Sukses

Lifestyle

Menilik Romantisme dan Unsur Budaya di Dieng Culture Festival

Fimela.com, Jakarta Welcome to Dieng. Gapura melengkung itu mengucapkan selamat datang pada ribuan, bahkan mungkin puluhan ribu pelancong yang sengaja datang untuk turut larut dalam festival budaya anual di tanah tinggi di Jawa. Ya, apa lagi kalau bukan Dieng Culture Festival (DCF).

Kembali memeluk tubuh, sudah pagi begini masih saja angin dingin sisa semalam berhembus. Bukan untuk mengusir, tapi bisa saja itu caranya untuk menyambutmu di wilayah yang memang dikenal punya suhu beku ini. Berjejal dengan pelancong lain dengan backpack penuh di punggung, perjalanan menuju homestay maupun camping ground biasanya sudah akan sangat ramai.

Jadi, datang siang di hari pertama festival tentulah tak disarankan. Seperti yang mungkin juga sudah kamu sadari, DCF adalah salah satu perayaan tahunan yang selalu ramai didatangi pelancong, khususnya muda-mudi, dari berbagai wilayah, baik dalam maupun luar negeri. Karena mengundang antusiasme yang demikian tinggi, menilik peringatan ini dari ragam aspek kiranya menarik untuk dilakukan.

Mari mulai dari sisi budaya! Tak meninggalkan namanya, unsur budaya di festival ini memang dideklarasikan sebagai agenda inti. Yang dimaksud, yakni prosesi pemotongan rambut gimbal anak gembel yang biasanya dilakukan di kompleks Candi Arjuna.

Tahapan ritual ini biasanya dimulai dari kirab anak gembel dan kirab budaya di rumah pemangku adat, upacara jamasan anak rambut gembel di Sasana Dharmasala, Kompleks Candi Arjuna, dan ditutup dengan upacara pencukuran rambut anak gembel.

Dieng Culture Festival, Dieng, Jawa Tengah. (Sumber Foto: almasafrr/Instagram)

Merupakan adat turun temurun bagi masyarakat Dieng. Anak berambut gembel dianggap bisa membawa musibah, tapi bila diruwat malah akan mendatangkan rezeki. Ruwatan ini mesti dilakukan tanpa paksaan. Jadi, jangan heran kalau kamu melihat ia datang bersama barang-barang yang jadi 'syarat'. Bila anak berambut gembel dicukur tanpa melakukan ruwatan, rambut gimbal bisa tumbuh lagi dan membuat si anak sakit-sakitan.

Meski acara inti dari festival ini baru dilaksanakan di hari terakhir, namun sentuhan budaya sebenarnya sudah bisa dirasakan sejak hari pertama. Ragam tetarian dan pertunjukan seni tradisional lain sering kali disisipkan di antara agenda festival yang cukup padat.

Romantisme di Sekitar 2.000 Mdpl

Cukup dari sisi budaya. Dieng Culture Festival juga sering dikaitkan dengan romantisme. Apalagi kalau bukan soal pertunjukan kembang api dan pelepasan lampion. Melihat titik-titik cahaya menggores pekat langit malam Dieng kiranya bisa jadi satu memori tak terlupakan.

Berselimut udara pegunungan yang bisa sampai demikian beku di malam hari, hangat dari ribuan lampion di tanah nan lapang merupakan satu bingkai akan panorama Dieng, di mana tentu kamu ingin dengan baik tetapkan diingatan.

Dieng Culture Festival, Dieng, Jawa Tengah. (Sumber Foto: benzoitubejo/Instagram)

Terlepas dari padanya, Dieng memang romantis secara alami. Jalan-jalan meliuk dengan bukit di kanan-kiri, hamparan sawah dengan polasedemikian rupa, juga tebal samudra kabut di pagi hari, semua berpadu menyulam definisi romantis Dieng.

Wajar bila akhirnya tempat ini, khususnya ketika Dieng Culture Festival tengah berlangsung, jadi destinasi incaran para pasangan yang ingin melakoni perjalanan bersama-sama. Nggak percaya? Coba kamu buktikan sendiri dengan datang ke DCF tahun depan!

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading