Sukses

Lifestyle

Suami Reaktif Rapid Test Covid-19, Kewarasanku Diuji

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Waritsa

Siapa yang menyangka ketika diri serta keluarga sudah berusaha mengantisipasi untuk mencegah penularan Covid-19, ternyata tak selamanya berhasil? Masih segar di ingatan, suamiku yang juga ayah dari dua puteri lucu dan menggemaskan ini mendapati hasil reaktif ketika lakukan rapid drive thru diadakan oleh kantornya.

Kamis, 16 Juli 2020, menjadi momen bersejarah bagi kami sekeluarga. Kala itu sekira pukul 13.00 WIB, seharusnya suami pergi bekerja namun seperti ada perasaan berat untuk berpisah dengan saya dan anak-anak, ”Say, kayaknya aku nggak masuk deh hari ini,” ucapnya sambil kuiyakan saja karena memang dirinya seperti sedang dilanda hari-hari yang berat jadi mengambil satu hari pun tak mengapa mungkin bisa menghapus kelabu di hatinya.

Akan tetapi, saat berada di kamar, saya mendengar telepon genggam suami berbunyi. Sekelebat ia pun keluar dan menyapa pria di ujung sana yang menghubunginya. Dalam hitungan menit, saya mendapat pesan singkat dari suami.

“Say, hasil tes rapid aku reaktif,” tulisnya.

Rasanya saya seperti ditimpa batu besar di pundak saat membacanya. Berusaha menenangkan diri, saya pun membalas, ”Wah? Terus apa yang harus kita lakukan?” tanyaku sekalian.

“Aku akan isolasi mandiri di kamar yang kosong, lalu esok akan melakukan test SWAB untuk kepastiannya,” balasnya yang sudah berada di kamar tersebut tanpa membuat suasana heboh.

Dengan berbekal beberapa informasi mengenai isolasi mandiri yang bertebaran di lini massa, saya pun bergegas memberitahu orangtua yang saat itu hanya ada ibu atau nenek dari anak-anak, kemudian mempersiapkan baju serta kebutuhan lain yang suami inginkan.

Si sulung yang sudah mengerti keberadaan ayahnya pun secara perlahan kuberitahu walaupun hanya sekadar ingatan minim anak usia tahun. Ya, yang harus kujaga kali ini banyak yaitu orangtua maupun anak-anak yang masuk kategori rentan dalam virus ini.

Jumat, 17 Juli 2020, sebagaimana janjinya, suami pergi meninggalkan rumah untuk melakukan test SWAB, yang kembali diadakan oleh kantornya. Saya tidak bisa menyalahkan diri sendiri maupun suami karena sudah berusaha semaksimal mungkin menjaga diri.

Suami yang berprofesi sebagai jurnalis pun sama, dirinya sudah meminimalisir kontak, menggunakan masker, pakaian panjang, cuci tangan, hingga tak akan melakukan kontak fisik kecuali sudah mandi, mencuci baju saat pulang ke rumah. Tapi, apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur dan mungkin ini jalan Allah untuk keluarga kecil kami.

Saya pun tak bisa menyalahkan profesi suami karena memang ini sudah menjadi risiko. Bahkan, mungkin jika saya pun masih bertugas bisa jadi akan berada di posisi yang sama seperti suami. Saya mengerti sekali dengan berbagai keadaan serta kemungkinan terburuk bagi para jurnalis di sana terutama saat pandemi ini.

Sabtu, 18 Juli 2020, suami yang isolasi mandiri guna menghibur selain dengan tontonan YouTube, saya kerap melakukan video call dengan harapan agar dirinya tak terlalu dirundung pilu karena merasa ada di satu rumah namun tak bisa berinteraksi sebagaimana mestinya.

Entah mengapa, si sulung menyadari keberadaan Ayahnya. Sehingga, pada hari ini, tangisan Ia pun pecah.

“Ayah! Ayah! Ayah!” teriaknya sembari berusaha membuka tuas pintu kamar tempat suami melakukan isolasi mandiri. Sesekali saat teriak, ia melihat kepadaku mungkin kalau bisa mempertanyakan, ”Kenapa Ayah ada tapi aku tidak bertemu?”

Saya pun langsung membawa si sulung pergi menjauh. Entah perasaan apa yang suami rasakan di balik pintu itu mendengar gadis kecilnya menangis memanggil namanya. Pastinya berat dengar raungan yang biasanya tak terhalang apapun, menggendong sesuka hati hingga bercanda riang dengan kontak fisik bersama.

Rasa Cemas

Minggu,19 Juli 2020, tiap paginya selama suami melakukan isolasi mandiri, saya mempersiapkan sarapan di pagi buta untuk dirinya maupun kami yang berada di luar. Sebenarnya, hal ini biasa saja namun yang biasanya ketika suami ada, dirinya sigap membantu termasuk menjaga anak-anak. Oh, ya kelelahan mulai menderu saya.

Malam harinya, tiap saya melakukan pekerjaan. Entah kenapa saya mendapatkan efek psikomatik yaitu demam, batuk, dan pilek. Perasaan kalut langsung menjadi pikiran, ”Bagaimana kalau saya juga kena? Bagaimana dengan anak-anak? Apakah saya harus berpisah dengan mereka? Lalu, bagaimana cara menyusui bayi kecil kami?” pikirku tiap malam selama suami isolasi mandiri.

Rasanya tak karuan dengan efek psikomatik itu. Tak lupa, saya pun merasakan sesak napas. Benar-benar mengganggu tidur nyenyak.

Senin, 20 Juli 2020, menjadi hari yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Sesuai dengan perkataan tim medis yang melakukan SWAB suami, hari ini menjadi hari ketiga dan akan keluar hasilnya entah positif atau negative.

Saya hanya bisa pasrah dan kembali melakukan aktivitas seperti biasa dengan protocol kesehatan yang ketat. Saya hanya ingin hari-hari cepat berlalu. Hingga tiba pada siang harinya, tepat saya dan anak-anak tertidur, sayup-sayup suami memanggil dan mendatangi kami.

“Sayang, aku negatif!” sambil memeluk dan mengecup kening saya. Saat itu juga saya meminta untuk sujud syukur karena cobaan ini benar-benar menguji kewarasan saya. Ya, saya tidak boleh menyerah karena ada beberapa nyawa yang bergantung tapi di sisi lain saya pun mulai merasakan efek tak mampu untuk bergerak efek sendu yang tak saya perlihatkan kepada siapapun di rumah.

Dari sini, saya sadar bahwa kewarasan saya tidak seberapa dibanding pasien yang benar positif, keluarga medis, hingga yang ditinggalkan oleh virus ini. Saya menjadi satu yang beruntung dari ribuan orang di sana. Suami saya pun termasuk yang masih beruntung.

Tapi, negatif kali ini bukanlah waktu untuk lengah bahkan kami pun semakin memperketat diri berjaga-jaga untuk menghindari hal ini terulang kembali di lain kesempatan. Jaga jarak, pakai masker, hindari keramaian, ikuti semua protokol kesehatan. Tampaknya, tak perlu berada di posisi saya, pasien, tenaga medis, hingga keluarga yang ditinggalkan untuk merasakan kejadian yang sama dan percayalah saat ini benar adanya dan genting keadaannya.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
7 Alasan Pria Mulai Kehilangan Rasa Tertarik dalam Hubungan Cinta
Artikel Selanjutnya
Selain Mudah Jatuh Cinta, 5 Zodiak Ini Juga Mudah Mengalami Patah Hati