Sukses

Parenting

Ajari Anak Kesadaran Gender Melalui Pendidikan Budaya Patriarki

Fimela.com, Jakarta Patriarki adalah sebuah sistem sosial dimana laki-laki lebih mendominasi peran sebagai pemegang kekuasaan yang utama. Budaya patriarki sendiri bertentangan dengan ideolgi feminisme yang bertujuan untuk menentang dominasi laki-laki dengan memperjuangkan kesetaraan gender. Di dalam rumah tangga, dominasi peran antara ayah atau ibu sering kali mengajarkan pada anak tentang gender. 

Hal ini lah patut menjadi perhatian bagi para orang tua agar anak - anak dapat tumbuh sesuai dengan kadar nya masing - masing. Faktanya, dilansir dari mother.ly, Rabu (30/10/2019), ada tiga cara khusus yang tidak disadari banyak ibu dan ayah dalam memelihara budaya patriarki dan upaya membentuk anak agar sesuai dengan peran laki-laki atau perempuan yang telah ditentukan.

1. Gaya Bicara

Ketika anak perempuan bertindak atau berperilaku dengan cara yang dianggap agresif kita merasa hal tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang perempuan, maka kita sering kali menegurnya. Memberi tahu mereka untuk bersikap baik dengan mengatakan "Gadis yang baik tidak berbicara seperti itu" atau "Perempuan tidak boleh memukul". Secara konsisten anak perempuan mendapatkan pesan bahwa bersikap keras, fisik, atau konfrontatif tidak seperti seorang perempuan yang seharusnya dalam berperilaku.

Makna perempuan cenderung diartikan lebih kecil, lebih tenang, lebih pendiam, lebih menerima bahkan jika orang lain mengambil mainan mereka, menarik rambut mereka, atau menyentuhnya tanpa izin. Ketika anak-anak perempuan kita berbicara untuk melakukan pembelaan pada diri sendiri, sering kali para orang tua ceroboh dengan menyebut mereka egois, lancang, atau bermulut pintar tanpa menyadari bagaimana kritik dan rasa malu kita sering membuat mereka menutupi emosinya dan memilih untuk bungkam agar tetap dinilai sebagai anak yang nurut pada orang tua.

Sementara orang tua mengatakan sebuah pesan untuk bersikap baik dan jangan memukul yang tidak jauh berbeda dengan anak perempuan kepada anak laki-laki. Namun itu lebih jarang terjadi dan akan berkurang ketika anak laki-laki terus tumbuh karena kita sebagai orang dewasa percaya bahwa "Anak laki-laki harus menjadi laki-laki yang seharusnya".

Keyakinan ini membawa dampak pada persepsi anak bahwa anak laki-laki pada dasarnya agresif dan hanya bisa luluh atau nurut pada orang tua nya. Sebagai orang tua kita memberi tahu anak laki-laki untuk tidak membiarkan orang lain "mendorong mereka" dan spontan memberi selamat kepada mereka ketika mereka menunjukkan ketangguhan dan keberanian mereka dalam bidang olahraga misalnya.

Para orang tua membesarkan anak laki-laki sebagai seorang pahlawan yang gagah dan mengharapkan mereka untuk "tidak pernah berhenti" atau menyerah. Dengan demikian, anak laki - laki, sejak usia sangat muda, diharapkan lebih dominan dan anak-anak perempuan di harapkan lebih patuh.

Penyimpangan dari "norma-norma" seperti ini membuat anak-anak sadar bahwa mereka mau tidak mau menyerap keyakinan tentang bagaimana seharusnya anak laki-laki dan perempuan dalam berperilaku.

Kampanye #MeToo bisa ditanamkan sejak dini, bahkan saat anak laki-laki diperbolehkan memakai warna merah muda dan anak perempuan dapat bermain dengan truk, karena pesan utama yang didapat anak-anak berdasarkan perilaku mereka adalah bahwa sebuah hal yang normal jika sosok laki-laki untuk mendominasi dan sosok perempuan untuk didominasi.

 

2. Membedakan "Kekuatan" dan "Paksaan"

Anak laki-laki sering kali di tuntut untuk tumbuh menjadi anak yang kuat, berani, tidak mudah menyerah dan opini semacam ini kerap membuat para orang tua memperlakukan anak laki-laki sedikit keras dibandingkan perempuan. Perbedaan cara mendidik antara anak laki-laki dan perempuan ini bisa membuat mereka percaya bahwa wajar bagi orang-orang yang mencintai kamu untuk menyakitimu (atau untuk kamu menyakiti orang yang kamu cintai).

Anak laki-laki belajar bahwa sebagai dominator itu merupakan tugas mereka untuk menerapkan kekuatan. Para anak perempuan pun menyadari posisi mereka bahwa tuntutan anak yang harus menurut adalah peran mereka untuk menerima posisi yang tunduk.

 

3. Membawa perubahan dari sistem yang ada

Kita tidak dapat membawa perubahan sampai kita memiliki keterlibatan sendiri dalam menopang sistem yang ada. Terbukti dari sifat laki-laki yang keras dan perempuan yang cenderung lemah lembut mampu menyeimbangi kehidupan antar gender ini. Menyemibangkan hak dan kewajibannya sejak dini bisa menjadi cara orang tua untuk mengajarkan kepada anak dalam menentang budaya Patriarki.

Terbukti dari stigma tentang "Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, akhirnya hanya di dapur saja" ini bisa perlahan menghilang dari benak masyarakat. Hal ini juga di dorong dari keterbukaan pola pikir seiring berjalannya waktu.

Apalagi, sudah banyak sekali pemimpin-pemimpin perempuan dengan berbagai kemampuannya yang mampu membuktikan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki porsi yang sama dalam memperjuangkan hak mereka. Di sini orang tua bisa menjadi agen perubahan untuk budaya radikal serta di tuntut untuk mampu mengubah pola asuh nya kepada anak-anak.

#GrowFearless with Fimela

 

Daftarkan dirimu di sini untuk mengikuti berbagai kelas inspiratif di FIMELA FEST 2019! 

Loading
Artikel Selanjutnya
Jelang Liburan Akhir Tahun, Intip 50 Inspirasi Mainan Sebagai Hadiah untuk Anak
Artikel Selanjutnya
FIMELA FEST 2019: Aktivitas Bermain Anak Tetap Seru Walau Hujan