Sukses

Lifestyle

Ketika Sudah Lelah Memaafkan, Perpisahan Mungkin Jadi Solusi Terbaik

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Rullita Dwi

Saya adalah ibu rumah tangga dengan tiga anak. Sudah 20 tahun saya menikah, dan selama itu juga, saya baru menyadari sekarang, bahwa saya hanya berusaha pura-pura bahagia dengan pernikahan ini. Suami saya adalah orang yang telah memadamkan karakter saya, merendahkan harga diri saya, dan menjadikan saya orang yang tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Kenapa demikian? Karena selama 20 tahun pernikahan saya, sudah berkali-kali suami saya menyakiti dan mengkhianati saya.

Sebenarnya suami saya adalah orang lembut, perhatian, dan tidak pelit dalam memberi nafkah. Tetapi dia adalah seorang pengecut, tapi senang membuat masalah. Dari awal pernikahan kami, puluhan kali suami saya berganti usaha. Sukses sebentar bangkrut kemudian. Sering kali saya dan anak-anak menjadi susah karena kelakuan suami.

Setiap kali usahanya sukses, selalu berakhir dengan selingkuh. Seakan dia haus akan sanjungan dan pujian. Padahal saya selama itu juga menutupi semua kelakuan suami saya, dengan sering menceritakan kepada orang tua kami betapa bahagianya saya, betapa hebatnya suami saya. Tapi itu ternyata belum cukup untuk suami saya. Dan ketika dia terlibat masalah, selalu menyalahkan saya. Selalu bilang kalau saya tidak pernah mendukung suami. Ketika saya tanya dukungan seperti apa, dia tidak bisa menjawab.

Selama ini doa saya untuk dia tak pernah putus, dia pergi ke mana pun selalu saya siapkan keperluannya. Sampai ketika silih berganti perempuan datang meminta petanggungjawaban suami saya, saya juga yang harus menjelaskan pada mereka. Kemana suami saya? Dia bersembunyi seperti anak kucing yang ketakutan. Setelah itu dia pasti akan sujud mencium kaki saya dan berkata menyesal. Saya bertanya apa yang kurang dari saya, suami saya selalu bilang saya terlalu perfect untuk dia.

Lelah Memaafkan

Berkali-kali saya maafkan, sampai pada titik saya sudah lelah memaafkan, saya sudah lelah berjuang. Dulu saya bertahan demi anak-anak, tapi sekarang dengan keadaan seperti ini. Anak-anak yang menjadi korban. Saya pandang tubuh saya di cermin, saya menangis. Sebegitu buruknya saya, sampai suami saya tega menyakiti saya secara mental. Lalu saya hapus air mata saya, saya berkata pada diri sendiri, saya punya banyak kelebihan. Saya punya pendidikan tinggi, pernah bekerja di perusahaan yang bonafife, mungkin tidak sulit mendapat pekerjaan dengan pengalaman saya, dan di usia yang sudah tidak muda lagi masih banyak yang menyangka saya masih muda. Begitu banyak kelebihan yang Allah berikan untuk saya, saya menyembunyikannya karena saya berusaha menghargai suami saya.

Akhirnya saya memantapkan diri, saya harus melepaskan diri dari belenggu suami saya. Walaupun sampai sekarang suami tidak pernah mau menceraikan saya. Tapi tidak apa, saya tunggu waktu saja. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Saya harus mencintai diri sendiri, agar saya dapat bahagia. Karena hal itu sangat penting, dalam membentuk kembali karakter saya, hidup saya ada ditangan saya.

Dengan kembalinya diri saya, saya bisa bahagia dengan keadaan saya, bahagia bersama anak-anak saya. Saya meyakinkan terus diri saya, agar saya terus memupuk rasa percaya diri. Sulit memang, saya sempat putus asa. Tapi saya kembalikan semua ke dalam hati saya, untuk terus mencintai diri sendiri dan berdamai dengan masa lalu. Selalu bersyukur untuk semua hal kecil yang saya dapat, selalu berusaha berpikir positif dan tentunya berdoa pada Allah. Saya sangat berharga unuk anak-anak saya, saya harapan mereka untuk selalu bahagia. Jadi, jangan takut untuk memulai sesuatu, mulailah dengan mencintai diri sendiri. Karena itu akan merubah jalan hidupmu menjadi lebih baik. Semoga bermafaat.

#ChangeMaker

Loading
Artikel Selanjutnya
5 Tips Minum Kopi Tetap Nikmat dan Sehat Selama Social Distancing
Artikel Selanjutnya
Ada Kalanya Pura-Pura Bahagia Tak Membuat Keadaan Lebih Baik