Sukses

Lifestyle

Tidak Masalah Mengganti Prioritas karena Hidup Terus Berubah

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Nur Asiyah

Melepaskan sesuatu yang kita prioritaskan sekian lama adalah tindakan berat. Terlebih, kita memang tidak memiliki posisi yang baik untuk bisa memilih. Setahun lalu, aku melepas pekerjaan impianku yakni menjadi seorang guru dan mengubah diri menjadi seorang ibu rumah tangga. Sejak kecil aku begitu menginginkan sosok yang dapat menebar ilmu dan dipanggil dengan sebutan ibu guru. Seperti mendapat sebuah keajaiban sihir, aku merasa begitu berarti terhadap jabatan dan sebutan itu.

Aku menyukai sastra sejak di bangku sekolah. Berpatokan pada hal tersebut, akhirnya aku mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di sebuah kampus negeri. Pendidikan itu kutempuh dengan lancar dan aku mendapatkan gelar sarjana. Tidak perlu menunggu lama, aku melamar kerja di sebuah sekolah.

Awalnya aku merasa pesimis karena ada beberapa kandidat yang lebih unggul. Namun, pada akhirnya aku diterima untuk mengajar. Di sana, aku mengajar sesuai dengan apa yang telah aku pelajari selama ini. Uniknya, di sana aku merasa menjadi seorang guru sekaligus murid. Mengapa? Aku menjadi guru karena aku membagi ilmu yang telah kudapatkan kepada siswa. Lalu, aku merasa menjadi seorang murid karena aku mendapatkan begitu banyak pelajaran dan pengalaman dari lingkungan yang kental akan agama serta kekeluargaan.

Selama mengajar, aku juga berusaha membuka sesuatu yang baru di lingkungan tersebut. Aku membuat ektrakurikuler jurnalistik dan sastra hingga beberapa siswa dapat membuat buku kumpulan cerpen. Aku juga membimbing beberapa murid untuk berkompetisi di bidang kepenulisan dan berhasil membawa pulang penghargaan. Bersama semua pencapaian itu, aku merasa begitu bahagia. Lalu, kenyataan mulai menghantam ketika aku harus menikah.

Prioritas Baru setelah Menikah

Sesuai perjanjian lama yang telah mengikat, aku keluar dari zona nyaman menuju tempat asing. Usai menikah aku mengikuti suami untuk pindah ke Surabaya. Awalnya, aku pikir semua akan baik-baik saja. Aku bisa mencoba melamar pekerjaan dalam bidang yang pas di tempat baru. Namun, takdir berkata lain. Sebulan setelah penikahan aku mendapatkan dua garis merah yang menandakan sebuah janin. Sejak itu juga harapanku untuk bekerja pupus. Suami telah mengetuk palu. Untuk sekarang aku harus di rumah, menjadi istri sekaligus ibu.

Bagaimana rasanya jika jadi aku? Seorang perempuan yang sering berada di luar dan berinteraksi dengan banyak orang, kini berada di dalam rumah dan mencoba mencari kesibukan sendirian. Perasaan tidak adil dan putus asa sering menyerang. Merasa bahwa semua yang terjadi bukanlah sesuatu yang benar. Namun, pikiranku kembali jernih saat memandang sebuah buku merah muda yang bertuliskan Buku Kesehatan Ibu dan Anak.

Aku di sini bukan hanya untuk diriku sendiri. Terlalu jatuh karena kecintaan pada jiwa pribadi malah membuat diri ini terluka. Aku bisa mencintai diriku dengan mencintai apa yang aku miliki sekarang, termasuk malaikat kecil yang ada di perut. Dahulu aku telah bahagia terhadap jalan yang kupilih. Sekarang pun, seharusnya aku bisa merasakan hal yang sama.

Tentu saja prioritas dalam hidup dapat berubah. Bukan berarti yang lalu telah menghilang tanpa jejak. Hanya saja sedikit bergeser dari posisi dan kemungkinan bisa diwujudkan di lain hari. Tidak masalah, karena semua yang kita hadapi akan menjadi bumerang tajam jika kita hanya mampu terpuruk dan menangis. Alangkah baiknya dihadapi dengan penuh lapang dada dan rasa percaya diri. Di mana pun kita berpijak sekarang, ingatlah selalu untuk mencintai diri sendiri. Tindakan itu tak hanya memiliki satu jalan dan kesempatan. Namun, berjumlah jutaan dan jika kita menemukannya satu saja, kita bisa mengembangkan hal tersebut lebih dalam.

Jadi, jangan lupa untuk bahagia! Jangan lupa untuk lebih mencinta apa yang kita punya!

#ChangeMaker

Loading
Artikel Selanjutnya
Cegah Penularan Virus Corona, Operasi Transportasi Publik di Jakarta Dibatasi
Artikel Selanjutnya
Cara Menetralkan Rasa Getir Aloe Vera dalam 4 Langkah