kecil hingga kini. Namun setidaknya bakti kecil itu membuat kami lebih berarti menjalani hidup ini.

Ya, semoga saja.

;
Loading