Sukses

Lifestyle

Hidup Lebih Tenang saat Berhenti Membandingkan Diri di Media Sosial

Fimela.com, Jakarta Kita semua pasti pernah merasakan perasaan tak nyaman seperti rendah diri, sedih, kecewa, gelisah, dan tidak tenang dalam hidup. Kehilangan rasa percaya diri hingga kehilangan harapan hidup memang sangat menyakitkan. Meskipun begitu, selalu ada cara untuk kembali kuat menjalani hidup dan lebih menyayangi diri sendiri dengan utuh. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Bye Insecurities Berbagi Cerita untuk Lebih Mencintai dan Menerima Diri Sendiri ini.

***

Oleh:  Rahayu Putri

Sahabat Fimela pasti tidak asing dengan media sosial. Platform digital ini banyak digunakan oleh penggunanya untuk membagikan momen yang mereka alami atau sekadar berbagi bermacam quotes yang menurut mereka relatable dengan hidup mereka. Namun, kenyataannya berbagi hal itu secara tidak langsung bisa menyakiti orang lain.

Pemikiran seperti, "Temanku sudah liburan nih, aku kapan?"

"Dia sudah berpergian dengan pasangan idamannya, aku kapan?"

"Wah, dia sudah berpergian ke luar negeri, pergi keluar kota saja aku jarang."

"Sungguh beruntung ya dia, sedangkan hidupku begini-begini saja."

"Kenapa ya temanku sudah punya banyak pencapaian dan hidupnya baik-baik saja, sedangkan aku memiliki hidup dengan penuh cobaan."

"Jangankan pacar, laki-laki saja tidak ada satu pun yang mendekatiku. Haruskah aku mengubah penampilanku seperti kebanyakan perempuan ini?"

Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan ketika aku sendiri melihat bermacam unggahan temanku di media sosial.

Perasaan bersalah, marah, tidak layak, mulai menyalahkan keadaan, mencari standar baru dari orang-orang lain, dan tentunya tidak bersyukur mengantarkanku kepada rasa insecure. 

 

Membandingkan Diri

Pertama kali berkenalan dengan rasa insecure menjadikanku membenci cermin. Aku menjadi tidak suka bercermin, karena merasa bahwa kenapa aku bercermin jika wajahku saja tidak aku poles sama sekali.

Tidak menyukai make up menjadikanku tidak pernah memiliki produknya dan tidak juga menggunakannya. Masalah lain adalah, aku juga tidak punya dana khusus untuk membelinya, skincare pun aku hanya memakai facial wash dan pelembab. Jadilah aku membenci ketika aku bercermin. 

Hal kedua yang terjadi setelah aku berkenalan dengan insecure adalah tidak menyukai pakaianku. Pakaikan yang kumiliki adalah kemeja, kaos, celana kain panjang dan pendek. Pakaian yang kumiliki ini menjadikanku merasa tidak percaya diri ketika melihat teman-temanku yang selalu memakai pakaian dengan model kekinian dan tidak pernah memakai pakaian yang sama ketika kita bertemu dan juga unggahan yang mereka muat di akun media sosial mereka. Sekali lagi aku menjadi tidak suka barang yang aku miliki dan merasa kurang dengan apa yang ada. 

 

 

Berdamai dengan Diri Sendiri

Terakhir, rasa insecure menjadikanku tidak suka bersosialisasi. Love hate relationship yang kujalin dengan insecure ini memunculkan toxic relationship yang berujung menyakiti diriku. Aku yang biasanya bisa berkumpul dengan temanku tanpa khawatir apa pun dan sering berpergian bersama, tiba-tiba menjadi seseorang yang tidak suka keluar rumah dan merasa tidak layak jika pergi keluar rumah.

Aku merasa jika aku keluar rumah dengan apa yang aku punya ini maka aku tidak akan dihargai. Aku menghabiskan dua tahun berdiam diri di rumah dan sesekali bertemu temanku yang memang aku merasa bahwa mereka tidak akan menghakimi. Hubungan yang telah kujalin dengan insecurities ini sudah mencapai puncaknya. Hidupku direnggut dan aku pun secara sukarela menyerahkannya. 

Tidak ada siapa pun yang salah ketika hal ini terjadi. Semua ada mulanya dan tugasku sekarang adalah menyelesaikannya. Aku yang bisa mengakhiri ini semua, dan aku juga yang bisa membuat rasa insecure pergi dari hidupku.

Tidak banyak yang kulakukan, tapi aku berharap hal kecil ini yang membuatku kembali mencintai driku sendiri. Aku awali dengan meluangkan waktu setiap harinya untuk mensyukuri apa yang yang terjadi di hidupku ketika doa pagi dan petang.

 

Menyudahi Rasa Insecure

Aku harus sadar bahwa ini semua adalah berkat dari Tuhan dan aku harus bersyukur karena mendapatkannya. Kemudian dengan mulai belajar lagi bercermin dan melihat sisi positif apa yang aku miliki.

Perkataan sederhana seperti, "Rambutku hari ini sangat lembut, aku akan lebih merawatnya."

"Wajahku hari ini sangat bersih dan aku terlihat cantik memakai baju ini."

"Tidak berpergian dengan make up tidak dilarang di negara ini jadi kenapa aku harus memakai make up?"

"Besok aku akan membeli obat jerawat untuk merawat wajahku, jerawat ini muncul mungkin karena aku kurang tidur dan makan makanan sehat. Aku harus merubah pola hidupku."

Hal-hal seperti itu menjadikanku lebih bersyukur dan memiliki rencana untuk hari esok. Hal ini membuatku lebih bersemangat untuk menikmati hari ini dan menyambut hari esok. 

Perihal pertemanan, aku mulai dengan meyakinkan diriku bahwa kita harus berteman kepada semua orang, perlihatkanlah kesabaran dan keramahan, selalu berkata jujur karena berkata jujur adalah dasar dari segala kebajikan manusia, dan ucapan yang penuh kasih sayang bagaikan magnet bagi kalbu-kalbu manusia harus terus aku terapkan untuk menjadi teman yang baik bagi siapa pun.

Aku mencoba untuk lebih santai menghadapi pemikiran ini dengan meyakinkan diriku bahwa masih banyak orang di luar sana yang siap berteman dan menjadi sahabat bagi siapa pun tanpa melihat brand baju yang mereka pakai, jenis lipstik apa yang mereka beli, dan sepatu merek mana yang dipakai. 

Ternyata mencintai diri sendiri juga butuh usaha. Namun, ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Aku merasa lebih selektif saat memilih apa yang akan lihat, ikuti di media sosial, dan relasi yang kubangun.

Meskipun sedikit sulit tapi hal ini membantuku lebih dewasa dalam menghadapi hal-hal yang menghampiriku. Ketika aku sudah siap dan bisa mencintai diriku sendiri maka aku juga bisa membantu yang lain untuk menghakhiri toxic relationship mereka dengan insecurities.

Meski sulit, tapi ini bukan hal sulit untuk dilakukan. Aku juga yakin akan ada orang yang mencintai diriku dan memperlakukanku dengan layak jika aku bisa melakukan hal ini juga maka aku pasti bertemu orang yang layak untuk berjuang bersamaku. 

#WomenforWomen

What's On Fimela
Loading